Tags

, , , ,

cover

Title : Jebal, Look at Me!
Author : taemfairy
Main Cast : Im Yoonri
Support Cast : Choi Minho, Lee Taemin, Choi Sulli, Im Yoona
Length : Sequel
Genre : Friendship, Family, Romance, Humor(?)
Rating : General
A.N : if you found the same title on other wordpress with author Choi Yoonri it still mine ok ^^ Choi Yoonri is my Korean name ^^
Happy Reading ^^

Part 1

Yoonri POV

“Yoonri agasshi ireona! Ppali! Nanti agasshi telat!!” samar-samar aku mendengar suara ahjumma, aku merasakan sesuatu yang terang menyinari kamarku yang didominasi warna biru soft.

“Sebentar ahjumma. Yoonri masih ngantuk.” Sahutku sambil menarik selimutku sampai ke kepalaku. Saat aku mendengar suara pintu di tutup. Akupun melanjutkan acara tidurku. Kenapa sih pagi-pagi begini sudah di suruh bangun. Aigo.

“YA! Yoonri ireona! Hari ini hari pertama kau masuk kelas 11 bukan?!” MWO?! Hari ini sudah mulai sekolah?! Aku pun langsung bangkit dari tidurku, dengan cepat aku mengambil handuk serta peralatan mandiku. Setelah selesaipun aku segera menuju meja riasku memberi sedikit bedak dan menguncir satu rambutku yang panjang dan di cat warna kecoklatan. Setelah merasa sempurna aku segera berlari ke lantai bawah. Aku melihat eonniku di bawah sambil melahap sarapannya.

“Kenapa tidak ada yang membangunkanku? Aku bisa telat!” dengan panik aku menghambar toast bread yang sudah di buatkan oleh ahjumma.

“Yang benar saja. Ahjumma sudah berusaha membangunkanmu 3 kali. Saat aku bilang tentang sekolah kau baru bangun bukan? Aigo kau ini babi atau apa sih.” Keluh Yoona eonni panjang lebar.

“Ne, ne. kalau begitu aku pergi dulu.” Aku segera berlari keluar, tiba-tiba eonni berteriak membuat langkahku terhenti.

“Ya kau tidak mau ikut denganku saja?” tawarnya, memang tempatnya bekerja, sebagai model selalu satu arah denganku.

“Shirreo! Jika aku menunggumu pasti akan telat.” Teriakku sambil berlari keluar rumah.

Aku mengambil ipod-ku dari tas biru langit-ku lalu memutar beberapa lagu dengan kencang. Sambil bersenandung kecil aku berjalan menuju sekolahku. Sebenarnya jika di bilang jauh ya tidak juga, bisa saja aku menggunakan mobil Appa yang begitu banyak di rumah atau menaiki bus tetapi tidak aku lebih suka berjalan kaki. Aku sudah terlalu bosan jika di suruh menaiki kendaraan pribadi atau menaiki bis, jadi jika mengganti suasana sekali-kali tidak apa-apa donk. Kekeke.

Ohh iya aku Im Yoonri. Anak kedua dari keluarga yang terpandang di Seoul, Appaku memiliki sebuah perusahaan yang amat ternama sehingga ia harus sering pergi dan menetap di sana bersama Eomma. Aku bersekolah di sekolah internasional yang ternama, selain dari keuangan Appa tentunya karena usahaku juga aku bisa masuk ke sekolah itu.

Sekarang aku tinggal bersama eonniku, Im Yoona di rumah besar itu. Eomma sengaja hanya menyuruh 5 orang ahjumma untuk menjaga kami, itupun setelah membersihkan sampai jam 12 mereka pulang ke rumahnya kembali aneh bukan? Bisa saja mereka tinggal bersama kami. Tapi eomma tidak mau, dia bilang agar kami mandiri. Awalnya aku dan eonniku tidak setuju, tapi lama kelamaan kami juga mulai terbiasa.

“Ya! Kau tuli ya?” tiba-tiba seorang namja berdiri tepat di depanku sambil menarik sebelah kiri headset yang sedang kupakai.

“Ne?”

“Kau ini benar-benar tuli ya? Nyonya Im Yoonri?” ulangnya lengkap dengan embel-embel Im Yoonri.

“Aniyo aku hanya sedang mendengarkan ipodku. Hehehe.” Jawabku sedikit cengengesan. (?)

“Aish kau ini.” Kulihat namja itu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya karena tingkahku, sambil mengembalikkan headsetku .

