Tags

, , ,

Title : Jebal, Look at Me!
Author : Choi Yoonri
Main Cast : Im Yoonri (readers)
Support Cast : Choi Minho, Lee Taemin, Choi Sulli
Length : Sequel
Genre : Friendship, Family, Romance
Rating : PG-15/PG-17

Part 9

Keramaian di setiap koridor sekolah tidak pernah absen ketika pagi hari dan waktu saat pulang. Tetapi itu semua cukup untuk menutupi perasaan Yoonri yang terhembus angin kencang. Ia yang biasanya selalu ceria dan membalas sahutan semua teman yang memanggilnya, ia hiraukan begitu saja. Ia terus berjalan sambil menunduk hingga sampai saat ia hendak memasuki kelasnya, ia mengangkat dagunya lalu kembali tersenyum.

“Annyeong yeorobun!” Teriak Yoonri begitu ia memasuki kelasnya sambil tersenyum lebar dan menduduki kursi yang letaknya sama seperti tahun lalu seperti yang ia lakukan setiap hari.

“Kau kenapa Yoonri-ah?” Tanya Sulli begitu menyadari sedikit perbedaan dari Yoonri.

“Ani, nan gwenchana.” Jawab Yoonri sembari memainkan ipodnya sejenak dan terus tersenyum.

“Ya! Kau tidak bisa menyembunyikan dariku nyonya Im!” Seru Taemin sambil menutup ipod Yoonri dengan tangan kirinya, agar Yoonri mengalihkan perhatiannya ke Taemin. Sontak Yoonri melihat Taemin dengan ekspresi orang polos.

“Apa? Aku tidak menyembunyikan apapun.” Balas Yoonri tenang sambil menyingkirkan tangan Taemin dari hadapan ipodnya itu.
“Ya sudah terserah kau sajalah.” Ucap Taemin langsung pasrah dan mulai mengerjai Sulli lagi.

***

Ketika bel menandakan untuk pulang, semua anak-anak langsung kembali ke rumah mereka masing-masing. Tetapi Yoonri malah terus berjalan melewati rumahnya, hingga ia berhenti di satu kedai kecil yang menjual ddobeoki dan ia duduk di salah satu kursi yang ada setelah memesan pesanannya.

“Kamsahamnida eommonim.” Kata Yoonri begitu pemilik toko mengantarkan pesanannya. Yoonri kemudian makan dengan tatapan kosong, sampai-sampai…

“Yoonri-ah! Ya! Yoonri-ah!” Panggil seorang namja berdiri di depan Yoonri sambil menggerak-gerakkan tangannya. Seketika Yoonri sadar dari lamunannya itu.

“Oppa!? Minho oppa!?” Gumam Yoonri tak percaya dengan namja yang kini berdiri di depannya sambil menarik salah satu kursi untuk duduk bersamanya.

“Ne, waeyo? Kau seperti melihat hantu saja.” Sindir Minho sambil tertawa renyah.

“Aniyo, habis kemarin oppakan—“

“Memarahimu? Mianhae.” Potong Minho dengan cepat dan melipat kedua tangannya di atas meja putih itu.

“Ne, gwenchana oppa. Oppa tidak marah padaku lagi?” Ucap Yoonri masih sedikit shock karena perubahan Minho tiba-tiba.

“Emmm, ani.” Jawab minho dengan santai sambil menghisap pelan teh jahenya.

“Jinjja?” Minho menganggukkan kepala beberapa kali sambil tersenyum ramah.

“Oppa boleh aku Tanya sesuatu?” Tanya Yoonri ketika sunyi sempat menyelimuti mereka. Lagi-lagi Minho menjawab hanya dengan menganggukkan kepalanya.

“Oppa, mulai menyukai Eunseo eonni?” Yoonri langsung bertanya to the point.

“Kalau iya kenapa?” Tanya Minho balik.

