Tags

, , , ,

Title : Jebal, Look at Me!
Author : Choi Yoonri
Main Cast : Im Yoonri (readers)
Support Cast : Choi Minho, Lee Taemin, Choi Sulli
Length : Sequel
Genre : Friendship, Family, Romance
Rating : PG-13

Happy Reading

Part 4

Author POV

Jalanan di kota Seoul masih sangat sepi. Wajar embun pagi dan matahari yang belum terlihat membuat orang-orang masih enggan bangun dari tidur lelapnya. Sampai jam menunjukkan angka 5:30 orang-orang baru akan melakukan aktifitasnya.

Hari senin yang kebanyakan membuat orang tidak ingin melakukan aktifitas apapun. Hari minggu kemarin yang menyenangkan membuat orang-orang malas. Tapi tidak untuk sekolah yang akan mengadakan pembukaan lomba antarsekolah. Hamper seluruh siswa datang lebih pagi untuk membantu sekolah tercintanya itu.

“Annyeong Sulli. Tumben sekali kau telat hari ini?” Panggil Yoonri saat melihat temannya baru datang.

“Annyeong, aku tidak datang telat kau saja yang datang terlalu pagi. Kan biasanya kau yang datang terlambat.” Balas Sulli tidak mau kalah.

“Jinjja? Wahh berarti kemajuan kekeke.”

“Pasti terjadi sesuatu katakan padaku apa itu?” Tanya Sulli penuh selidik ketika mulai menyadari temannya bertingkah aneh pagi ini.

“Mwo? Aniya tidak ada apa-apa.” Ucap Yoonri sambil menjauhkan badannya dari Sulli yang mendekat ke arahnya.

“Jinjja? Pasti terjadi sesuatu antara kau dan Minho sunbae.” Jawab Sulli penuh selidik.

“Ne.” Jawab Yoonri pasrah lalu memasang senyum lebarnya.

“Kan! Apa yang kau lakukan dengannya?” Tanya Sulli penasaran.

“Kemarin ia mengajakku ke Lotte World untuk reuni dengan teman SMP nya.” Jawab Yoonri dengan mudah.

“Mwo!? Reuni? Untuk apa?”

“Ya! Pagi-pagi sudah bergosip. Apa topik kali ini?” Tiba-tiba Taemin datang—entah dari mana—dengan antusias., sambil menaruh tasnya di bangku sebelah Yoonri lalu duduk di kursi itu.

“Kau sudah datang, Taemin? Kau ini yeoja atau namja kenapa suka mendengar apa yang kami katakan?” Ejek Sulli. Sedangkan Taemin ia hanya bisa memajukan bibirnya beberapa senti dan menekuk mukanya.

“Hahaha, kau harus melihat mukamu itu Taemin, sangat jelek. Mungkin jika seharian kau menunjukkan ekspresi seperti itu aku yakin banyak yeoja yang akan menghindarimu.” Sindir Sulli sambil tertawa keras bersama Yoonri. Taeminpun memukul kepala Sulli yang mengejeknya terus.

“Ya!” Seru Sulli sambil mengelus kepalanya. “ Yoonri, daripada kita memedulikan dia lebih baik kau ceritakan padaku yang tadi.” Sulli mengabaikan Taemin dan mulai menajamkan pendengarannya. Yoonripun mulai menceritakan apa yang ia lakukan kemarin yang membuatnya terus tersenyum.

“Taemin-ah! Kenapa kau masih di sini, cepat bersiap-siap kita harus latihan terlebih dahulu. Kau ini kan kaptennya!” Teriak seorang namja dengan rambut blonde-nya berdiri di ujung pintu., setelah Yoonri selesai bercerita.

“Ne, Key hyung! Wait a minute.” Jawab Taemin sambil mengambil tasnya.

“Aku pergi duluan ya, aku hampir lupa hari ini pembukaan lomba antar sekolah sudah dibuka. Kalian harus melihatnya oke?” Ujar Taemin sedikit terburu-buru.

“Ne, kami pasti akan mendukungmu! Fighting!” Sahut Yoonri sambil mengepalkan tangan kanannya cukup tinggi.

“Ne, annyeong!” Balas Taemin, kemudian berlari ke arah lapangan.

*–*

Yoonri POV

Berhubung hari ini sekolah akan mengadakan pembukaan lomba. Kami tidak belajar sedikitpun. Hampir seluruh guru di ikut sertakan dalam pertanggung jawaban beberapa lomba ini, sehingga pihak sekolah memutuskan untuk membebaskan semua murid dalam mata pelajaran apappun hari ini.

