Tags

, ,

cover

Title : Faith Hate Love
Author : Choi Yoonri
Main Cast : Park Hyunri, Kim Kibum, Lee Taemin
Support Cast : Choi Minho, Song Minhye, Lee Jinki, Kim Jonghyun
Length : Twoshot
Genre : Romance, Friendship, a bit humor I thnk
Rating : PG-15

Hyunri POV

Dunia memang aneh. Kebanyakan kisah cinta yang kita mulai berawal saat kita mulai membenci orang itu. Jangan tanyakan padaku alasannya kenapa, yang jelas aku juga merasakan hal itu. Bahkan ada peramal yang mengatakan jangan membenci orang karena orang itulah yang akan menjadikan jodohmu.
Konyol? Memang tapi siapa yang tahu dengan akhirnya. Hanya yang ber-Kuasalah yang tahu segalanya. Karena takdir kita ada di tangan-Nya bukan pada peramal.

***

“Ya! Kembalikan bukuku. Kau namja bernama aneh dan bertingkah seperti yeoja!” Teriakku penuh marah pada seorang namja.
Bayangkan saja saat bel berbunyi menandakan istirahat. Namja ini segera mengambil majalah fashion-ku dan mengangkat buku itu tinggi-tinggi hingga ke atas. Padahal aku tidak melakukan kesalahan apa pun padanya.

“Mwo!? Apa kau bilang namja bernama aneh dan bertingkah seperti yeoja!? HELLO!!! Nama normal dan keren memiliki unsur bahasa inggris ini kau bilang aneh!? Dan apa itu bertingkah seperti yeoja!? Lihat dirimu suka dengan fashion tapi tidak rapi sama sekali! PARK HYUN RI!” Balasnya tidak kalah kencang denganku.

Memang benar seragam yang kugunakan tidak serapi seperti murid yeoja lainnya, maksudku aku tidak suka dengan pakaian yg terlalu rapi. Hey! Ini selera fashion-ku sendiri tampil beda tidak ada masalahnya bukan!? Kenapa malah namja ini yang repot mengurusiku sedangkan yang lain tidak?

“Ini selera fashion-ku! Semua temanku tidak ada masalah dengan gaya pakaianku kenapa kau malah repot!? KIM KI BUM!”Aku melipat tanganku di depan dada. Sepertinya aku harus mengurusi namja satu ini lebih lama dan tidak makan siang agar bisa menang dari namja ini.
Ya, seperti hari-hari lainnya aku dan namja bernama panggilan kunci ini selalu bertengkar hanya karena hal sepele.

“Sudahlah Hyunri kita ke kantin saja ya.” Bujuk Minhye–teman sekelasku– agar aku bisa ke kantin untuk mengisi perutku yang kelaparan dan menghindari pertengkaran ini, sambil menarik-narik ujung lengan kemejaku.

“Shireo! Dia yg memulai dan harus meminta maaf padaku!” Tolakku masih dengan volume yang sama sambil menunjuk Key.

“Mwo!? Meminta maaf!? Jangan berharap Park Hyunri.” Balasnya tajam masih dengan tangannya mengambil majalahku.

“Kau tidak mau!? Ya sudah akan aku—”

“Key! Aku lapar kita ke kantin ya.” Sial! Omonganku dipotong seseorang memanggil namja ini. Sebentar suaranya sangat familiar di telingaku.

“Aish! Lee Taemin kau tidak lihat aku sedang apa!?” Balas Key sambil melihat ke arah pintu, tempat namja itu berdiri.

“Mwo? Paling bertengkar dengan Hyunri lagi. Ayo ke kantin memangnya kau tidak lapar?”

“Aigo, ya sudahlah tunggu sebentar.” Jawab Key menyerah lalu ia melihat ke arahku lagi. Aku menatapnya dengan tajam.

“Kau beruntung Hyunri hari ini aku lapar jadi aku tidak mau meladenimu lebih jauh. Sebagai gantinya aku mengambil ini.” Ia mengacungkan majalahku yg sedari tadi di ambilnya dan berjalan meninggalkanku.

“Ya!!! Itu punyaku!!!” Teriakku kesal sambil menghentak-hentakkan kakiku ke lantai! Memangnya dia tidak punya uang apa!? Sampai harus mengambil barang milik orang lain!? Orang kaya tapi pelit cih!