“Ani, aku hanya bertanya dan kalau begitu aku tidak akan mengganggu Minho oppa lagi.” Jawab Yoonri sambil memakan pesanannya dengan bertindak santai. Rasanya ia ingin sekali cepat kbur dari situ, paling tidak ada ia berharap ada seseorang yang tiba-tiba memanggilnya untuk pergi dari situ secepat mungkin.

“Lagipula belakangan ini oppa selalu membahas Eunseo eonni dan jika aku amati mungkin Eunseo eonni juga menyukai oppa.” Lanjut Yoonri. Minho hanya mengangguk menanggapi perkataan Yoonri.

“Memangnya salah jika selama ini aku terus membahas Eunseo? Dan lagipula apa urusannya perasaanku denganmu Yoonri-ah? Kenapa kau terus mempermasalahkan masalah itu?”

“Aku hanya selalu merasa tidak enak jika terus dekat dengan oppa padahal oppa menyukai oranglain. Aku hanya takut kehadiranku bisa membuat orang yang oppa sukai menjauh dari oppa.” Elak Yoonri tidak mau memberitahu kenyataan tentang perasaannya.

“Kau terlalu mau tahu dengan urusan pribadiku Yoonri-ah, aku mulai merasa terganggu dengan setiap pertanyaanmu apalagi tentang perasaanku. Awalnya ketika pertama kali kau menanyakannya itu wajar, tetapi lama-kelamaan ka uterus menanyakannya dan aku merasa itu menjadi satu pertanyaan yang sangat aku benci.”

“Mianhae oppa.” Ujar Yoonri sambil menundukkan kepalanya tak berani melihat Minho yang mulai membentaknya.

“Mianhae mianhae. Kau selalu saja mengatakan maaf jika kau berbuat salah, kau piker dengan perkataan itu bisa langsung membuat hatiku membaik hanya karena ulahmu? Kau terlalu mencampuri urusan pribadi Yoonri!” Bentak Minho.

“Kenapa oppa menjadi suka membentakku? Aku hanya mengatakan hal itu! Apa oppa tidak tahu jika aku mulai merasa kehilangan oppa sejak oppa masuk universitas? Dan setiap kali ketika aku mengirim pesan singkat pada oppa, oppa hanya akan selalu membahas Eunseo eonni! Aku merasa di buang oppa!”

“Kalau begitu jangan hubungi aku! Jika kau tahu aku akan terus membahas Eunseo kenapa kau terus mencariku!? Dan berhenti mengikut campurkan nama Eunseo dalam masalah ini, Yoonri!” Balas Minho dengan penekanan di kalimat akhirnya.

“Ini semua memang ada hubungannya dengan Eunseo eonni oppa! Jika tidak ada dia mungkin kita masih baik-baik saja tidak terkena masalah hanya karena hal kecil!” Bentak Yoonri emosi.

“Terserah kau sajalah! Yang penting cantumkan hal ini dengan serius! Jangan pernah menghubungiku sekalipun!” Minho langsung berdiri tanpa menghabiskan pesanannya dan langsung membayar makanannya pada pemilik toko.

Yoonri melihat kepergian Minho dengan rasa sangat sesak. Ia terpaku sejenak lalu ia membayar semua makanannya lalu beranjak dari kedai kecil itu yang tidak terlalu ramai.

Sesampainya di rumah Yoonri langsung pergi ke kamar mandinya dan mengganti pakaiannya dengan hoodie putih dan jeans hot pantsnya. Setelah selesai ia langsung menjatuhkan tubuhnya di atas kasur, jam menunjukkan pukul 7 malam. Yoonri mengambil bantalnya dan menenggelamnya kepalanya di bantalnya itu dan isakan tangispun mulai mengisi kamar tersebut. Sekitar 30 menit waktu telah berlalu suasana di kamar Yoonri tetap sama. Yoonri mendongakkan kepalanya dan mencari handphonenya.

To: Minho oppa
Oppa mianhae aku tahu aku selalu salah maafkan aku oppa jebal.

Yoonri terus menunggu sambil terisak, ia semakin terisak ketika menyadari handphone itu tidak mendapatkan bunyi apapun.