Walaupun sangat bosan karena seharian kami tidak tahu apa yang harus kami perbuat. Aku dan Sulli memutuskan untuk mengelilingi sekolah sebelum pertandingan basket mulai.

“Yoonri-ah kau tidak ikut lomba dance? Kau kan jago.” Ujar Sulli tiba-tiba saat kami mengitari sekolah kami yang cukup besar ini.

“Ani, tidak ada lomba dance. Jika adapun aku tidak mau mengikutinya.” Jawabku.

“Ya, kau Im Yoonri yang mengikuti club dance bukan? Yang menjadi salah satu wakil ketua club dance?” Ujar seorang guru sebentar sepertinya aku sering melihat wajahnya. Tapi siapa namanya? Aku berusaha berpikir keras, tetapi aku tidak mengingat siapa nama guru ini. Aish molla!

“Ne, songsaenim. Ada yang bisa kubantu?” Jawabku dalam bahasa formal tentunya.

“Ne, tiba-tiba pihak sekolah membuka lomba dance. Aku sudah mengumpulkan ketua dan beberapa murid untuk ikut dance ini. Kau sebagai wakilnya harus mengikuti lomba ini. Semua peserta sudah berkumpul di ruang dance. Aku sangat berharap kau ikut lomba ini Yoonri-ssi.”

“Emmm, ne songsaenim.” Jawabku lemas. Baru saja tadi aku dan Sulli berbicara tentang lomba dance, kenapa benar-benar terjadi!? Aish jinjja! Apa jangan-jangan Sulli bisa membaca masa depan?

Setelah menyetujui permintaan songsaenim, aku dan Sulli berjalan ke arah ruang dance. Dan ternyata yang mengikuti lomba dance kali ini hanya sekitar 5 orang termasuk aku. Untungnya mereka sudah membuat beberapa gerakan. Jadi aku hanya perlu menghafal gerakan-gerakan tersebut.

“Permisi.” Ucapku sopan saat masuk ke ruangan tersebut. Sedangkan Sulli ia mulai mencari bangku kosong untuk di duduki. Sepertinya ia akan menungguku dengan setia hingga selesai. Ah, aku lebih suka menonton perlombaan dari pada di suruh berlatih. Someone tolong gantikan aku!!!

*–*

Latihan menari ini lebih panjang dari yang kuperkiraan. Setelah 3 jam nonstop kita berlatih. Akhirnya gerakan yang kami lakukan dapat kompak dan sempurna. Setelah berpamitan aku segera menarik tangan Sulli-yang dengan setia menungguku- ke arah lokerku untuk mengambil baju candangan yang selalu kutaruh di loker.

Aku sengaja menaruh baju bersih di loker, siapa tahu akan berguna di saat-saat seperti ini. Setelah mengambil bajuku kami segera ke toilet dan mengganti bajuku.

“Yoonri, setelah ini kita menonton pertandingan ya. Aku sudah bosan melihatmu berlatih terus.” Ujar Sulli saat kami sudah di toilet.

“Ne, tentu saja. Kau pikir aku tidak lelah berlatih terus? Aku juga ingin menepati janjiku pada Minho oppa kemarin.” Jawabku sambil mengganti baju dengan cepat.

“Ada yang mau pacaran.” Sindir Sulli sepertinya ia sengaja mengeraskan volume suaranya and sedikit memainkan kata-katanya seperti sedang bernyanyi.

“Diam kau Choi Sulli!” Balasku sambil keluar dari toilet setelah selesai mengganti baju.

Sepertinya pertandingan sudah di mulai, saat kami sedang berjalan ke arah lapangan. Banyak yeoja yang berlari kecil ke arah lapangan. Dan benar saja saat kami sudah sampai di pinggir lapangan aku melihat Minho oppa, Taemin, Key sunbae, dan beberapa sunbae yang tidak ku tahu namanya sudah memulai permainan.

Aku melihat ke arah papan score dan sekolahku unggul dengan angka 5-2. Berarti permainan baru di mulai. Sebenarnya aku cukup kagum dengan Taemin, karena di usianya yang lebih muda dari semua sunbaenya. Ia bisa menjadi kapten tim basket sekolah kami. Mungkin karena kelincahan dan skill-nya yang sangat bagus.