Ngomong-ngomong namja yang bernama Lee Taemin itu adalah salah satu dari 4 teman namja bernama Key itu. Menurutku semua temannya itu hampir sempurna mereka mempunyai kemahiran tersendiri. Dan yang paling sempurna dimataku sendri adalah namja berambut pirang yang tadi datang ke kelasku, Lee Taemin. Yah, aku menyukainya tetapi tidak ada yang mengetahui, meski Minhye sekalipun. Aku tidak bisa menjelaskan bagaimana sempurnanya dia dan mengapa aku menyukainya. Bukankah jika menyukai seseorang tidak perlu ada alasan?

“Minhye, ayo kita ke kantin bukankah kau lapar?” Tanyaku setelah cukup tenang.

“Ne, kajja. Minho juga mau meminjamkan buku catatanku.”

“Bilang saja jika kau ingin berpacaran dulu.” Sindirku sambil berjalan ke arah kantin. Sedangkan Minhye hanya bisa tersenyum malu.
Oh iya, aku lupa menceritakan pada kalian. Minho dan Minhye adalah sepasang kekasih, mereka cocok menurutku mungkin karena mereka sama-sama pendiam. Mereka mulai berpacaran sejak pertengahan semester 1 di High School ini. Dan Minho termasuk salah satu teman Key itu. Bersama dengan Taemin, Jonghyun—hyung kandung Key–, dan Onew.

***

“Will you eat that all food, Park Hyunri?” Tiba-tiba aku merasakan nafas seseorang di dekat tekukku, saat hendak mengambil seluruh isi nampan ke meja cafetaria.

“Shut up Key! Aku tidak sepertimu yg memakan porsi untuk ukuran yeoja yang sedang diet. Aku lapar.” Sungutku tajam sambil berjalan ke arah meja yg sudah diduduki Minhye. Dari sini aku bisa melihat ia sedang berbincang dengan Minho. Sesekali Minho merapikan poni Minhye yang sedikit berantakan.

“Apa!? Bahkan sepertinya porsi makananmu itu sama dengan Onew hyung.” Sahutnya sambil mengekorku di belakang. Demi Tuhan kenapa ia suka sekali mengejek dan mengikutiku sih!?

“Sudahlah Key, Hyunri hanya kelaparan wajarkan jika ia makan banyak.” Ucap seseorang membelaku dan sepertinya ia mengikutiku juga, ralat mengikuti Key. Dari suaranya aku mengenali bahwa itu suara Taemin.

“Ya, kau tidak lihat porsinya itu? Seperti pekerja bangunan tahu!” Jawab Key pada Taemin. Bahkan ia masih mengekorku saat aku sudah sampai di meja makan dan duduk di depan Minhye.

“Bisakah kau berhenti mengomentariku? Eommaku bahkan tidak peduli dengan porsi makanku.” Jawabku sinis sambil membersihkan sendok dan sumpit dan mulai menyantap makan siangku.

“Minhye kau pesan makan dengan Minho aku akan menjaga tempat untukmu.” Sahutku sambil menyuap nasi dari mangkuk.

“Oke kau tunggu di sini. Kajja.” Ucap Minhye sambil menarik tangan Minho. Dan kalian tahu makhluk bernama Key itu bahkan ikutan berdiri di depanku. Apakah ia masih mau mengomentariku!?

“Key kau tidak lapar, kajja.” Ujar Taemin yang sepertinya menyadari aku menatap Key seperti mengatakan pergi-dari-hadapanku.

“Ne, untuk apa aku disini. Aneh.” Ucapnya lebih ke dirinya sendiri dan pergi meninggalkanku sendiri. Taemin menoleh ke arahku sejenak dan melambaikan tangannya sambil tersenyum lalu pergi mengikuti Key. Ya Tuhan mimpi apa aku semalam?! Aigo.

***

Akhirnya bel pulang sekolah. Huahhh aku ingin beristirahat di rumah dan tidur saja. Coba kalo hari ini bukan hari selasa pasti aku sudah pergi ke rumah. Sekarang aku dengan terpaksa aku menuggu di halte menunggu bis, karena aku harus bekerja sambilan di sebuah café kecil.

