Tags

, , , , ,

cover

Title : Jebal, Look at Me!
Author : Choi Yoonri
Main Cast : Im Yoonri (readers)
Support Cast : Choi Minho, Yang Yoseob, Kwon Yuri, Yoon Doojoon, Jang Hyunseung
Length : Sequel
Genre : Friendship, Family, Romance
Rating : PG-13
Happy Reading ^^

Part 3

Yoonri POV
“Oppa, memangnya hari ini mau kemana?” tanyaku pada Minho kami baru saja duduk di mobil Minho oppa. Pagi sekali Minho oppa menelfonku memintaku untuk bergegas. Saat oppa menelfon, dengan cepat aku mandi dan memakai baju yang layak. Aku tidak bisa berbohong jika aku bilang malas, aku malah sangat senang! Aku bahkan lupa membawa tasku, untung aku membawa dompet dan handphone. Aigo.

“Kita akan ke Lotte World, maaf aku tidak sempat memberitahumu sehari sebelumnya. Teman-temanku mendadak mengadakan reuni SMP awalnya juga aku ingin pergi sendiri, tetapi mereka memaksa harus membawa seorang yeoja dan aku langsung teringat padamu.” Ujar oppa panjang lebar.

“Geure, gwenchana. Tapi kenapa mereka memilih Lotte World tidak tempat lain saja?” Tanyaku penasaran.

“Awalnya aku juga heran, biasanya jika orang yang akan reuni mencari tempat seperti café atau mall bukan? Aku juga bertanya kepada mereka seperti apa yang kau katakan. Dan kau tahu apa jawaban mereka? Mereka hanya mengatakan lebih asik jika ke Lotte World.” Jawab oppa dengan tatapan ke depan dan melihat ke arah ku sejenak.

“Ooo.” Ujarku seadanya lalu melihat ke depan lagi.

“Mianhae pasti nanti akan sangat membosankan, apalagi kau tidak mengenal mereka.” Kata oppa tiba-tiba.

“Gwenchana, lagi pula aku sudah lama tidak ke Lotte World.” Sahutku sambil tersenyum ke arah oppa.

“Gomawo Yoonri-ah.” Jawab oppa sambil tersenyum padaku sekilas.

“Ngomong-ngomong kau sudah sarapan kan?” Lanjut oppa.

“Ne, oppa?” tanyaku balik. Ya aku sudah makan walaupun hanya satu helai roti dan susu.

“Emmm.” Jawab oppa masih terfokus pada jalan. “ Oh iya, Yoonri-ah hari ini kau berpura-pura jadi pacarku otte?”

“MWO?!”

*–*
Author POV

Sesampainya mereka di Lotte World, dengan bergandengan tangan mereka mencari teman-teman Minho.

“Minho! Omo ternyata sudah lama kita tidak bertemu.” Seorang yeoja melambaikan tangannya ke arah Minho dan Yoonri.

“Annyeong.”sahut Minho sambil tersenyum dan mengedarkan pandangannya pada teman-temannya.

“Ya! Minho! Kau bertambah tinggi saja.” Ucap seorang namja.

“Kau saja yang tidak bertambah tinggi Yoseob.” Cibir Minho sambil tertawa.

“Kau datang dengan siapa Minho-ya?” Tanya Yuri yeoja yang memanggil Minho pertama kali.

“Ohh, perkenalkan ini yeoja-chinguku Im Yoonri.” Sahut Minho sambil memegang bahu Yoonri.

“Annyeong Im Yoonri imnida.” Kata Yoonri sopan seraya membungkukkan badannya.

“Annyeong Yoonri. Hebat kau Minho bisa mendapatkan yeoja cantik seperti dia.” Sahut salah satu teman Minho.

“Ya! Doojoon awas kau!” seru Minho sedikit jengkel, sedangkan Yoonri hanya bisa menundukkan kepalanya karena malu.

“Yoseob kau datang dengan siapa? Aku tidak melihat yeoja yang asing.” Kekeh Minho pada sahabat masa SMP nya itu.