“Jadi kau masuk jurusan apa?” lanjutnya sambil berjalan.

“IPS. Minho oppa tau sendirikan Appa pasti akan memaksaku untuk mengambil jurusan itu.”

“Ahh! Arasseo chukkae kau sudah menjadi anak kelas 11.” Sahutnya sambil tersenyum.

“Gomawo, oppa juga chukkae sudah menjadi anak kelas 12 berarti setahun lagi akan lulus. Wahhh daebak.” kataku sambil berpura-pura hendak tepuk tangan.

“Ne ne. Gomawo Yoonri.” Kata Minho oppa sambil mengacak pelan rambutku.

“Ngomong-ngomong jika nanti oppa sudah tidak sekolah di sini aku tidak bisa ikut denganmu pulang donk?” Tanyaku.

“Ya! Jangan mentang-mentang rumahmu di sebelahku jadi kau selalu pulang bersamaku.” Muka oppa berubah menjadi masam. Seketika tawaku meledak saat melihat ekspresinya itu.

“Aku hanya bercanda oppa. Kau ini tidak bisa di ajak bercanda ya.” Aku memukul pelan lengannya.

“Ya sudahlah aku mau mencari kelasku dulu. Annyeong.” Minho oppa menjawab begitu saja dan langsung melesat pergi.

“Ya! Oppa aku hanya bercanda.” Teriakku sepanjang lorong saat melihat dia berlari mencari papan pengumuman.

*–*

Author POV

“Sulli-ah!!!” teriak Yoonri saat mengedarkan pandangannya ke kelas barunya dan segera memeluk sahabatnya itu.

“Yoonri kita sekelas!!! Untung saja aku juga sekelas denganmu. Kan tidak asik jika hanya sekelas dengan orang pabo ini.” Teriak Sulli sambil melepaskan pelukannya lalu menunjuk namja yang ada di belakangnya.

“Ya! Sulli seharusnya aku yang mengatakan itu. Sekelas dengan orang yang lambat berpikirnya itu sangat melelahkan kau tahu!” Taemin berdiri dari bangkunya dan menjitak kepala Sulli.

“Ya! Aishh sakit tau!” sahut Sulli.

“Aigo kalian berdua ini selalu saja bertengkar. Kalian tau jika sering bertengkar itu berarti kalian jodoh!” Kata Yoonri dengan sok bijaknya.

“ANDWAE!” Teriak Taemin dan Sulli bersamaan.

“Aigo kalian jodoh sekali.” Yoonri beranjak menuju kursi kosong. Belom sempat sahabatnya itu meneriakinya lagi Yoonri langsung angkat bicara.

“Taemin kursi ini kosongkan?” Tanya Yoonri sambil menunjuk bangku kosong di sebelah tas berwarna putih Taemin. Tentu saja ia mengetahui tas Taemin, karena tas yang di pakai Taemin adalah pemberian Yoonri saat Taemin ulang tahun.

“Ne.” jawab Taemin sambil mengangguk.

“Yoonri-ah kau tidak mau duduk di sebelahku?” Tanya Sulli dengan wajah memelas.

“Ani kau sudah memberikan tempatku untuk orang lain.” Yoonri menunjuk kursi yang tepat di depannya.

“Aniya… Eh Krystal-ssi kau masuk jurusan IPS juga?” Sulli mengalihkan tatapannya ke Krystal teman sebangkunya yang baru dan mengabaikan Yoonri begitu saja.

Yoonri, Sulli, dan Taemin memang sudah sangat mengenal satu dan yang lain. Bahkan banyak yang mengira bahwa mereka Yoonri dan Sulli saling merebutkan Taemin, saat mendengar berita itu mereka pasti akan tertawa terbahak-bahak. Mereka juga sudah biasa mendengar teman-temannya jika mereka mengatakan hal itu. Mereka yakin bahwa mereka tidak saling menyukai satu dengan yang lain karena mereka sudah sering saling menceritakan isi hati mereka.

“Jadi bagaimana?” Tanya Taemin di sela-sela pelajaran berlangsung.

“Apanya yang bagaimana?” Yoonri malah berbalik menanyakan Taemin sambil memegang pensil putihnya dan menoleh menghadap Taemin.

“Tentu saja tentang Minho Oppa tersayangmu itu.” Jawab Taemin. Dengan cepat Yoonri menutup mulut Taemin dengan tangan kirinya.

“Ya jangan bicarakan di sini jika ada yang mendengar gawat tau!” Yoonri menarik kembali tangannya setelah memastikan Taemin tidak akan menyebut nama Minho di saat jam pelajaran.

