Tags

, , ,

cover

Title : Jebal, Look at Me!
Author : Anastasia a.k.a Choi Yoonri
Main Cast : Im Yoonri (readers)
Support Cast : Choi Minho, Lee Taemin, Choi Sulli, Jung Yoogeun
Length : Sequel
Genre : Friendship, Family, Romance, Humor(?)
Rating : General
Happy Reading😀

Part 2

Nan Jigeum Danger, han gyuopdugyop peseuchyurichorom ya kkeullyo
Danger, seumyodeuro teumsai kkul chorom

Dengan malas Yoonri meraba-raba kasurnya mencari benda yang dengan beraninya mengganggu waktu tidurnya. Setelah mendapatkan benda itu Yoonri menekan dengan asal benda itu tanpa membuka matanya.

“Yeobosseyo?” Sahut Yoonri dengan suara serak.

“Ya! Yoonri kau masih belum datang? Aku berani bertaruh kau pasti masih di kasurmu. Kau lupa dengan janjimu untuk datang hari ini? Ppali!!! Aku sudah bosan menuggumu di café ini!”

“Aigo, Sulli-ah aku masih mengantuk.” Eluh Yoonri, ia masih tidak bergerak dari posisinya sambil memegang handphone-nya dengan tangan kiri.

“PPALI YOONRI!!!” Teriak Sulli. Dengan sigap Yoonri menyingkirkan handphone-nya mendengar teriakan Sulli yang begitu menyakitkan terlinganya.

“Ne, ne arasseo.” Yoonri langsung mematikan sambungan telfon itu tanpa menuggu jawaban Sulli. Dengan langkah gontai Yoonri berjalan ke arah kamar mandi dan mengambil beberapa peralatan mandinya. Setelah selesai ia berjalan ke arah lemari bajunya, mengambil hot pants putih dan baju berwarna hitam selengan yang cukup besar.

Sesudah itu seperti biasa Yoonri berjalan ke meja riasnya dengan santai, ia mencoba mengikat segala jenis model yang bisa ia lakukan. Tetapi pada akhirnya ia hanya membiarkan rambutnya terurai tanpa jempitan atau hiasan apapun di rambutnya. Lalu ia mengambil tas pemberian Sulli dan memasukkan beberapa barang yang ia butuhkan ke dalam tas itu. Ia juga mengambil kamera SLR Nikon-nya yang selalu berada di meja riasnya.

Kegemaran Yoonri tidak hanya menari tetapi juga fotografi, walaupun hasil foto yang ia dapatkan hanya sebagai kesenangan sendiri. Setelah mengambil high-heels putihnya, ia bergeagas turun kebawah. Lalu melangkahkan kakinya ke tempat tujuannya, setelah sampai ia melambai sejenak ke arah Sulli. Saat Sulli melihatnya bukannya senang Sulli malah melipat kedua tangannya di depan dadanya, tanda bahwa ia sudah menunggu Yoonri. Yoonri langsung berjalan ke arah kasir lalau memesan frapucinno caramel kesukaannya, dan segera membayarnya.

“Annyeong Sulli.” Sapa Yoonri tanpa merasakan tatapan Sulli yang kesal sambil menghampaskan dirinya ke kursi yang ada di depan Sulli.

“Waeyo?” Lanjut Yoonri tanpa merasa bersalah menatap Sulli sambil menyeruput pesanan-nya setelah di antarkan oleh pelayan.

“Waeyo, aku bilang waeyo?” Kata Sulli mengulangi kata Yoonri, masih dengan posisi melipat kedua tangannya di depan dadanya.

“Ya! Im Yoonri kau tidak tahu berapa lama aku menunggumu? Lihat berapa banyak gelas yang sudah kuhabiskan selama menunggumu?!” Seru Sulli dengan suara hampir berteriak dan mencondongkan tubuhnya ke depan. Jika ia tidak sedang di tempat seramai ini, pasti ia sudah meneriaki Yoonri.