Aku dan Sulli mulai menyelip di antara beberapa penonton hingga kami dapat duduk di tempat para pemain cadangan duduk. Tunggu, jangan heran jika aku dan Sulli bisa mendapatkan tempat duduk strategis di sini dengan mudah. Ingat dengan Taemin menjadi kapten basketnya? Kami mendapat tempat duduk dengan mudah karena sudah di beritahu oleh Taemin.

Suara sepatu terus berdecit dengan lantai yang licin di lapangan indoor ini. Lapangan indoor ini sangat luas hingga hampir sebagian penonton yang mendapatkan tempat duduk. Dan suara teriakan yeoja-yeoja itu sangat menyakitkan telinga. Aku heran darimana suara sekeras itu mereka dapatkan dengan mudahnya? Dan bahkan, ya ampun apa itu? Banyak sekali banner yang di bawa-bawa para yeoja itu. Mereka pikir ini tempat menonton konser apa? Aigo.

Aku mulai fokus ke permainan dan memperhatikan Minho oppa dan Taemin dengan seksama. Dan mereka berdua benar-benar tidak mau mengalah pada lawan mereka. Mereka terus merebutkan bola itu, seperti merebut seorang yeoja yang sangat berharga. Hei! Apa-apa ini. -_-

Dengan cepat quarter pertama di menangkan oleh pihak sekolah kami. Walaupun perbedaan skornya cukup banyak. Saat break time mereka segera menyerbu botol minum dan handuk yang di sodorkan teman-teman satu tim mereka. Setelah itu mereka berunding sejenak dengan coach sekolah kami.

“Yoonri, kau menuruti permintaanku ya?” Tiba-tiba Minho oppa—sambil tersenyum lebar—menghampiri aku dan Sulli setelah di beri sedikit petunjuk oleh coach mereka.

“Ne, kan oppa yang menyuruh. Awalnya aku juga tidak mau datang. Oppa tahu hari ini aku masih lelah, badanku serasa mau rontok.” Kilahku sambil memanyunkan bibirku ini.

“Mianhae saengi.” Minho oppa terkekeh lalu mecubit kedua pipiku. Aigo sakit sekali. Hiks.

Setelah sedikit berbincang dan memberi semangat pada Minho oppa dan Taemin—tentu saja aku harus memberi semangat padanya jika tidak sifat kekanakannya akan muncul—mereka segera memulai permainan quarter kedua. Dan beberapa pemain lawan ada yang di ganti, sedangkan pemain sekolah kita masih sama dengan quarter pertama.

Sepertinya pemain lawan lebih menggunakan fisik dari pada skill-nya untuk bermain. Mereka terlihat mulai mendorong pemain kami satu persatu. Permainan di quarter kali ini juga jauh lebih sengit, karena masing-masing tim baru mengumpulkan 6 poin. Perasaan cemas mulai menghantui seisi lapangan ini termasuk aku dan tiba-tiba suara ejekan penonton mulai terdengar. Mengapa?

PRIT

Suara peluit dari juri terdengar nyaring dan berhasil membuat lapangan ini semakin ricuh. Karena salah satu pemain bernomor punggung 17 mendorong Minho oppa sampai tersungkur. Bukannya membantu dan meminta maaf ia malah menjauhi Minho oppa dan sedikit tersenyum licik. Dengan cepat coach sekolah kami berlari ke arah lapangan di ikuti oleh beberapa tim medis. Mereka membawa tandu lalu mengangkat Minho oppa ke pinggir lapangan.

“Minho, gwenchana?” Tanya coach khawatir. Aku, Sulli, dan beberapa pemain berdatangan melihat kondisi oppa.

“Ne gwenchana, hanya terkilir sedikit.” Gumam oppa sedikit meringis. Dengan cepat coach memanggil pemain lain untuk menggantikan posisi Minho oppa, dan mulai memperhatikan pertandingan lagi.

“Oppa, jinjja gwenchana?” Tanyaku berusaha meyakinkan diriku sendiri—mungkin.

“Ne, gwenchana Yoonri. Tidak usah khawatir, ara?” Sahut Minho oppa sambil mengacak rambutku pelan. Dan aku hanya bisa mengangguk pelan tanda mengerti.

“Oppa mau kemana?” Tanyaku—lagi. Saat melihatnya berusaha berdiri.

“Aku mau duduk di kursi pemain tidak enak jika duduk di atas tandu ini.”

“Biar kubantu.” Aku segera menaruh lengan kiri oppa di leherku.