“Waeyo?” Tanya Taemin dengan polosnya. Yoonri menunjuk orang yang duduk di depannya, Krystal, dengan telunjuknya. Tentu saja Yoonri tidak ingin Taemin mengatakannya apalagi yang mengetahui perasaan Yoonri terhadap Minho hanya Taemin dan Sulli yang mengetahuinya. Minho sendiri juga tidak tahu karena Yoonri masih belom siap mengatakannya. Atau mungkin tidak akan pernah siap.

“Ahh ara ara, mianhae Yoonri-ah.” Ujar Taemin sambil menunjukkan senyuman yang menurut orang-orang dapat membuat mereka tidak berkutik tetapi tidak dengan Yoonri maupun Sulli.

Yap Taemin termasuk salah satu murid namja yang paling di idolakan di sekolahnya karena wajahnya yang tampan tetapi juga imut. Sama seperti Minho, tetapi Minho terkenal karena tampangnya dan jago dalam semua bidang olahraga. Sedangkan Yoonri dia juga termasuk yeoja yang paling diidolakan di sekolahnya apalagi jika bukan wajahnya yang tergolong cantik dan imut seperti kebanyakan artis.

Banyak yang menyarankan Yoonri untuk terjun ke dunia keartisan, tetapi Yoonri tidak mau. Ia tidak suka jika di perhatikan setiap kali ia lewat. Walaupun ia sudah merasakannya di sekolah ini. Sulli juga memiliki wajah yang manis namun sayang ia terkenal dengan lambatnya ia berpikir.

“Ne ne, gwenchana.” Jawab Yoonri asal sambil mencoret-coret sesuatu di bukunya.

“Jadi? Aigo, Yoonri-ah kau tidak mau menceritakan apaapun pada sahabatmu ini?” Taemin mengulang pertanyaanya dengan wajah memelas.

“Apanya yang harus kuceritakan? Tadi kami hanya bertemu di jalan dan ngobrol sebentar. Ohh ya tadi dia mengacak rambutku.” Yoonri terkekeh saat mengatakan itu, ia bahkan masih bisa merasakan tangan Minho di rambutnya.

“Jinjjayo? Chukkae hahaha. Padahal kau sudah sering diperlakukan seperti itu olehku.” Tawa Taemin sambil mengacak rambut Yoonri.
“Itu berbeda tahu!” Yoonri ikut tertawa sambil merapikan rambutnya.

*–*

“Minho oppa!!!” Yoonri berteriak sambil berlari menuju seorang namja jangkung yang memiliki tubuh atletis tersebut.

“Wae Yoonri?”Minho menoleh kea rah Yoonri.

“Aniya hehehe oppa mau kemana?” Tanya Yoonri sambil berharap jawaban Minho adalah pulang ke rumahnya.

“Pulang ke rumahku sendiri waeyo? Mau ikut?” BINGO! Itulah yang diinginkan Yoonri pulang bersama Minho. Berhubung Sulli sudah pulang terlebih dahulu. Sedangkan Taemin dia mengikuti latihan basket mulai hari ini karena ia adalah kapten tim sekolah mereka, padahal baru masuk sekolah tapi apa boleh buat sekolah mereka akan membuka sebuah acara dimana akan ada lomba-lomba yang akan di ikuti semua sekolah.

“Ne. Kajja. ” Jawab Yoonri dengan cepat ia juga tidak lupa memasang senyum terbaiknya.

“Oppa tidak ikut latihan basket?” Tanya Yoonri.

“Ani aku sedang tidak ingin mengikuti latihan hari ini. Hari pertama sekolah sangat menguras tenaga .” Jawab Minho asal. Yoonri hanya mengangguk sebagai jawabannya.

“Kau tidak mengikuti aktivitas apapun?” Tanya Minho.

“Ahh aku belom tahu akan ikut apa. Inginnya sih dance, hanya saja aku sedang memaksa Sulli untuk bersamaku hehehe.”

“Aigo kau ini lakukan saja apa yang kau suka jangan memaksa orang. Ara?”

“Aigo tidak enak jika sendirian oppa.” Jawab Yoonri sambil memajukan bibirnya beberapa senti.

“Memang sihh tapi jika kau memaksa Sulli sama saja kau menghalanginya mengikuti apa yang dia inginkan bukan?” Minho menjawab dengan bijak.

“Iya juga si ehehhe. Baiklah aku akan memikirkannya kembali hehehe.”