“Aku tidak seperti kau yang membawa yeoja asing, aku datang bersama Yuri.” Ledek Yoseob sambil menunjuk Yuri dengan dagunya. Minho menjitak kepala Yoseob pelan.

“ Kajja kita pergi, semua sudah datang bukan? Aku sudah membeli semua tiketnya, nanti kalian bayar padaku saja oke? ” Kata salah satu dari mereka yang tadinya meledek Minho, Doojoon. Dan semuanya menjawab hanya dengan anggukan, dan segera membayar pada Doojoon.

“Karena hari ini aku yang mengajakmu dan sangat tiba-tiba aku yang membayar oke? “ Ujar Minho, baru saja Yoonri akan membuka mulutnya untuk menolak Minho sudah menyelanya terlebih dahulu.

“Tidak boleh protes!” Ucap Minho lalu berjalan ke arah Doojoon.

“Gomawo oppa.” Kata Yoonri sambil tersenyum pada Minho yang sudah berdiri di sampingnya lagi.

“Ne, cheonmaneyo.” Ujar Minho. Tiba-tiba ia melepaskan topinya yang ia pakai lalu memakaikannya pada Yoonri.

“Oppa aku tidak perlu topi.” Sahut Yoonri seraya melepaskan topi Minho lalu memakaikannya pada Minho dengan kesusahan karena Minho jauh lebih tinggi darinya.

“Ya! Pakai ini! Tidak perlu protes!” Ucap Miho sambil mengembalikkan topinya dan memakaikannya pada Yoonri. Yoonri pun hanya bisa mengembungkan pipinya pada Minho.

“Minho! Kita naik wahana itu bersama ya?” tiba-tiba seorang yeoja–yang seingat Yoonri bernama Yuri—menghampiri mereka dan bergelayut manja di lengan Minho.

“Tapi—“ Minho melihat ke arah Yoonri yang ada di samping kanannya.

“Tidak apa, Yoonri bisa bersamaku. Tidak apa kan?” tiba-tiba Yoseob sudah ada di samping Yoonri sambil tersenyum.

“Ne, oppa bersama Yuri eonni saja. Aku bisa bersama oppa ini.” Sahut Yoonri sambil tersenyum dan menunjuk Yoseob dengan telunjuknya.

“Tuhkan, ayo pergi.” Sahut Yuri senang sambil menarik Minho ke wahana yang di maksud Yuri.

“Kajja!” Ujar Yoseob sambil berjalan dan meninggalkan Yoonri. “Oh iya panggil aku Yoseob oppa, jangan oppa ini. Aku bukan benda kau tahu.” Ejek Yoseob seraya melihat ke arah Yoonri

“Ne. ne mianhae.” Sahut Yoonri sambil menyusul Yoseob. Sepertinya akan mudah akrab dengannya. Ujar Yoonri dalam hati.

Mereka sudah bermain 4 wahana berturur-turut tanpa beristirahat sekalipun. Pengunjung hari ini tidak terlalu banyak jadi mereka idak perlu mengantri terlalu lama untuk bermain wahana-wahana tersebut. Sedari tadi Yoonri yang seharusnya bermain dengan Minho malah bermain dengan Yoseob. Bahkan Minho tidak memerhatikan Yoonri sedikit pun, sedangkan Yoonri mulai dekat dengan Yoseob.

Yoonri pernah menanyakan Yoseob tentang hubungan Yuri dan Minho. Dan ternyata mereka pernah berpacaran hampir 3 bulan ketika SMP, Yoseob tidak tahu kenapa alasannya mereka putus. Tetapi ia mendengar gosip bahwa yang memutuskan hubungan mereka terlebih dahulu adalah Minho. Sedangkan menurut firasat Yoonri sendiri sepertinya Yuri ingin mendapatkan Minho lagi. Tapi entahlah dengan pikiran Yuri, mungkin ia hanya ingin mengenang masa lalunya.

“Aku sedikit heran dengan hubunganmu dan Minho.” Ucap Yoseob sambil memasukkan tangannya ke dalam saku celananya.

“Wae?” Tanya Yoonri seraya menatap Yoseob dengan heran. Saat itu mereka mulai mencari restoran atau kantin, sepertinya tenaga mereka mulai terkuras karena wahana-wahana yang berteriak-teriak ingin di mainkan.