Walaupun keluargaku cukup berada, tapi aku suka membantu mereka untung mendapatkan uang lebih. Ya bisa di bilang untuk menambah pengalaman sendiri. Aku tidak seperti kebanyakan anak yeoja yang kaya yang selalu meminta uang pada orangtuanya tanpa melakukan apapun.

“Hyunri, kau mau kemana?” tiba-tiba seseorang mengendarai motor sport hitam berhenti di depanku. Aku mengerutkan kening dan melihatnya dengan pandangan kau-siapa. Seakan mengerti isyarat mukaku, ia membuka helm nya dan… wow! Lee Taemin tepat di depanku sekarang.

Ok jika kalian heran kenapa aku segitu kagetnya adalah… karena aku tidak terlalu dengan dengan Taemin. Bahkan kami belum pernah saling berkenalan. Ia mengenalku karena Key-temannya- sering mengerjaiku, jadi lama kelamaan sepertinya ia hafal dengan nama dan wajahku.

“Oh, kau aku pikir siapa. Aku mau ke tempat kerjaku kau?” tanyaku basa-basi dan mencoba untuk menjawabnya dengan normal. Kenapa jantungku tidak normal beginii!!!!???

“Pulang ke rumah, perlu ku antar? “

“Ne? oh tidak usah nanti merepotkanmu.” Tolakku.

“Gwenchana, aku juga bosan di rumah terus. Kajja.” Ia langsung memberikanku sebuah helm hitam. Dengan enggan aku menerima helm itu dan menaiki motornya.

“Pegangan.” Sepertinya ia mengatakan sesuatu tapi apa?

“Mwo?” Tanyaku. Tiba-tiba motornya melaju dengan pesat meniggalkan halte itu. Otomatis badanku maju ke depan dan segera memeluknya. Aigo eomma!!! Tiba-tiba ia mengerem motornya…

“YAA!!! Kau mau mati!?” teriakku padanya sambil memukul punggungnya.

“Aniya! Aku tidak tahu kau bekerja dimana.” Ujarnya polos. Oh iyaa benar juga. Setelah memberitahunya tempat kerjaku. Ia langsung menancapkan gas motornya ke tempat kerjaku.

“Gomawo Taemin-ah.” Kataku sambil mengembalikan helmnya dan merapikan rambut panjangku.

“Ne, cheonmaneyo.”

“Kau mau mampir dulu? Aku traktir saja sebagai ucapan terimakasihku otte?” Tanyaku.

“Hmmm boleh. Lumayan gratis.” Ujarnya sambil mehrong ke arahku. Aku tertawa melihat tingkahnya.

“Kau mau apa?” Tanyaku setelah mengganti seragam dan menggunakan celemek café.

“Caramel cappuccino saja.” Sahutnya setelah melihat-lihat daftar menu.

“Oke.” Aku segera membuatkan pesanannya. Walaupun aku tidak melihatnya, tapi aku seperti merasakan ada sepasang mata yang memperhatikanku. Apakah mungkin itu Taemin?

***

Setelah shiftku selesai, aku berpamitan dengan semua karyawan dan berjalan keluar ke arah halte bus seperti baisa. Sekarang sudah mulai memasuki musim gugur, untung aku membawa mantelku. Angin berhembus sangat kencang, padahal baru sekitar jam 6. Ahh rasanya aku ingin cepat-cepat pulang dan makan.

Sembari menunggu bus datang aku mengeluarkan ipodku dan memutar beberapa lagu secara acak sambil bersenandung kecil. Tiba-tiba mataku tertuju pada suatu toko buku di seberang jalan. Aku melihat seorang namja sedang berdiri di depan toko itu sambil memegang buku bacaannya.

Kemudian ia berjalan sepertinya ke arah rumahnya. Aku terus menatapnya, ya aku kenal sosok namja itu. Aku terus memperhatikannya yang mulai menyebrangi jalan itu sambil membaca buku yang di pegangnya. Tiba-tiba ada sebuah mobil yang melaju dengan kecepatan cukup tinggi. Aku hendak berteriak dan berlari ke arah namja itu.
“AWAS!!!” teriakku berusaha berlari ke arahnya yang cukup jauh dari hadapanku.

“KEY!!! Gwenchana?” teriakku panik sambil mengangkat kepalanya ia tidak menjawabku sama sekali. Orang-orang panik mulai mengurumuni kami-aku dan key.