“Baguslah kalau begitu. Hwaiting!” Minho mengepalkan tangan sebelah kirinya ke Yoonri.

“Ne, oppa juga hwaiting.” Kekeh Yoonri sambil ikut mengepalkan tangan kanannya pada Minho.

*–*

Yoonri POV

“Saengil chukkaeyo Yoonri-ah.” Baru saja aku menginjakkan kakiku ke kelas tiba-tiba Sulli berlari menghampiriku untuk memelukku. Ya dia benar hari ini adalah hari ulang tahunku.

“Gomawo Sulli-ah.” Sahutku sambil membalas pelukannya.

“Saengil chukkae Yoonri. Ini untukmu.” Kata Taemin sambil memberikanku sebuah benda yang dibungkus rampih dengan warna putih, berserta pita berwarna biru langit.

“Gomaow Taemin-ah.” Akupun memeluknya. “Sulli-ah kau tidak memberikku apa-apa?” Tanyaku iseng, walaupun aku sudah bersyukur karena ia sudah mengingatnya.

“Itu dia Yoonri aku lupa membawanya karena terburu-buru. Nanti malam akanku bawa oke?”

“Nanti malam? Emangnya ada acara apa?” Tanyaku penasaran mengingat aku tidak akan membuat pesta apapun untuk merayakan ulang tahunku.

“Tidak tidak ada apa-apa. Mungkin hanya Sulli yang berpikir terlalu senang, sampai-sampai dia mengira kau akan merayakan ulang tahunmu.” Sahut Taemin. Akupun hanya menunjukkan ekspresi O-ku tanda mengerti.

Author POV

“Sulli, aishh kau ini jeongmal. Ingat apa yang Yoona noona katakan jangan sampai dia tahu. Untung saja aku cepat-cepat mencari alasan hingga ia percaya.” Taemin langsung menyemprot Sulli ketika melihat Yoonri berjalan dengan santainya ke mejanya.

“Jinjjayo? Mianhae aku hampir lupa.” Kekeh Sulli tidak jelas. Taeminpun hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.

*–*

“Yoonri hari ini kau berulang tahun ya? Saengil chukkae.” Saat istirahat Minho menghampiri kelas Yoonri dan melihat Yoonri sedang makan dan bercanda bersama Taemin dan Sulli.

“Ne, gomawo oppa.” Sahut Yoonri senang. Sedangkan Taemin dan Sulli hanya menahan ketawa saat melihat Minho datang.

“Oh iya aku tidak membawa hadiah aku akan membelikanmu lain kali gimana? Gwenchana?” Tanya Minho.

“Ne oppa, gwenchana.” Jawab Yoonri tulus.

“Ok, aku pergi dulu Yoonri, Sulli, Taemin. Annyeong.” Kata Minho lalu pergi meninggalkan mereka. Mereka bertigapun melambai kea rah Minho.

“Sebentar aku mau ke toilet dulu.” Kata Taemin yang tiba-tiba bangkit berdiri, sambil keluar kelas.

“Minho Hyung!” Taemin berlari mengejar Minho yang berjalan ke arah kantin.

“Ne?” Minho berbalik menghadap Taemin yang sekarang sudah berada di depannya.

“Yoona noona mau bikin surprise party untuk Yoori, hyung mau ikut?” Tanya Taemin to the point.

“Jeongmal? Aku pikir dulu nanti kalau begitu, jika hari ini aku bisa aku akan datang karena hari ini aku harus ikut latihan dengan tim basket. Bukannya kau juga harus latihan? Kaukan ketua tim basket. ” Tanya Minho balik.

“Aku sudah pasti ikut hyung walaupun pasti akan sangat lelah tetapi aku ingin datang. Ini kan ulang tahun Yoonri hanya setahun sekali bukan.” Jawab Taemin sambil tersenyum.

“Jinjjayo? Kau ini menyukainya ya?” Tanya Minho penasaran sambil melipat tangannya di depan dada.

“Mwo? Aku? Tidak kita hanya berteman.” Jawab Taemin dengan tersenyum. “Atau jangan-jangan hyung yang menyukainya?” Taemin bertanya lagi pada Minho.

“Hahaha ada apa ini kita malah meributkan perasaan kita sendiri.” Elak Minho. Taemin pun tertawa saat mendengarnya.

“Ya sudahlah nanti kalau hyung ingin ikut datang saja ok?” Taemin pun berbalik meninggalkan Minho.