“Kau dan Minho berpacaran bukan? Tetapi kenapa Minho malah menelantarkanmu dan bersenang-senang dengan Yuri?” Tanya Yoseob penasaran sambil menatap punggung Yuri dan Minho yang sedang asik berbincang dan berjarak beberapa meter di depan mereka.

“Mollayo, tapi biarkan saja.” Jawab Yoonri sekenanya sambil melihat ke arah Yuri dan Minho. Yoseob melirik ke arah Yoonri, ia masih tidak puas melihat jawaban Yoonri yang terkesan cuek dan tidak mau tahu.

“Aigo jangan murung begitu! Bagaimana jika kita ke suatu tempat yang bisa memacu adreanalinmu?” Kata Yoseob antusias.

“Mwo?” Tanya Yoonri. Tiba-tiba Yoseob menarik pergealangan Yoonri seraya berlari ke tempat yang ia maksud.

“Tarraa bagaimana jika kita masuk ke sini.” Ucap Yoseob semangat. Yoonri melihat banner yang bertulisan berwarna merah dan di tulis seperti darah. Rumah hantu. (anggep aja ada ._.V)

“Mwo? Oppa tidak bercanda?” Tanya Yoonri lagi.

“Ne, kau tidak takutkan?” jawab Yoseob semangat sepertinya ia sudah tidak tahan ingin mencoba tempat ini.

“Ahh, tidak juga sih tetai bukankah tempat ini…”

“Ya sudah kajja!” ujar Yoseob memotong ucapan Yoonri seraya menarik tangan Yoonri lagi.

Yoonri tidak berani menatap apapun, sebenarnya ia tidak takut dengan setan-setan manusia itu. Ia sudah terbiasa melihat yang seperti itu saat pergi dengan Sulli dan Taemin menonton film horror. Tetapi masalah yang ia sangat takutkan adalah gelap. Saat masuk ke dalam Yoonri terus bersembunyi di punggung Yoseob dan memegang bajunya ia tidak ingin terpisah dengan Yoseob di tempat segelap ini.

*–*

“Minho-ya kau mau makan apa?” Tanya Yuri dengan suara manjanya sambil melihat daftar menu saat itu.

“Hmm aku terserah saja.” Sahut Minho seadanya seraya mencari-cari seseorang. “Ada yang melihat Yoonri?” Tanya Minho kepada smua temannya.

“Sepertinya tadi ia berjalan ke arah rumah hantu bersama Yoseob.”sahut Hyunseung yang duduk di depannya.

“MWO?!” teriak Minho sambil memukul meja.

“Waeyo? Ya! Minho!” teriak Yuri dengan kesal karena tiba-tiba Minho keluar tanpa menghiraukannya.

Minho dengan cepat mencari-cari rumah hantu tersebut, saat ia melihat papan bertuliskan rumah hantu ia segera masuk ke dalam tempat itu. Ia mulai memperlambat langkahnya, walaupun ia sempat mendorong beberapa orang atau beberapa hantu orang-orangan itu. Ia hanya mengucapkan maaf lalu berjalan lagi mencari Yoonri.

Tiba-tiba ia berhenti saat melihat seorang namja sedang memegang bahu seorang yeoja, sepertinya namja itu sedang menenangkan yeoja tersebut. Ia menyipitkan matanya agar ia bisa memastikan bahwa itu adalah Yoseob dan Yoonri. Minho pun segera berlari ke arah mereka, ia pun langsung menarik tangan Yoonri keluar dari rumah hantu itu.

“Kenapa kau masuk ke dalam? Kau tahu kalau di dalam gelapkan? Kau ini pabo atau apa?” Tanya Minho bertubi-tubi sambil menatap Yoonri yang sedang menunduk.

“Mianhae oppa.” Gumam Yoonri masih dengan posisi menunduk dan mulai menangis. Minho dengan pelan menarik Yoonri ke dalam pelukannya.

“Yoonri kenapa Minho-ya? Tadi saat di tengah jalan tiba-tiba ia terisak.” Kata Yoseob begitu keluar dari rumah hantu dan menghampiri mereka.