“Panggil ambulance cepat!!!” teriakku panik.

***

Aku duduk di sebelah ranjang namja ini, Key. Setelah di larikan ke rumah sakit, dokter segera mengatasinya. Dokter bilang tulang kaki kanan Key sedikit retak, selebihnya tidak apa-apa. Hanya di dahinya terdapat beberapa jahitan, sepertinya saat ia tertabrak kepalanya terbentur trotoar. Dan untung saja itu tidak membuatnya gegar otak.

“Key!” seorang namja dengan nafas tersengal-sengal masuk ke ruangan tempat rawat Key. Aku hanya bisa melihatnya yang sepertinya habis berlari-lari, datang bersama temannya.

“Hyunri-ssi? Kenapa kau bisa ada di sini?” Tanya teman namja itu, Onew sunbae di sekolahku dan satu angkatan dengan Jonghyun sunbae yang sekarang melihat keadaan adiknya itu.

“Onew sunbae? Sebenarnya…” Aku mulai menceritakan semua kejadian yang baru di alami oleh Key. Jika boleh jujur, sebenarnya aku masih shock dengan kejadian yang baru menimpa Key. Ini pertama kalinya aku melihat situasi kecelakaan secara langsung.

“Hyunri-ssi, kau boleh pulang sekarang. Aku dan Jonghyun yang akan menjaga Key.” Tiba-tiba Onew sunbae memecahkan keheningan, setelah 1 jam yang lalu aku menceritakan semuanya pada mereka berdua.

“Lebih baik kau pulang sekarang Hyunri-ssi besok masih harus sekolah. Kau pasti lelah.” Balas Jonghyun sunbae yang masih di samping adiknya itu sambil menatapku. Tatapannya itu… sangat jelas jika ia sedang sedih dan khawatir dengan keadaan adiknya itu.

“Ne, sunbae. Aku pulang dulu. Annyeong.” Sahutku sedikit tidak bertenaga dan beranjak dari kursi.

“Hyunri-ssi, jeongmal kamsahamnida kau telah menyelamatkan adikku.” Balas Jonghyun sunbae.

“Ne sunbae. Cheonmaneyo annyeong.” Jawabku sambil tersenyum.

“KEY!!!” Tiba-tiba Jonghyun sunbae berteriak kencang. Aku baru saja hendak membuka pintu langsung berbalik mendekat ke ranjang Key.

“Key! Gwenchana?” Tanya jonghyun sunbae, sepertinya ia ingin menangis melihat adiknya itu sadar.

“Hyung? Aku dimana? Onew hyung? Hyunri?” aku hanya tersenyum menanggapi ucapan Key yang seperti orang kebingungan.

“Hyunri yang menyelamatkanmu saat kau tertabrak Key. Kau ingat?” jawab Jonghyun sunbae. Key mengerutkan keningnya berusaha mengingat sesuatu.

“Ah, ne. Gomawo Hyunri, maaf telah merepotkanmu.” Ucap Key tulus. Dan.. jujur aku masih tidak percaya jika Key di depanku ini adalah Key yang selalu mengerjaiku setiap hari dengan mengataiku dan mengerjaiku. Apa mungkin otak nya terbentur aspal jika otaknya itu sedikit berubah posisi?

“Ne, gwenchana Key.” Ujarku sembari tersenyum. Setelah memastikan kondisi Key lumayan sehat, aku pun pulang ke rumahku.

***

Beberapa hari kemudian…

Aku jadi tidak yakin jika Key sudah sembuh dan normal. Mengapa? Karena saat aku menjenguknya di rumah sakit, ia menyapaku dengan ramah dan tersenyum. Bahkan ia membuat beberapa lelucon lucu dan tidak pernah mengerjaiku! Apa mungkin itu karena kakinya sedang sakit hingga ia tidak mau repot-repot mengerjaiku? Sepertinya tidak, karena saat ia masuk ke sekolah dengan keadaan 100% sehat ia masih aneh! Ani bahkan sangat-sangat-sangat aneh. Aku semakin percaya jika ada tidak normal dengan otaknya itu.

“Hyunri-ah…”Aish suara itu lagi.

“Wae Key?” tanyaku malas.