“Mianhae Sulli-ah, kemarin aku lupa memasang alarm di kamarku. Sedangkan ahjumma tidak tahu jika aku ada janji hari ini.” Jawab Yoonri sambil mengaduk minumannya sambil tesenyum.

“Ah ya sudahlah.” Sahut Sulli yang sudah terbiasa dengan situasi seperti ini.

“Jadi kita mau ke daerah mana? Mau ke Insadong?” Lanjut Sulli pada akhirnya seraya bersandarke kursinya kembali.

“Aniya, bagaimana kalau Dongdaemun saja? Lumayan kan? Selain bisa mengambil beberapa objek, kita bisa sekalian berbelanja.” Usul Yoonri.

“Ah ide bagus. Kajja!” Jawab Sulli lalu mengambil tas coklatnya di sampingnya, ia juga tidak lupa mengambil kunci mobilnya yang ada di meja. Merekapun masuk ke mobil sedan berwarna putih Sulli, Sulli yang duduk di balik kemudi pun langsung menancapkan gasnya ke daerah Dongdaemun. Tiba-tiba handphone Yoonri bergetar tanda sms masuk.

From: Taemin
Kau pergi kemana hari ini?
Dengan cepat Yoonripun mulai menyentuh beberapa tombol di layar handphonenya itu.

To: Taemin
Sedang perjalanan ke Dongdaemun bersama Sulli. Waeyo? Kau sendiri? Mau ikut?
Selang beberapa menitpun handphonenya mulai bergetar lagi.

From: Taemin
Ani, tidak usah. Hari ini aku ada latihan basket lagi bersama Minho oppa-mu dan beberapa orang.

Yoonri sempat tersenyum saat membaca. Ia memerhatikan Sulli sesaat untuk memastikan Sulli tidak melihatnya sedang bertingkah aneh.

To: Taemin
Ya! Kau ini. Ya sudah jangan terlalu lelah, dan jangan lupa makan siang. Lihat badanmu itu terlalu kurus.

From: Taemin
Ne, ne arasseo. Kau juga jangan lupa makan. Seharusnya kau lebih memperhatikan Minho-hyung. Dia lebih tidak terlalu memperhatikan kondisinya.

To: Taemin
Kau jangan terlalu memikirkanku aku pasti akan makan ^^. Jinjjayo? Ya sudahlah. Hwaiting Taemin!! Yang semangat latihannya. Annyeong.

From: Taemin
Ne, gomawo ^^ annyeong.

*–*

Taemin POV

Setelah mengirimkan pesan singkat untuk Yoonri, pelatih langsung menyuruh kami untuk kembali latihan. Semua anak sudah berkumpul, tapi aku merasa ada yang kurang. Lalu aku melihat ke tempat kami tadi istirahat sejenak. Aku melihat Minho memegang handphonenya lalu mengetik sambil tersenyum.

“Hyung.” Teriakku untuk menyadarkannya bahwa kami semua sudah ada di tengah lapangan menunggunya.

“Ne? Ne, Jjakaman Taemin.” Ia pun segera menaruh handphonenya ke dalam tasnya.

Aku yakin pasti Yoonri yang mengirimnya. Siapa lagi kalau bukan dia. Tiba-tiba aku tersenyum saat mengingat aku memberitahu Yoonri tentang Minho. Hahaha, jinjja anak yang satu ini. Eits jangan salah bersangka aku hanya tersenyum mengingat tingkah Yoonri yang benar-benar mengikuti saranku. Kekekeke.

*–*

Yoonri POV

Setelah membaca pesan singkat dari Taemin aku segera mengabari Minho oppa,

To: Minho oppa
Oppa hari ini latihan basket ya?

Setelah menuggu beberapa saat handphoneku kembali bergetar.

From: Minho oppa
Ne, waeyo? Kau tahu dari mana?