“Ya! Kau ini bodoh atau apa? Dia takut gelap tahu! Kenapa kau malah mengajaknya ke situ?” Teriak Minho masih memeluk Yoonri dan mengusap puncak kepala Yoonri.

“Aku tidak tahu apa-apa. Saat aku tanyakan Yoonri tidak protes ia hanya mengiyakannya saja.” Bela Yoseob.

“Aku mau bilang kalau aku takut gelap tapi oppa langsung menarikku ke dalam.” Isak Yoonri sambil melepas pelukan Minho dan melihat Yoseob.

“Aigo kenapa kau tidak bilang lebih awal Yoonri-ah.” Sahut Yoseob sedikit kecewa.

“Mianhae oppa.” Jawab Yoonri seraya menunduk dan mengelap air matanya.
“Aku juga minta maaf Yoonri-ah.” Gumam Yoseob sambil mengelus puncak kepala Yoonri. Minho langsung menepis tangan Yoseob.

“Akh! Mian Minho aku tidak sengaja.” Teriak Yoseob, ia langsung menarik tangannya dan mengangkat kedua tangannya.

“Ya sudah kau duluan Yoseob, sepertinya mereka mulai memesan makanan di sana.” Minho menunjuk sebuah kedai yang cukup besar.

“Oke. Kalian tidak mau pergi ke sana?” Tanya Yosoeb.

“Nanti kami menyusul.” Jawab Minho singkat. Yoseob pun mengangguk dan pergi meninggalkan mereka.

“Kajja.”

“Odiga?” Tanya Yoonri heran karena Minho tiba-tiba menarik tangannya.

“Makan. Aku lapar, kau tidak?” Tanya Minho balik.

“Nado, tapi kenapa tidak makan bersama teman-teman oppa saja?”

“Aku tidak mau bersama Yuri, dia terlalu manja.” Jawab Minho jutek. Sedangkan Yoonri hanya bisa ber-o ria medengar jawaban Minho.

*–*

“Huahhh kenyang.” Teriak Yoonri sambil merentangkan tangannya saat mereka keluar dari restoran dan Minho mengikuti di belakang.

“Sekarang kita mau kemana?” Tanya Yoonrisemangat.

“Hmmm, terserah kau saja.” Jawab Minho sambil menyusul langkah Yoonri.

“Oke kalau begitu kita naik bianglala saja otte?”

“Oke, kajja.” Minho dengan semangat menarik tangan Yoonri ke wahana bianglala.

“Woahhh yeppoda!!” Yoonri melihat ke luar jendela menatap pemandangan dengan takjub. Sedangkan Minho ikut menatap ke luar jendela dan mengiyakannya dengan gumamman. Setelah itu mereka terlarut dengan pikiran masing-masing sambil melihat pemandangan menjelang senja itu.

“Oppa.” Panggil Yoonri sambil menolehkan kepalanya menghadap Minho.

“Hmmm?” gumam Minho pelan.

“Oppa benar tidak ada hubungan dengan Yuri eonni?” Tanya Yoonri penasaran. Minho pun mengalihkan penglihatannya kea rah Yoonri.

“Memangnya kenapa? Apa hubungannya denganmu?” jawab Minho sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya.

“Aniya, selama ini oppa tidak pernah bercerita padaku tentang Yuri eonni yang ternyata mantan pacar oppa. Padahal aku kan sudah menganggap oppa seperti oppa kandungku sendiri. Ayo ceritakan apa hubungan oppa dengan Yuri eonni?” jelas Yoonri panjang lebar sambil tersenyum.

“Benar hanya seperti itu?” Tanya Minho lagi dengan senyum sinisnya.

“Ne ne!! Ppali oppa ceritakan padaku.” Jawab Yoonri dengan semangat.

“Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan nya sekarang, dulu memang ada kami pernah berpacaran selama 3 bulan kurang. Lalu aku memutuskannya, jangan pernah tanyakan kenapa aku putus dengannya arasseo?”