“Gomawo Yoonri-ah.” Balasnya sambil tersenyum.

“Aku bantu juga ya sunbae.” Ujar Sulli tiba-tiba. Sepertinya ia tahu jika aku butuh bantuan karena sebenarnya Minho oppa agak berat. Hehehe.

“Ne, gomawo Sulli. Oh ya kenapa kau memanggilku dengan sebutan sunbae? Kau bisa memanggilku dengan oppa aku tidak terlalu suka berbicara dengan bahasa formal.”

“Oh ne sun—, ani maksudku oppa.” Ucap Sulli, sepertinya ia bisa mulai dekat dengan Minho oppa juga. Hei aku tidak cemburu yaa hihihi.

Setelah mendudukkan oppa di bangku pemain, kami mulai memfokuskan diri pada pertandingan dan untungnya sekolah kami dapat unggul beberapa poin dari lawan. Sebentar sepertinya Taemin mulai bermain tidak sabaran. Aku bisa melihat dari caranya bermain dan ekspresinya. Aku tidak pernah melihatnya bermain dengan ekspresi seperti itu, apa mungkin karena lawannya sudah melukai salah satu temannya? Entahlah, ia seperti bisa menelan lawannya.

kimidakeni Kiss Kiss Kiss donnatokimo
Bokuga zutto kimino sobani iruyo
Kiss Kiss Kiss kimidakeo…

Tiba-tiba suara handphone-ku berbunyi nyari hingga membuyarkan semua pikiranku. Tumben sekali ada yang menelpon di saat seperti ini. Yoona eonni? Kenapa ia menelfonku?

“Yeoboseyo? Eonni, waeyo?” Tanyaku.

“Yeoboseyo, Yoonri-ah cepat kau bereskan barang-barangmu. Aku akan meminta ijin kepada sekolah selama beberapa minggu untukmu. Sekarang aku sedang dalam perjalanan ke sekolahmu. Sekitar 3 menit akan sampai.” Tiba-tiba rasa khawatir mulai mengelilingiku.

“Ne? sebenarnya ada apa eonni?”

“Appa kecelakaan mobil, aku juga kurang tahu secara lengkap tapi eomma menelfonku untuk datang ke London. Eomma sudah meminta sekertarisnya untuk mendapatkan pesawat hari ini juga, dan kita beruntung mendapatkan penerbangan jam 3 sore hari ini. Sekarang kau cepat urusi barang-barang sekolahmu. Aku sudah meminta ahjumma untuk menyiapkan baju-baju kita dari rumah.” Jelas Yoona eonni panjang lebar.

“Mwo!? Appa kecelakaan?” Ujarku masih tidak percaya.

“Ne, makanya sekarang kau cepat bereskan barangmu. Aku tunggu di parkiran 5menit lagi.” Ucapnya terburu-buru.

“Tapi eonni aku harus ikut lomba dance hari ini. Aish, ani appa lebih penting. Annyeong, jangan lama-lama arasseo?” Tanpa menunggu balasan eonni aku memutuskan sambungan telfon. Aku hendak berlari sampai tangan seseorang mencegahku.

“Waeyo Yoonri? Sepertinya kau sedikit cemas.” Tanya Sulli.

“Appa kecelakaan—“

“Mwo!? Aboeji kecelakaan!? Jinjja?” Sela Sulli.

“Ne, makanya sekarang Yoona eonni akan menjemputku dan jam 3 sore nanti kami sudah pergi ke London.” Jelasku terburu-buru. Aigo, Sulli-ah bisakah kau tidak bertanya dulu aku jarus cepat-cepat.

“Sulli-ah sebaiknya kau jangan bertanya dulu, sepertinya Yoonri harus cepat-cepat.” Sepertinya Minho oppa sangat membaca apa yang ada di pikiranku.

“Oh ne, annyeong Yoonri-ah hati-hati di jalan. Jika sudah sampai email aku araseo?”

“Ne, Sulli itu pasti. Annyeong Sulli, Minho oppa. Oh iya Sulli bilang ke Taemin ok? Anneyong.” Teriakku seraya meninggalkan mereka dan berlari ke kelas dan loker mengambil beberapa barangku.

Appa kumohon, jangan sampai terjadi sesuatu yang buruk. Aku masih muda appa. Aku masih belum siap memimpin perusahaanmu yang sangat besar itu. Aku masih butuh beberapa tahun untuk bisa memimpin perusahaan itu dengan baik. Kumohon appa.

To Be Continue