“Yeoboseyo? Sulli-ah…” Gumam Yoonri menelpon sahabatnya itu.

“Yoonri aku sedang sibuk menjaga oppaku, tiba-tiba saat aku pulang ia tergeletak tak berdaya di sofa. Aku harus segera membawanya ke rumah sakit. Mianhae annyeong.” Ucap Sulli begitu cepat tanpa menyadari perubahan suara Yoonri di telfon.

“Ne gwenchana, annyeong.” Balas Yoonri lemah. Klik. Yoonri memutuskan sambungan telponnya.

Kemudian ia mengambil tasnya dan memasukkan handphonenya ke dalam tas. Ia berjalan keluar dengan jalan kaki tanpa tujuan. Ia terus berjalan sambil menunduk dan sedikit menangis, kemudian langkah kakinya berhenti di satu tempat yang cukup ramai dan banyak orang yang keluar masuk. Ia tidak peduli dengan umurnya sekarang, ia merasa ia sedang membutuhkan sesuatu di dalam tempat itu untuk menjernihkan sedikit pikirannya.

Alunan musik yang keras dan beberapa orang yang menari dengan gila memenughi lantai dansa itu. Lampu yang berkelap-kelip dan alunan musik yang menghibur membuat orang-orang di sana merasa nyaman. Yoonri duduk di salah satu meja bar yang memiliki kursi yang tingi dan mulai memesan minumannya. Ia terus meminum minuman itu seperti merasakan ketagihan dalam kandungan minuman itu.

Di sisi lain Sulli yang sedang merawat kakak kandungnya di salah satu rumah sakit karena tipes oppa-nya itu, abru menyadari dengan perubahan suara yoonri saat menelfonnya. Ia langsung mengambil handphonenya dan menghubungi seseorang.

“Yeoboseyo? Sulli-ah? Waeyo?” Sambut orang di seberang sana dengan nada heran.

“Taemin-ah, apa Yoonri menelfonmu?” Tanya sulli to the point.

“Aniyo, waeyo? Kenapa kau menjadi panik begitu?”

“Tadi saat aku terburu-buru mengantar oppaku ke rumah sakit, ia menelfonku tapi aku mengatakan jika oppa sakit dan harus di bawa ke dokter. Dan sekarang aku baru menyadari ada yang aneh dengan suara Yoonri.” Jelas Sulli panjang lebar dengan cukup gelisah.

“Mwo? Apa dia sakit?”

“Mollayo, tetapi suaranya seperti orang sedang menangis.” Jawab Sulli sambil menggigit-gigit kuku jempolnya.

“Mwo? Sekarang ia dimana?”

“Molla, lebih baik kau cepat menelfonnya.” Setelah itu mereka memutuskan sambungannya. Taemin yang berada di apartemennya menonton dengan santai langsung mengambil kunci mobilnya. Dan menekan speeddial di handphonenya itu.

“Yeoboseyo~” Sahut yeoja di ujung telfon dengan nada yang riang tetapi aneh.

“Neo eodiga?” Ucap Taemin tajam sambil menuruni lantai apartemennya.

“Naega? Di club dekat sungai Han.” Tanpa membalas ucapan yeoja itu Taemin langsung mematikkan sambungan dan langsung berlari kea rah basement untuk mengambil mobilnya. Ia langsung mengikuti alunan jalan kota Seoul yang tidak terlalu ramai dengan kecepatan tinggi.

Setelah menemukan tempat yang di maksud yeoja tadi, Taemin langsung memakirkan mobilnya tepat di depan club di pinggir jalan itu dan langsung masuk ke dalam club tersebut. Dengan cepat ia mengedarkan padangannya dan matanya tertuju pada seorang yeoja yang memegang botol bir dengan hoodie putih dan hotpants jeansnya itu, dan di kelilingi oleh beberapa namja. Taemin langsung berjalan ke arah yeoja itu dengan tatapan marah.