To: Minho oppa
Hahaha, itu rahasiaku sendiri hehehe. Semangat latihannya, jangan lupa makan siang.

From: Minho oppa
Ne, gomawo. Kau juga.^^

“Kau kenapa senyum-senyum sendiri?” Tiba-tiba suara Sulli membuyarkan pikiranku.

“Aku tidak!” kataku gugup.

“Aigo, Yoonri-ah kau tidak bisa membohongiku. Jelas-jelas sampai sekarang kau masih senyum-senyum.” Sulli menatapku sambil menahan tawanya. Tiba-tiba tawa Sulli lepas begitu saja. Aigo, segitu mudahkah dia membaca mimik mukaku?

“Ahh terserah kau sajalah. Sudah sampaikan? Ayo turun.” Elakku, lagi pula kurasa aku tidak perlu memberitahu Sulli tentang masalah sekecil itu bukan.

Akupun mengeluarkan kamera dan mulai mencari sasaran beberapa tempat dan suasana yang menurutku menarik.

“Yoonri-ah, kita masuk ke tempat ini dulu ya. Aku ingin melihat beberapa barang.” Kata Sulli yang sudah berada di sampingku sambil menarik-narikku ke tempat yang ia maksud. Aigo, benar-benar anak ini padahalkan tujuan kita kesini bukan untuk membeli barang. Yahh, walaupun tadi aku yang memberi ide untuk kesini dan melihat sejenak beberapa barang.

*–*

Author POV

“Gomawo Sulli-ah untuk hari ini.” Kata Yoonri sebegitunya Sulli mengantarnya pulang ke rumah Yoonri.

“Ne, cheonmaneyo. Lihat itu ujung-ujungnya kau juga membeli banyak barang.” Sahut Sulli sambil melirik barang bawaan Yoonri.

“Ya! Ini semua gara-gara kau tahu! Jika kau tidak mengajakku masuk ke dalam tidak mungkin akhirnya seperti ini.” Balas Yoonri sambil mengakat kedua tangannya yang penuh dengan belanjaannya.

“Ya sudah besok kita baru mencari lagi ok? Kalau begitu aku pergi dulu. Annyeong.”

“Ne. Annyeong hati-hati dijalan Sulli-ah.” Sahut Yoonri.

“Ne.” Kata Sulli lalu menancapkan gasnya.

*–*

Keesokan harinya

“Yeobosseyo? Yoonri-ah, jeongmal mianhae. Hari ini aku tidak bisa ikut denganmu. Tiba-tiba umma-ku memintaku menjaga sepupuku yang masih kecil hari ini. Dan di rumah tidak ada orang hanya ada aku, umma dan temannya pergi. Mianhae Yoonri-ah.” Baru saja Yoonri menaruh handphonenya di telinga Sulli sudah berbicara panjang lebar.

“Ne, gwenchana Sulli-ah sepupumu lebih penting bukan.” Sahut Yoonri, iapun menekan tombol loudspeaker-nya. Kemudian ia duduk di depan meja riasnya, menyisir rambutnya lalu mengangkat poninya ke atas dan mengikatnya.

“Jeongmal mianhae Yoonri-ah, jika aku tidak di paksa umma pasti aku sudah pergi denganmu. Aishh coba saja jika aku bangun lebih cepat lalu pergi ke rumahmu. Dan kau tahu yang lebih menyebalkan sepupuku ini selalu meminta ini itu. Bahkan ia memintaku main bersamanya.” Ujar Sulli yang tidak berhenti mengeluh.

“Noona, ayo main.” Yoonri mendengar suara anak kecil yang merengek pada Sulli.

“Ne ne.” Jawab Sulli. “Kau dengar itu. Aishh jinjja kenapa Umma begitu kejam denganku.” Keluhnya lagi.

“Aigo kau ini, ya sudah nanti aku ke rumahmu. Siapa tahu kau membutuhkan bantuanku. Tapi sepertinya tidak sekarang, gwenchana?” Tanya Yoonri pada akhirnya.