“Ani, gwenchana hanya ignin memanggil.” Jawabnya dengan cengiran yang begitu lebar di mukanya. Sedangkan aku hanya bisa menatapnya dengan tersenyum malas lalu fokus dengan tugas yang di suruh songsaenim.

“Hyunri, bisakah kau mengajariku nomor ini? Aku tidak begitu mengerti.” Ucapnya yang tahu-tahu sudah mengusir teman sebangku-ku.

“Kenapa kau tidak tanyakan pada yang lain saja Key? Aku sedang mengerjakan soalku.” Tolakku secara halus dan sedikit malas tentunya.

“Karena aku sudah terlanjur duduk di sebelahmu dan aku malas berpindah lagi.” Elaknya tak mau kalah.

“Kalau begitu aku panggil Minhye untuk kesini mengajarimu otte? Diakan pintar.”

“Shireo.” Balasnya acuh tak acuh.

“Kalau begitu aku panggilkan songsaenim. SONGSAENIM!” Teriakku keras memanggil songsaenim yang sedang mengajari beberapa murid di meja mereka. Ia mulai menengok ke arahku, dengan cepat aku mengangkat tanganku memberi tanda jika aku yang memanggilnya. Tetapi dengan cepat Key menahan tanganku agar tidak jadi kuacungkan ke atas. Aku melihat ke arah songsaenim, ternyata ia berpindah ke murid yang lain.

“Ya! Kau sangat menggangguku tahu!” Teriakku galak.

“Mianhae.” Ucapnya sambil menundukkan kepalanya. Aish kyeop—andwae! Apa yang kupikirkan barusan.

“Ah, ya sudahlah jika kau yang tidak mau pindah lebih baik aku saja.” Aku segera membereskan bukuku hendak pindah ke meja Minhye. Tapi tangan key kembali mencegahku.

“Kau tidak bisa bertingkah baik sedikit padaku ya? Park Hyunri?” Tanyanya lembut. YA! Kenapa dia jadi seperti ini!! Sebenarnya siapa yang aneh aku atau dia!? Eomma! Aku ingin pulang hiks.

“Oke, aku pasrah Kim Kibum aku akan bertingkah baik padamu jika kau menjawab pertanyaanku.” Aku duduk kembali di kursiku sambil menatapnya tajam.

“Mwo?” Tanyanya sedikit antusias.

“Kenapa kau menjadi aneh sejak kecelakaan itu?” Tanyaku to the point.

“Ne? Aneh? Aku tidak merasa aku menjadi aneh. Aku hanya merasa di kelilingi malaikat yang cantik dan baik hati sehingga aku harus mengikuti tingkah mereka.” Ya ampun, dia ini terkena gejala orang autis atau apa!?

“Ya! Jawab yang benar!” Teriakku kesal.

“Aku serius Hyunri-ah. Bukannya kau senang jika aku tidak menganggumu lagi?” Tanyanya yang sedikit membuat terkejut.

“Ne! Tentu saja, tapi aku merasa aneh Key.” Ujarku memelankan suaraku.

“Lama-lama kau juga akan terbiasa,ok? Tidak ada pertanyaan lagi bukan? Kalau begitu cepat ajariku ini!” Paksanya.

“Ne ne…”

***

Author POV

“Key, kulihat sejak kau kecelakaan kau berubah banyak.” Ucap seorang namja saat mereka pulang bersama seperti biasa.

“Maksudmu? Langsung ke pointnya saja Taemin-ah.” Ujar Key malas bertele-tele.

“Ok, maksudku… Kau sudah tidak pernah bertengkar dengan Hyunri lagi.”

“Hahaha, apakah perubahannya segitu besar hingga semua orang menyadarinya?” Ledek Key sambil tertawa keras.

“Tentu, Key. Dulu kau sering sekali mengerjai Hyunri sekarang kau malah berbuat baik padanya Minhye saja sampai bertanya padaku karena tingkahmu itu.” Jawab namja bermata besar, Minho.

“Jinjjayo? Aku hanya ingin sedikit berbalas budi padanya karena telah menolongku. Dan jika kupikir akan lebih baik jika aku berhenti mengerjainya. Padahal saat melihatnya aku ingin sekali mengerjainya. Tetapi jika mengingat perbuatannya itu, aku tidak jadi mengerjainya.” Jelas Key panjang lebar.