“Apa yang kau lakukan di sini hah!?” Ujar Taemin sinis sambil memegang pergelangan yeoja itu dan mengambil botol bir ke 5 yang akan di habiskan yeoja itu seteguk lagi.

“Ya! Kembalikan minumanku!” Teriak yeoja itu tidak terima minumannya di ambil oleh Taemin. Taemin langsung meneguk sisa bir itu sampai habis, kemudian ia langsung menatap tajam pada namja-namja di sekitar Yoonri yang sepertinya mau menggoda Yoonri. Namja-namja itu langsung pergi saat menyadari tatapan Taemin yang seakan membunuh orang itu.

“Ya! Waiters ambilkan satu botol lagi.” Teriak Yoonri pada waiter yang cukup jauh darinya dan sepertinya waiter itu tidak mendengar teriakkan Yoonri.

“Kenapa kau ke sini hah?” Ucap Taemin dengan nada datar tapi menusuk.

“Minho oppa!!!!” Yoonri langsung menenggelamkan kepalanya di kedua tangannya dan mulai menangis histeris. Taemin sadar jika Yoonri sudah mabuk.

“Kenapa dengannya?” Tanya Taemin kali ini dengan perhatian sambil mengusap pundak Yoonri

“Dia menyuruhku untuk tidak menghubunginya lagi.” Tangis Yoonri makin histeris, bahkan beberapa pengunjung mulai melihat ke arah mereka.

“Ya sudah ayo kita pulang.” Ajak Taemin sambil mengambil tas Yoonri dan membayar semua minuman Yoonri dengan uangnya sendiri.

Lalu ia membopong Yoonri ke dalam mobilnya yang ia parkir dengan sembarangan. Taemin langsung masuk ke dalam mobilnya dan mengantar Yoonri ke apartemennya sendiri. Ia takut jika ia mengantar Yoonri ke rumah Yoonri, ia akan menangis lagi saat ia bangun dan tidak ada seorangpun yang merawat atau memperhatikkannya.

Setelah tiba di lobby apartemennya Taemin langsung meninggalakan mobil itu sambil menggendong Yoonri, dan meminta bantuan pada seorang officeboy membantunya membawa tas Yoonri. Da ia membiarkan supir valet yang ada di apartemennya untuk memarikirkan mobilnya di basement. Setelah sampai di depan apartemennya, Taemin langsung memncet kode apartemennya dan langsung di bantu oleh officeboy yang terus mengikutinya untuk membuka pintu setelah ada tanda akses masuk. Taemin langsung menaruh Yoonri di sofanya yang masuk menyala TV nya karena ia terburu-buru saat keluar tadi. Setelah itu ia memberi tip sebagai ucapan teriamkasih pada officeboy itu.

“Dia sepupuku dia kelelahan sampai tertidur setelah pergi jauh, jangan berpikir yang macam-macam arasseo?” Ujar Taemin pada officeboy tadi dan langsung di jawab melalui anggukan oleh officeboy tersebut sebelum pergi.

Taemin berdiri di depan pintu apartemennya yang sudah terkunci sambil berkacak pinggang melihat yeoja yang tertidur di sofanya. Ia melihat ada bekas airmata di sudut mata dan pipinya, bahkan matanya mulai membengkak. Taemin menggendong yeoja itu lagi ke kamarnya, karena hanya ada satu kamar di apartemenya itu walaupun luas.

Taemin membaringkan yeoja mabuk yang sudah tertidur itu di ranjangnya. Tiba-tiba tangan yeoja itu melingkar di leher Taemin dan menariknya kuat. Yeoja itu langsung menempelkan bibir mungilnya pada bibir Taemin. Dengan sigap Taemin langsung menopang kedua tangannya di samping yeoja itu agar tidak terjatuh menindih tubuh yeoja itu. Yeoja tersebut menggigit kecil bibir bawah Taemin agar terbuka, otomatis Taemin yang merasa perih di bibirnya langsung membuka sedikit bibirnya yang terkatup itu.