“Ahh jinjjayo? Kyaa gomawo Yoonri-ah kau sungguh baik. Jika kau datang aku pasti akan menciummu, tetapi jika tidak awas saja kau.” Ejek Sulli.

“Ya! Aku sudah baik hati menawarkan bantuan kau malah mengancamku.” Sahut Yoonri sewot.

“Hehehe, aku menunggumu Yoonri-ah. Annyeong.” Jawab Sulli sambil terkekeh.

“Ne, annyeong.” Sahut Yoonri, iapun memutuskan sambungan telfonnya.

Nan Jigeum Danger, han gyuopdugyop peseuchyurichorom ya kkeullyo
Danger, seumyodeuro teumsai kkul chorom

“Mwoya?! Aku belum mau pergi sekarang Sulli-ah.” Jawab Yoonri dengan suara hampir teriak.

“YA! Aku bukan Sulli!” Sahut orang yang menelfonnya. Dengan cepat Yoonri melihat handphonenya. Taemin. Itulah nama yang terpampang di layar handphonenya.

“Ehehehe, mianhae Taemin-ah.” Sahut Yoonri cengengesan.

“Aish, kau ini makanya sebelum berteriak lihat dulu siapa yang menelfon.” Jawab Taemin.

“Ne, ne. Ada apa menelfonku?”

“Aniya, kau hari ini ada acara?” Tanya Taemin.

“Hmmm, nanti siang aku mau pergi ke rumah Sulli, wae?”

“Ani, kalau sekarang? Aku sedang bosan, aku berencana akan pergi ke daerah Sungai Han kau mau ikut? Aku ingin mengambil beberapa gambar di sana.” Yap benar, Taemin juga suka dengan fotografi. Bisa di bilang Yoonri menyukai fotografi karena Taemin yang memperkenalkan dunia fotografi padanya.

“Ne, boleh juga. Aku juga tidak ada kerjaan.” Jawab Yoonri.

“Baiklah, kalau gitu aku akan menjemputmu sekitar jam 11. Eotte?” Tanya Taemin. Yoonri melihat jam dindingnya yang jarum pendeknya berada di angka 10.

“Ok. Annyeong.” Sahut Yoonri.

“Ne.”

*–*

“Aigo ternyata sudah lama aku tidak kesini.” Seru Taemin sambil merentangkan tangannya begitu mereka sampai di daerah sungai Han.
“Ne, lagian kau sih terlalu sibuk dengan tim basketmu jadi tidak bisa menikmati pemandangan sekitar bukan?” Sahut Yoonri sambil mengeluarkan kamera dari tasnya.

“Jinjjayo? Hmmm mungkin.” Jawab Taemin pada akhirnya setelah berpikir sejenak lalu mengkalungkan tali kameranya.

Mereka pun mulai berjalan di sekitar sungai itu sambil membidik sesuatu yang menurut mereka bagus untuk di jadikan objek. Dengan serius mereka membidik beberapa tempat sambil sedikit berbincang. Sekarang sungai ini hanya ada beberapa orang yang menikmati pemandangan sungai ini. Sepertinya hanya beberapa yang menikmati pemandangan sungai Han di siang hari, kebanyakan mereka sedang berbincang-bincang dengan temannya.

Setelah mengambil cukup banyak gambar Yoonri duduk bersila di pinggir sungai Han sambil melihat hasil jepretannya, sedangkan Taemin masih asik membidik beberapa objek dengan jarak kira-kira 2 meter dari tempat Yoonri sekarang.

“Ya! Lee Taemin-ssi bisakah kau memotret yang lain.” Yoonri sadar jika Taemin sedang memotret Yoonri, padahal Yoonri tidak melihat Taemin sedang memotretnya. Tapi Yoonri menyadari jika ada sesuatu yang mengusik dirinya saat ia sedang mengamati hasil jepretannya.