“Minho!” Tiba-tiba teriakan seorang yeoja terdengar dari belakang mereka. Song Minhye, siapa lagi jika bukan dia?

“Sudah mau pulang?” Tanya Minho lembut. Dan di jawab dengan anggukan oleh yeojachingu nya itu. “Kajja. Aku duluan, annyeong.” Sahut Minho lalu meninggalkan kedua sahabatnya itu. Sedangkan 2 nya lagi—Onew dan Jonghyun—mereka masih ada kelas tambahan untuk menjadi murid senior.

“Aku pulang juga ya.” Ujar Key sambil memainkan kunci motor sportnya. Baru saja ia hendak berjalan, Taemin menghalanginya.

“Key! Aku meminta satu hal padamu.” Sahut Taemin serius. Key menatap Taemin dengan mengangkat sebelah alisnya.

“Kau jangan terlalu baik dengan Hyunri.” Key makin heran dengan ucapan Taemin.

“Aku menyukai Hyunri.” Key mengerjapkan matanya beberapa kali sampai…

“MWO!!??” Teriak Key sekeras-kerasnya, syok, kagum, takjub… semuanya bercampur menjadi satu. Mulut Key ternganga seperti orang bodoh masih tidak percaya dengan ucapan Taemin.

“Aku serius Key.” Ucap Taemin seakan mengerti apa yang ada di pikiran sahabatnya itu. Key masih terdiam beberapa saat kemudian ia membuka mulutnya.

“Sepertinya tidak bisa Taemin-ah.” Ucap Key dengan ekspresi biasa, tidak terkejut, tidak bercanda. Taemin sedikit tidak mengerti dengan ucapan Key, tapi firasatnya bilang ini bukan sesuatu yang bagus.

“Aku juga menyukainya.” Ujar Key dengan yakin. Taemin sedikit terkejut tetapi tidak sampai berteriak atau mengangap seperti Key, ia seperti mempunyai firasat itu juga.

“Lebih baik kita bersaing secara sehat, maksudku siapa yang di sukai Hyunri lah yang menang. Aku tidak akan melarangmu jika kau berbuat baik padanya atau apapun. Itu terserah. Yahh… pada inti nya seperti itu, aku juga tidak terlalu bisa mengucapkan apa isi pikiranku sendiri.” Jelas Key sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

“Arraseo Key, ok aku setuju denganmu tapi dengan satu syarat kita tidak boleh memberitahunya jika salah satu dari kita menyukainya. Otte?”

“Ok aku setuju. Kajja kita pulang.” Ajak Key. Walaupun masalahnya sedikit rumit tetapi sepertinya pertemanan mereka tidak bisa putus begitu saja karena seorang yeoja.

Sejak saat itu baik Key maupun Taemin semakin dekat dengan Hyunri. Hyunri sendiri mulai bingung dengan sikap Taemin yang tiba-tiba menjadi sangat baik dan dekat dengannya. Tapi itu justru membuat Hyunri semakin senang. Hyunri juga mulai bersikap baik terhadap Key yang selalu mengajaknya ke suatu tempat untuk sekedar berjalan-jalan.

***

Hyunri POV

Hari ini Key mengajakku pergi memakan eskrim setelah pulang sekolah. Awalnya aku bingung kenapa aku mau-mau saja di ajak pergi olehnya. Tapi jika kupikir-pikir ya tidak apalah jika pergi sekali-sekali. Tunggu jika di pikir aku semakin sering pergi belakangan ini, eomma bahkan heran jika aku sering pulang terlambat.

“Hyun-ah, belakangan ini kau sering pergi?” Tanya Key setelah kami memesan 2 eskrim dan duduk di toko itu. Yap, dia mulai membuat panggilan untukku Hyun-ah tanpa memberi alasan apapun. Awalnya aku menolak tapi ia tetap memanggilku sepeti itu, mau tak mau akupun jadi tebiasa dengan panggilannya itu.

“Ne? Ani aku hanya sering pergi denganmu saja. Wae?” Bohong. Aigo kenapa hanya untuk hal seperti ini aku berbohong padanya, padahal aku kan juga sering pergi dengan Taemin. Hyunri pabo!!!

“Jinjja? Kau tidak pergi dengan Minhye sekalipun? Kau hanya sering pergi denganku?” Tanyanya bertubi-tubi.