“Aishh oppa ini tidak seru! Baru saja aku ingin menanyakannya.” Sindir Yoonri sambil memanyunkan bibirnya. Minho hanya bisa tertawa melihat tingkah laku Yoonri yang seperti anak kecil.

“Jadi oppa sekarang tidak menyukai Yuri eonni?” Tanya Yoonri masih penasaran.

“Ne. Why you keep asking that?” Tanya Minho yang sepertinya mulai kesal.

“Ani, gwenchana hehehe. Kan sudah kubilang aku sudah menganggap oppa seperti oppa kandungku.”

“Ya! Apa-apaan itu.” Ejek Minho.

“Sekarang mau kemana lagi?” Tanya Minho saat mereka sudah menuruni bianglala, sambil melihat ke arah Yoonri yang tampak berpikir sambil mengedarkan padangannya.

“Itu!” tunjuk Yoonri ke arah sebuah tempat foto kecil. Minho mengikuti arah yang di tunjuk Yoonri lalu mengurutkan dahinya.

“Kita berfoto di situ. Kita kan tidak pernah berfoto sama sekali otte?” Tanya Yoonri seraya menunjukkan puppy eyes nya.

“Hmmm, shireo!”

“Waeyo?” Tanya Yoonri kesal sambil mendorong-dorong lengan Minho.

“Untuk apa aku berfoto denganmu? Mukaku terlalu bagus untuk berfoto denganmu.” Sindir Minho.

“YA! Oppa!” teriak Yoonri kesal.

“Hahaha, hanya bercanda saengi.” Minho terkekeh melihat gaya Yoonri yang seperti akan menangis jika tidak di belikan permen.

“Kajja.” Ajak Minho sambil menarik Yoonri yang terlihat masih sedikit kesal.

“Hahaha, yeogi oppa neomu kyeopta.” Yoonri tidak bisa berhenti tertawa melihat foto mereka yang bertingkah seperti anak kecil dengan gaya-gaya seperti orang bodoh. Minho melihat foto yang di tunjuk Yoonri.

“Ya! Itu namanya seni untuk sebuah kenang-kenangan jika tidak membuat gaya yang lucu itu tidak asik tahu.” Ucap Minho seraya membela dirinya sendiri.

“Ini untuk oppa dan ini untukku.” Ujar Yoonri sambil memberikan foto mereka pada Minho.

“Semuanya untukmu saja.” Tolak Minho.

“Mwo? Shireo! Masa hanya aku yang menyimpan semua foto ini!? Oppa juga harus menyimpannya.” Paksa Yoonri sambil menyodorkan foto-foto itu.

“Aigo, ya sudahlah terserah kau saja.” Jawab Minho pasrah sambil memasukkan foto itu ke saku celananya. Sedangkan Yoonri, ia tersenyum puas melihat Minho menuruti kata-katanya.

“Ya! Minho kau darimana saja?” tiba-tiba seseorang bertubuh pendek datang berserta teman-temannya menghampiri mereka berdua. Dengan cepat Minho menyelipkan tangannya di tangan Yoonri. Yoonri sontak melihat Minho dengan tatapan heran.

“Kau ingat? Hari ini kita berpura-pura sebagai sepasang kekasih.” Bisik Minho tempat di telinga Yoonri. Dalam hati Yoonri berdoa agar detak jantungnya yang terlewat batas itu tidak terdengar oleh Minho.

“Tadi kita habis makan siang Yoseob.” Jawan Minho sedikit berbohong.

“Jinjja? Kenapa begitu lama? Kami bahkan sudah bermain 1 permainan.” Ujar Yuri heran.

Yoonri POV

“Jinjja? Kenapa begitu lama? Kami bahkan sudah bermain 1 permainan.” Yuri eonni sepertinya sedikit curiga denganku dan Minho oppa. Ia bahkan melipat tangan di depan dadanya.

“Kita ingin mengulur waktu untuk berdua. Ya kan, jagi?” Seketika mataku terbelalak mendengar ucapan Minho oppa yang dapat mengucapkan jagi dengan semudah itu.

“Eh, ne oppa.” Aku hanya bisa menjawab dengan gumaman kecil dan menatapnya heran.