“Memotret dirimu itu asik tahu, Im Yoonri-ssi.” Balas Taemin sambil mehrong ke Yoonri, tepat saat Taemin mehrong, Yoonri menengok ke arahnya.

“Ya! Berhentilah memotretku.” Teriak Yoonri tidak mau kalah seraya berdiri. Sedangkan Taemin sudah mengambil ancang-ancang untuk berlari.
“Aww!” Teriak Yoonri, ia pun terduduk lagi di tanah.

“Waeyo?” Tanya Taemin, seraya menghampiri Yoonri yang duduk sambil memegang pergelangan kaki kirinya.

“Mollayo, sepertinya kakiku terkilir.” Sahut Yoonri sembari memijit pelan pergelangan kakinya.

“Gwenchana?”

“Ne, gwenchana. Lebih baik sekarang kau mengantarku ke rumah Sulli. Kajja.” Usul Yoonri sambil berdiri, belum sampai 1 detik Yoonri berdiri ia terduduk lagi. Yoonripun meringis pelan.

“Aish kau ini, masukkan kameramu ke dalam tasmu dan pegang kameraku.” Seru Taemin sambil memberi Yoonri kameranya.

“Mwo? Untuk apa?” Tanya Yoonri masih dengan posisi yang sama.

“Turuti saja apa kataku ppali Im Yoonri!” teriak Taemin. Sontak Yoonri pun melakukannya ia tidak mau melihat Taemin marah, ia pernah mendengar teman-teman kelasnya mengatakan jika Taemin marah sangat menyeramkan. Membayangkannya saja Yoonri sudah bergidik ngeri apalagi jika benar-benar terjadi. Yoonri pun mengambil kamera dari tangan Taemin.

Taemin berlutut di samping Yoonri lalu melingkarkan tangannya di lutut Yoonri dan di pinggang Yoonri. Ia pun berdiri lalu berjalan ke tempat ia memarkirkan motor sportnya.

“Ya! Lee Taemin apa yang kau lakukan.” Dengan panik Yoonri berteriak pada Taemin, ia pun dengan cepat melingkarkan tangannya di leher Taemin apalagi jika takut jatuh. Siapa tahu tiba-tiba Taemin kehilangan keseimbangannya lalu menjatuhkan Yoonri.

“Ya! Lee Taemin cepat turunkan aku!!!!” teriak Yoonri, ia sangat malu orang-orang melihat mereka dengan tatapan aneh, ralat sangat aneh. Pasti banyak yang berpikir jika kami adalah sepasang kekasih, tetapi kami bertengkar lalu si namja dengan paksa membawa yeoja pergi. Aigo umma bantu aku,mau taruh di mana mukaku ini? Teriak Yoonri dalam hati.
“Lee Taemin cepat turunkan aku!” Teriak Yoonri lagi sambil menggerak-gerakkan kakinya.

“Aish bisakah kau diam, gara-gara teriakanmu aku bisa di kira yang tidak-tidak! Kau ini tidak bisa berjalan kan. Mau sampai kapan kau di sini jika tidak aku gendong?! Lebih baik jika aku mengantarmu ke rumah Sulli dan mengobatimu bukan?!” Teriak Taemin tidak mau kalah sambil terus berjalan.

“Aish cepat turunkan aku LEE TAEMIN-SSI.” Teriak Yoonri sambil memberi penekan pada kata Lee Taemin. Dengan cepat Taemin menatap ke arah Yoonri dan mengecup bibir Yoonri singkat.

“Diam atau aku akan melakukannya lagi. Kau membuatku malu kau tahu.” Sahut Taemin kali ini ia menjawab dengan suara cukup pelan, sambil melihat ke depan. Yoonri sontak menutup mulutnya dengan tangan kirinya. Yoonri hanya bisa memelototi Taemin, dalam hati Yoonri mengumpat, lihat saja sampai di rumah Sulli aku akan menghajarmu Taemin!