“Ne. Wae? Kenapa kau bertanya seperti itu terus?” Balasku sambil melahap eskrimku.

“Ani, gwenchana.” Jawabnya sambil melahap eskrimnya lagi. Sesaat kemudian suasana menjadi aneh dan sedikit canggung, padahal Key biasanya kan paling bawel.

“Habis ini kita mau kemana?” Ya! Park Hyunri kenapa kau menanyakan itu! Pabo pabo!

“Hmmm? Kau tidak mau pulang?” Tanyanya heran sambil melihatku.

“Ani aku mau pulang.” Jawabku gugup sambil melahap eskrimku dengan cepat berusaha menghilangkan kegugupanku.

“Kalau begitu ngapain tanya. Pabo.” Runtuknya. Tiba-tiba aku merasakan jarinya menyentuh ujung-ujung bibirku dan membersihkan sisa-sisa eskrim.

“Kau ini umur berapa masa makan eskrim saja berantakan.” Ocehnya sambil terus membersihkan bibirku dengan jarinya. Sedangkan aku hanya bisa terpana dengan perlakuan Key. Ya! Apa yang kau pikirkan Hyunri!!!

“Nah, sudah bersih.” Ucap Key dengan nada senang dan mengembalikanku kea lam sadar.

“Gomapta.” Balasku sambil tersenyum. Aku merasakan ada sesuatu yang berbunyi, dengan cepat aku mengecek handphoneku.

“Yeoboseyo.” Jawabku.

“Yeoboseyo, Hyunri-ah bisakah kau datang ke taman dekat sekolah kita?” ujar seorang namja.

“Ne, Taemin-ah. Kapan?”

“Sekarang, otte?”

“Ne, tunggu sebentar ok. Annyeong.” Sebenarnya ada pa ya? Dan saat aku hendak berpamitan dengan Key, aku melihatnya sedang mengetik sesuatu di handphonenya.

“Key, sepertinya aku harus pergi sekarang.” Ucapku sambil meneguk air mineral yang tersedia di meja.

“Oke, perluku antar?” Tanya Key.

“Ani, aku hanya pergi dekat sini saja. Annyeong.” Jawabku lalu pergi meninggalkan tempat itu.

***

Author POV

“Taemin-ah, sudah menunngu lama?” Panggil Hyunri saat melihat Taemin duduk di bangku taman.

“Ani, aku juga baru sampai.” Sahut Taemin seraya tersenyum.
“Ada apa?” Tanya Hyunri penasaran mengapa tiba-tiba Taemin menyuruhnya kemari.

“Engg… Hyunri-ah… saranghae.” Ujar Taemin, dengan cepat ia mencium pipi Hyunri.

“Sepertinya aku mengganggu.” Ujar seseorang sambil terkekeh, sontak Hyunri melihat ke arah suara itu. Sedangkan Taemin tidak terkejut sama sekali, seakan ia sudah atahu hal ini akan terjadi.

“Key, sedang apa kau di sini?” Tanya Hyunri sedikit panik sambil berdiri. Taemin yang merasa tidak enak jika duduk sendiri pun berdiri di samping Hyunri.

“Taemin memintaku kesini.” Sahut Key tersenyumn sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya.

“Ayolah Key, jangan mengulur waktu.” Celetuk Taemin tak sabaran. Hyunri hanay bisa mengerutkan keningnya tanda tak mengerti.

“Hahaha, araseo. Hyun-ah… saranghae.” Ujar Key to the point sambil mengecup keninga Hyunri. Sama dengan saat mendapat perlakuan sebelumnya dari Taemin, Hyunri hanya bisa membelalakkan matanya.

“Kau pasti heran mengapa tiba-tiba kita bertiga di sini mengutarakan perasaan kami masing-masing.” Ucap Key.

“Sebenarnya aku dan Key mengetahui perasaan kami masing-masing. Maaf jika ini terlalu cepat bagimu, tapi… Aishh aku tidak pandai merangkai kata Key kau saja yang katakan.” Kata Taemin sambil mendorong pelan lengan Key.

“Errr, Hyun-ah jika kau berpikir aku menyukaimu sejak kau menolongku itu salah. Yah aku hanya bisa mengatakan itu.” Sahut Key sambil menggaruk tengkuknya.

“Jadi… Park Hyunri would you be my girlfriend?” Ucap kedua namja itu bersamaan.