*–*

“Eonni!!!” Teriak Yoonri dengan sekuat tenaga teriak memanggil Yoona, saat ia masuk rumahnya semua dalam keadaan gelap. Yoonri paling takut dengan gelap, saat tidur saja ia masih menyalakan lampu tidurnya. Bahkan saat mati lampu pun ia dengan cepat menutup matanya dengan kedua telapak tangannya. Yoonri benar-benar takut gelap. Tidak ada yang tahu kenapa ia begitu takut dengan kegelapan, bahkan Yoonri sendiri juga tidak tahu. Ia yakin pasti eonninya itu pasti sudah pulang bekerja karena ada mobil Yoona di halaman mereka.

Yoonri pun berjongkok dan menutup kedua matanya dengan telapak tangannya sambil terus berteriak ‘eonni’ berharap Yoona datang dan menyalakan lampunya. Yoona bisa merasakan Yoonri sudah datang dan ia sendiri sedang menahan tawanya, ia sengaja mematikan semua lampu di rumah itu sengaja untuk memberikan Yoonri surprise. Taemin, Sulli, dan Yoona bersembunyi di tempat yang terpisah. Sedangkan Minho, ia sudah memberitahu Taemin mungkin ia akan telat datang. Tiba-tiba mereka mendengar suara isakan, ya apalagi jika bukan suara Yoonri yang mulai ketakutan.

Taemin bisa mendengar walaupun samar suara Yoona yang mulai tertawa, tetapi tidak dengan Taemin dan Sulli mereka merasa iba. Taeminpun menyalakan lampunya, berhubung dia memang di tempat saklar karena dia yang bertugas menyalakan lampu. Sedangkan Yoona memegang kuenya, dan Sulli memegang petasan kecil yang tidak mengeluarkan api di tangannya.

Taemin pun menghampiri Yoonri yang masih menangis sambil menutup matanya dengan tangannya. Taeminpun mengulurkan tangannya seraya memeluk Yoonri.

“Uljimma Yoonri-ah kita hanya ingin memberikanmu surprise bukan membuatmu menangis.” Ujar Taemin dengan lembut, sambil mengelus rambut Yoonri.

“Tapi kalian membuatku ketakutan tahu, apalagi eonni dia bahkan dia bersuara sedikitpun.” Sahut Yoonri masih dengan posisi yang sama.

“Mianhae Yoonri-ah, lagian jika aku menjawabmu sama saja tidak memberimu surprise.” Sahut Yoona, iapun tiba-tiba tertawa ia mengingat bagaimana Yoonri langsung berteriak saat masuk ke rumah. Memang dia terkenal dengan ke-evil-annya, padahal ia sangat cantik.

“Eonni!” Teriak Yoonri sebal asmbil berusaha bangkit berdiri, Taemin membantunya sambil membersihkan air mata Yoonri yang mengalir di pipi dan di ekor mata Yoonri dengan ibu jarinya. Sulli memngambil beberapa lembar tissue yang ada di meja dan membantu Taemin membersihkan tangisan Yoonri.

“Sudah sudah, ayo kita mulai acaranya.” Kata Sulli yang dari tadi hanya diam.

“Annyeong apakah aku telat?” 4 pasang mata itu serentak melihat ke arah pintu.

“Oppa.” Panggil Yoonri dengan senang.

“Oh Minho kau sudah datang, belum kami baru saja akan memulainya. Tetapi kau ketinggalan bagian paling seru di acara ini.” Lanjut Yoona sambil tertawa, Taemin dan Sulli hanya bisa etrsenyum mendengar Yoona.

Merekapun berjalan ke ruang makan, Yoona meletakkan kue di depan Yoonri. Sekarang di depan Yoonri terdapat kue coklat persegi dengan beberapa lilin di tengahnya.

“Ayo cepat tiup lilinnya.” Teriak Sulli senang.

“Tunggu kau harus mmebuat permintaan dulu.” Kata Yoona sambil tersenyum. Yoonri pun memejamkan matanya dan melipat kedua telapak tangannya. Ia pun membuka matanya dan meniup lilin itu. Tiba-tiba terdengar suara petasan di sampingnya.

“Ya!” teriak Yoonri pada Sulli. Sulli hanya bisa terkekeh. “Kan meramaikan suasana.” Sahut Sulli. Dan mereka semua hanya tertawa mendengarnya. Yoona pun memberikan Yoonri pisau kecil untuk memotong kuenya.

“Dan kue pertama aku ingin memberikannya kepada….” Yoonri berpura-pura melihat mereka satu persatu dengan tatapan berpikir.