*–*
“Permisi agasshi, nona Yoonri dan tuan Taemin sudah datang.” Seorang pelayan datang setelah mengetuk pintu kamar Sulli.

“Ne, gomawo Kim Ahjumma.” Ujar Sulli sopan.” Noona turun dulu ya. Kau bermain sendiri dulu ara?” lanjut Sulli mengatakan pada adik sepupunya.

“Ne noona.” Sahut anak kecil itu lalu bermain kembali. Sulli pun beranjak dari kamarnya dan berjalan ke ruang tamu di ikuti Kim Ahjumma.

“Yoonri akhirnya kau datang. Eh Taemin kau kenapa datang juga?” Ujar Sulli sambil menuruni tangga.

“Tadi aku dan Yoonri pergi ke sungai Han untuk mengambil beberapa gambar. Dan tiba-tiba kaki Yoonri terkilir, bisakah kau memberikannya handuk dan air hangat untuk kakinya?” jelas Taemin.

“Ah ne, ahjumma tolong ambilkan handuk dan air hangat jangan lupa minuman untuk mereka.” Ujar Sulli kepada ahjumma.

“Ne agasshi.” Ahjumma pun pergi meninggalkan mereka bertiga.
“Jadi dimana sepupumu yang kau bilang nakal itu? Aku tidak mendengar suara anak kecil dari tadi.” Sindir Yoonri.

“Ah dia di kamarku. Wae? Kau mau bermain dengannya?” Tanya Sulli.

“Ne pasti asik bermain dengannya. Mana mana?” seru Yoonri antusias. Dengan malas Sulli pun naik ke atas dan membawa sepupunya turun.

“Ah noona aku sedang main.” Sulli menggandeng sepupunya menuruni tangga, tetapi sepupunya malah tidak berhenti mencerocos nonoa itu.

“Main dengan noona dan hyung ini pasti lebih asik kok.” Sulli memastikan adik sepupunya itu untuk bermain bersama Yoonri dan Taemin.

“Jinjja?” Tanya adik kecil itu dengan mata berbinar.

“Emm.” Jawab Sulli seadanya. “Ayo perkenalkan dirimu.” Lanjut Sulli saat mereka sudah berada di depan Yoonri dan Taemin yang duduk di sofa rumah Suli.

“Annyeonghaseyo, choneun Jung Yoogeun imnida.” Ujar anak kecil itu sopan seraya membungkukkan badannya dengan tangan kirinya yang masih menggenggam tangan Sulli.

“Wahh kyeopta!” Seru Yoonri sambil duduk menyeimbangkan tingginya dengan anak kecil bernama Yoogeun itu lalu mencubit pipinya sekilas.
“Annyeong Yoogeun, Taemin imnida.” Sahut Taemin sambil tersenyum pada Yoogeun dan mengelus rambut Yoogeun pelan.

“Annyeong Yoogeuni, Yoonri imnida.” Kata Yoonri senang bahkan ia tidak berhenti tersenyum pada Yoogeun.

“Permisi agasshi, ini handuk dan air panasnya. Dan minumannya” Kim ahjumma menyodorkan handuk kecil putih dan se banskom kecil berisi air panas. Sedngakan pelayan yang di belakang ahujmma menaruh minuman di meja tamu.

“Ne gomawo ahjumma.” Jawab Taemin seraya mengambilnya dari tangan Kim Ahjumma. Kim Ahjumma dan pelayan satu lagi pun melesat dan melakukan pekerjaannya lagi. Lalu Taemin langsung menarik Yoonri untuk duduk.

“Waeyo?” Tanya Yoonri sedikit kesal, padahal ia baru saja mau bermain dengan Yoogeun.