***

5 years later…

“Ya! Yeobo sudah hentikan! Kau sudah melakukannya semalaman! Badanku remuk!” Ujar seorang yeoja sambil berusaha beranjak ke kamar mandi.

“Tapi aku masih mau lagi yeobo.” Balas sang namja sambil memberikan tatapan menggoda pada sang yeoja.

“Andwae! Aku akan segera mandi dan membuat sarapan araseo!” Ucap yeoja tersebut seraya beranjak ke kamar mandi tanpa mempedulikan jawaban namja tersebut.

“Hello my little princess.” Ujar namja tersebut ketika melihat seorang yeoja kecil berdiri di depan kamar dengan wajah masih mengatuk, setelah si namja telah memakai rumahnya.

“Appa, eomma eodiga?” Tanya yeoja yang masih berumur sekitar 3 tahun tersebut.

“Eomma baru mandi kita nonton dulu yuk.” Ajak namja itu seraya menggendong anaknya ke ruang TV.

“Eomma!” Teriak yeoja kecil itu sambil berlari ke arah eommanya, ketika melihat eommanya keluar dari kamar dengan baju rumahnya.

“Aigo, Minhyun-ah kau baru bangun ya?” Tanya yeoja yang di panggil itu seraya menggendong anaknya.

“Engg.” Jawab yeoja kecil itu sambil memainkan rambut eommanya yang panjang.

“Taemin-ah, kau mandikan Minhyun ya. Aku mau masak dulu.”

“Aigo yeobo, bagaimana jika kau memandikan kami berdua saja? Aku sedang malas mandi.” Sahut namja yang selama ini di panggil appa oleh anaknya.

“Aish kau! Otakmu sudah tidak beres. Ppalli yeobo!” Teriak yeoja itu sambil menyodorkan Minhyun ke Taemin. Taemin beranjak dari sofa seraya menggendong Minhyun.

“Hyunri-ah…” Panggil Taemin saat melihat istrinya hendak ke arah dapur.

“Mwo?” Sahut Hyunri acuh tak acuh.

“Ppoppo.” Ucap namja itu sambil tersenyum. Hyunri hanya bisa balas tersenyum sambil mencium suami dan anaknya itu. Setelah Taemin dan Minhyun mandi pun, keluarga kecil itu segera melahap sarapan mereka.

Ting tong…

“Aku yang buka.” Teriak Minhyun seraya turun dari kursi dan segera berlari ke arah pintu.

“Key appa!!!” Teriak Minhyun saat melihat seorang namja berdiri di depan pintu sambil tersenyum. Sedangkan namja yang dipanggil Key itu segera menggendong Minhyun dan membawanya masuk ke rumah.

“Minhyun-ah berhenti memanggil Key ahjussi dengan sebutan Key appa. Arraseo?” Ucap Taemin sambil mengelus kepala anaknya dengan lembut, lalu mengambilnya dari gendongan Key.

“Aigo Taemin-ah, kau ini mudah sekali cemburu denganku.” Ujar Key sambil terkekeh. “Morning sweety.” Dengan cepat Key mencium pipi hyunri yang masih menikmati sarapannya.

“Key, berhentilah memanggilku seperti itu.” Sahut Hyunri sedikit kesal sambil memukul lengan Key. Sedangkan yang di pukul hanya bisa tertawa.

“Ne, Key berhentilah mengganggu keluarga orang.” Ucap Taemin sewot sambil menyuapi Minhyun.

“Ne ne, lagipula aku hanya ingin memberikan kalian ini. Ucap Key sambil mengeluarkan sebuah surat yang terlihat elegan.

“Apa ini?” Tanya Hyunri dan Taemin bersamaan. Lalu Hyunri membukanya dengan penasaran. Dan…

“MWO!!?? CHUKKAE KEY!!!” Teriak Hyunri dengan senang sambil memeluk sahabat yang pernah menyukainya.

“Hehehe gomawo.” Jawab Key seraya membalas pelukan Hyunri, lalu bergantian memeluk Taemin yang merentangkan tangannya lebar.

“Jadi aku tidak akan datang mengganggu kalian lagi bukan?” Ejek Key, sedangkan Hyunri dan Taemin hanya bisa tertawa menanggapi ucapan Key.

END