“Ya sudah, ayo kita main yang lain lagi. Bagaimana dengan yang itu?” Tanya Yoseob oppa sambil menunjuk permainan yang di maksudnya.

“Ne…” Jawab mereka semua dengan kompak. Dan berjalan kearah permainan itu.

“Mianhae Yoonri-ah.” Tiba-tiba Minho oppa berbisik di telinganku dan tangannya masih memegang tanganku. Aku hanya bisa mengangguk sebagai jawabannya.

“Minho-ya, kita naik itu bersama ya? Otte?” Yuri eonni berbalik menghadap kea rah kami dan menarik tangan Minho oppa yang bebas.

“Ani Yuri, mianhae. Aku ingin bermain dengan Yoonri. Sedari tadi ia terus bermain dengan Yoseob.” Jawab Minho oppa sambil melepaskan tangannya yang pegang Yuri. Jujur aku senang dengan tingkah laku oppa. Walaupun statusku sebagai pacar oppa hanya sementara tapi aku senang dengan tindakannya.

“Yuri kau denganku saja. Kajja kajja.” Celetuk Yoseob oppa sambil menarik tangan Yuri eonni. Sedangkan Yuri eonni hanya bisa mengikuti Yoseob oppa, walaupun ia kekecewaannya tercetak jelas di mukanya. Gomawo Yoseob oppa.

*–*

Aku tidak menyadari bahwa kami hampir memainkan wahana yang ada di Lotte World ini sampai malam. Teman-teman Minho oppa sangat menyambutku dengan baik. Bahkan mereka sering bernostalgia saat mereka SMP. Yah walaupun aku tidak tahu apa-apa, tapi cukup menghiburku.

“Sepertinya kita harus pulang sekarang. Gomawo sudah mengajakku reuni. Annyeong.” Minho oppa mulai berpamitan dengan teman-temannya. Setelah aku berpamitan juga kami berbalik ke tempat Minho oppa memarkirkan mobilnya.

“Aigo, lelah sekali hari ini. Sepertinya besok aku tidak akan masuk sekolah.” Aku langsung merebahkan diriku di kursi mobil oppa.

“Mwo? Tidak boleh itu bukan alas an yang baik. Besok kau harus tetap masuk sekolah.” Jawab Minho oppa.

“Wae? Kan besok kelasku tidak ada ujian atau pr.” Cibirku tidak terima.

“Walaupun begitu kau tetap harus masuk. Kau lupa besok sekolah kita mulai membuka perlombaan antar sekolah?”

“Andwae, lalu apa hubungannya denganku?” Seingatku aku tidak mengikuti kegiatan apapun dalam lomba antar sekolah.

“Ada.” Jawab Minho oppa. Dan aku baru menyadari mobil ini sudah melaju ke jalan raya yang cukup ramai.

“Besok kau harus ikut memberi semangat padaku?” Lanjut Minho oppa. Oh, sepertinya aku mulai mengerti sekarang. Sepertinya besok pertandingan basket akan di mulai.

“Waeyo? Kan masih banyak cheerleaders dan fans-fans oppa yang mendukungmu.”

“Sama saja aku merasa tidak ada yang menyemangatiku kalau tidak ada kau.” Deg. Sebenarnya apa maksud oppa?

“Ohh, ya sudah kalau baku masuk. Aku juga ingin memberi semangat kepada Taemin.” Sebenarnya aku ingin menanyakan lebih jauh lagi. Tetapi aku urungkan aku tidak mau terlalu percaya diri seperti yang ada di pikiranku ini.

“Ne, baguslah kalau begitu. Emmm, ngomong-ngomong Yoonri-ah jeongmal gomawo untuk hari ini.”

“Ne, cheonmaneyo oppa. Aku sangat senang hari ini. Untuk teman-teman oppa sangat ramah padaku, kalau tidak aku tidak bisa membayangkan seberapa bosannya.”

Ya, memang teman-teman oppa menyenangkan. Tetapi ada lebih membuatku senang hari ini. Teapi sayang harus berakhir hari ini juga. Coba saja oppa mau menanyakan hal itu dengan serius.

To be continue