“Kompres dulu kakimu baru bermain dengan Yoogeun ara?” Sahut Taemin sedikit ketus tanpa melihat ke arah Yoonri. Taemin mulai memasukkan handuk kecil ke dalam baskom tersebut. Setelah memeras handuk itu ia menaruhnya di kaki Yoonri yang terkilir.

“Gomawo Taemin-ah” Gumam Yoonri sambil memperhatikkan kakinya. Yoogeun yang sedari tadi memperhatikan mereka pun menghampiri mereka dan duduk di sebelah Yoonri. Sedangkan Sulli sepertinya sudah kembali ke kamarnya mungkin karena kelelahan menjaga Yoogeun seharian.

“Noona gwenchana?” Tanya Yoogeun sambil memperhatikan kaki Yoonri.

“Ne gwenchana.” Jawab Yoonri sambil mengelus rambut Yoogeun.

“Yogeun mau main dengan hyung? Di sini ada game kan?” Kata Taemin sambil bangkit berdiri.

“Ne, ada hyung. Kita main di sini saja kasian noona tidak ada yang menemani.” Ujar Yoogeun sambil menunjuk TV dan beberapa peralatan game yang berjarak beberapa meter dari tempat mereka duduki sekarang.

“Ne, kajja.” Sahut Taemin. Ia pun berjalan kea rah TV dan menyiapkan beberapa game yang ingin mereka mainkan. Yoonripun hanya bisa duduk manis sambil melihat mereka bemain.

“Noona mau main?” Tanya Yoogeun ramah saat mau beranjak ke arah Taemin.

“Ani tidak usah, noona melihat kalian bermain saja.” Jawab Yoonri ramah.

“Kalau begitu noona duduk dengan kita saja ya ya?” Paksa Yoogeun sambil mendorong-dorong pelan tangan Yoonri.

“Ne ne, kajja.” Sahut Yoonrisambil berusaha berdiri. Taemin dengan cepat berjalan ke arah Yoonri, lalu menaruh tangan kanan Yoonri di bahu kanannya dan memegang pinggang Yoorni.

“Ya! Aku masih bisa berjalan!” rengek Yoonri setengah berteriak.

“ Siapa yang bilang kau tidak bisa berjalan. Aku tahu kau masih bisa berjalan tapi kakimu itu yang harus kau perhatikan! Kau mau kakimu bertambah sakit?” jawab Taemin dengan nada sedikit sinis.

“Jeongmal gomawo Taemin-ah, mianhae aku menyusahkanmu.” Gumam Yoonri menyesal dengan menundukkan kepalanya. Dengan perlahan Yoonri duduk di lantai depan TV, lebih tepatnya matras berbulu dan beberapa bantal di sampingnya.

“Ne, cheonmaneyo.” Jawab Taemin seraya mengacak pelan rambut Yoonri sambil tersenyum.

“Ngomong-ngomong Taemin-ah sejak kapan kau jadi galak seperti tadi?” Tanya Yoonri sedikit sewot mengingat sejak peristiwa kakinya terkilir Taemin selalu memarahinya atau menjawabnya dengan sinis.

“Ani kau saja yang terlalu berlebihan.” Sahut Taemin cuek sambil mengambil stick gamenya.

“YA!”

“Aishh noona dan hyung berhentilah bertengkar kalian seperti appa dan eomma jika bertengkar.” Yoogeun tiba-tiba menyela pembicaraan mereka bermaksud untuk menghentikan pertengkaran kecil mereka sambil mengambil stick gamenya.

“Atau lebih baik aku memanggil kalian appa dan umma, eotte?” usul Yoogeun sambil menaruh telunjuk kecilnya di dagunya sendiri seolah sedang berpikir.

“SHIREO YOOGEUN!” Teriak Yoonri dan Taemin bersamaan.

“Ani memang lebih baik jika memangil kalian umma dan appa.” Sahut Yoogeun sambil menutup kedua telinganya berjaga-jaga jika mereka akan berteriak lagi.

To Be Continue