“Untuk eonniku yang paling menyebalkan sekaligus yang paling kusayangi.” Lanjut Yoonri sambil menyerahkan kue itu kepada Yoona. Yoona menerimanya sambil mengacak pelan rambut Yoonri lalu memeluknya.

“Hehe gomawo saengiku.” Kata Yoona.

“Ahh iya hampir lupa. Yoonri ini untukmu.” Kata Minho tiba-tiba sambil memberi Yoonri sebuah kado yang bisa di bilang cukup besar.

“Ini apa oppa?” Tanya Yoonri penasaran sambil menerimanya dari tangan Minho.

“Kau buka saja tapi nanti ya.” Jawab Minho sambil memberikan senyum terbaiknya.

“Ok gomawo oppa.” Jawab Yoonri senang. Minho hanya mengangguk sebagai jawabannya.

“Ini dariku Yoonri-ah.” Kata Sulli tiba-tiba sambil memberikan Yoonri kadonya.

“Gomawo Sulli.” Jawab Yoonri sambil memeluk Sulli.

*–*

Yoonri POV

Setelah surprise party selesai aku kembali ke kamar. Dengan lincah aku mengambil peralatan mandiku dan baju tidur berwarna pink. Setelah selesai aku menuju meja riasku, lalu kusisir rambutku yang panjang kecoklatan. Aku melihat pantulan diriku dari kaca besar yang ada di hadapanku sekarang, dari pantulan cermin aku melihat 3 bungkus kado yang terletak di kasurku. Aku memutar tubuhku lalu duduk di tepi ranjangku sambil membuka kado itu. Kado pertama yang kubuka dari Sulli, dia memberikanku tas jalan yang berwarna ungu muda, jika kulihat-lihat sepertinya ini tas yang cukup bermerek.

Tas itu sangat bagus, selera Sulli memang bagus. Lalu aku membawa tas itu lalu bercermin. Tidak buruk juga, batinku. Setelah meletakkan tas itu di susunan lemari tas, aku mengambil kado dari Taemin lalu membukanya. Ternyata ia memberikanku tas yang serupa dengan tas yang kuberikan padanya saat ulang tahunnya. Aku heran bagaiman ia bisa mencari tas seperti ini sama persis? Dengan cepat akupun menaruh tas itu di meja belajarku, agar dapat kugunakan besok. Lalu aku mengambil kado dari Minho oppa. Karena terlalu susah membukanya aku merobek bungkus itu dengan kasar, maklum aku penasaran dengan isinya dan ini sudah larut. Hehehe.

“Omo! Ini kan beruang yang sangat aku inginkan.” Aku melihat sebuah beruang berbulu putih yang menggunakan baju tidur berwarna biru.

“Ahh jeongmal kyeopta!” gumamku sambil memeluk and mengelus boneka itu. Dengan cepat aku segera mengambil hp touch screen-ku lalu dengan lincah jari-jariku menekan beberapa nomor.

“Yeoboseoyo, Minho oppa. Jeongmal gomawo.”

“Ne, cheonmaneyo.” Minho oppa mulai berbicara.

“Oppa bagaimana bisa tahu aku menginginkan boneka ini?” Tanyaku penasaran.

“Kau lupa? Sebulan yang lalu kau pernah mengatakan padaku jika saat ulang tahun kau ingin aku membelikan boneka berwarna putih dan menggunakan baju tidur.” Tiba-tiba aku teringat dengan apa yang kukatakan.

“Aigo, oppa aku hanya bercanda saat itu. Kenapa kau menganggapnya serius.” Sahutku kesal.

“Gwenchana Yoonri-ah aku memang ingin memberikannya padamu dari dulu.” Jawab oppa dengan tenang. “Sudahlah kan itu sebagai hadiah ulang tahunmu.” Lanjutnya.

“Tetap hanya aku tidak suka.” Sahutku sambil memainkan boneka itu, lebih tepatnya meremas boneka itu walaupun tidak kasar. “Gomawo oppa.” Lanjutku merasa tidak enak.

“Ne cheonmaneyo Yoonri, sudah jangan di pikirkan lagi. Ara?”
“Ne. Jeongmal gomawo oppa.” Kataku lagi.

“Ne ne, annyeong.” Sahutnya. Setelah mengucapkan annyeongpun aku menutup telfonnya. Lalu aku melempar handphoneku ke kasur. Lalu aku memejamkan mataku sambil memeluk boneka besar itu.

To Be Continue…