Lidah Yoonri dengan lincah menelusupkannya ke dalam mulut Taemin, ia mengabsen setiap gigi dan rongga mulut namja yang di ciumnya tanpa sadar. Yoonri terus menekan tengkuk Taemin seakan berusaha memperdalam ciuman mereka, walaupun tidak mendapat balasan dari Taemin.

Bukannya menghentikkan permainan Yoonri, Taemin malah menikmatinya dan mulai membalas ciuman itu membuat suara decakan di ruangan itu. Taemin merasakan sebuah tangan yang cukup dingin menelusupkan tangannya ke dalam bajunya. Taemin langsung sadar dengan apa yang ia lakukan dan menepis tangan itu sambil menghentikan ciuman panas itu.

Ia menaruh kedua tangan yeoja itu dengan pelan ke tempat tidur kembali dan membaringkan yeoja yang masih tertidur akibat alkhohol dan tangisnya. Lalu Taemin menarik selimut sampai di atas dada yeoja itu dan melepas sepatu yang di pakai yeoja itu di bawah ranjangnya.
Taemin menatap Yoonri dengan tatapan yang sulit di artikan. Kemudian ia mendekatkan wajahnya dengan wajah Yoonri lalu mengecup keningnya pelan.

“Aku tidak tahu apa yang Minho lakukan padamu tapi aku akan berusaha untung membantumu menghapus lukamu itu.” Gumamnya pelan pada Yoonri yang tengah tertidur.

Kemudian ia berjalan ke sofa di kamarnya itu dan menduduki sofa itu dengan kasar. Ia mengusap wajahnya dengan kasar dan menatap ke arah Yoonri.

“Apa yang baru saja kau lakukan Lee Taemin?” Ucapnya pada dirinya sendiri.

***

Yoonri POV

Engh, kepalaku terasa pusing saat aku bangun. Aku terus memegangi kepalaku sambil berusaha berdiri sambil mengerjapkan mataku beberapa kali. Tunggu sebentar ini bukan kamarku! Aku mengedarkan padanganku ke seisi ruangan dan menemukan Taemin sedang tertidur di sofa. Ia terlihat kelelahan apa mungkin Taemin yang mengantarku kesini?

Aku berusaha mengingat apa yang terjadi setelah aku datang ke suatu club dan meminum bir. Tapi aku tidak mengingat apapun,aku malah merasakan sesuatu yang hangat di bibirku, sebenarnya apa? Apa mungkin pengaruh alkhohol yang kuminum kemarin?

Aku turun dari ranjang Taemin dan menghampirinya lalu berjongkok di depannya yang sedang tertidur pulas. Ia benar-benar terlihat lelah mungkin karena ia tidak biasa tidur di sofa.

“Mianhae, Taemin-ah karena aku kau jadi kelelahan. Jeongmal gomawo.” Aku mengelus rambut pirangnya itu dengan pelan takut ia terbangun.
Tetapi tidak sepertinya ia bisa merasakannya, ia terbangun dan menggeliat sejenak dan mengucek matanya dan melihatku yang berjongkok di depannya.

“Yoonri-ah, neo eottohke? Gwenchanayo?” Ujarnya lembut sambil menepuk tempat kosong di sebelahnya memberi syarat agar aku duduk di sebelahnya.

“Ne, hanya saja kepalaku sedikit pusing. Taemin-ah kau yang membawaku ke apartemenmu?” Aku menurut dan duduk di sebelahnya.

“Ne, kemarin Sulli menelfonku dan memberitahuku keadaanmu dia cemas saat menyadari suaramu yang seperti menangis. Sebenarnya ada apa Yoonri-ah? Kau jangan menyimpannya lagi, yang ada kau hanya akan semakin terasa sakit Yoonri.” Aku merasakan tangan hangatnya membelai puncak kepalaku. Seketika pertahanan yang kubuat kokoh runtuh seketika. Aku menangis sejadi-jadinya di depan Taemin dan aku menceritakan semuanya pada namja ini. Dia terus berusaha menenangkanku sambil memelukku dengan… Hangat.

To be continue…