Tags

, ,

Title: Jebal, Look at Me!
Author : Choi Yoonri
Main Cast : Im Yoonri (readers)
Support Cast: Choi Minho, Lee Taemin,
Length : Sequel
Genre : Friendship, Romance, Sad
Rating : PG-15/PG-17

Part 10

“Taemin-ah, siapa yang memasak sarapan ini?” Tanya Yoonri begitu keluar dari kamar mandi dan melihat meja makan yang sudah terhidang beberapa makanan.

“Aku, waeyo? Kau tidak percaya jika ini semua aku yang buat?” Sindir Taemin sambil tersenyum dan mulai memakan sarapannya.

“Ani, aku percaya hehehe.” Jawab Yoonri lalu duduk di kursi depan Taemin dan mulai memakan sarapannya berupa omelet dan jus orange.

“Hoahhh masshista!” Seru Yoonri begitu memasukkan suapan pertama omelet itu. Taemin tersenyum bangga mendengar pujian Yoonri. Ia mulai senang ketika melihat Yoonri yang sudah tidak menangis dan tiadk memikirkan masalahnya.

“Aku masih tidak percaya kau membuat sarapan ini Taemin-ah.”

“Tapi sekarang kau percayakan? Ngomong-ngomong maaf aku tidak mempunyai baju yang lebih kecil ukurannya.” Ujar Taemin ketika menyadari kemeja yang di pakai Yoonri sekarang kebesaran untuk Yoonri.

“Ne, gwenchana.” Sahut Yoonri sambil tersenyum dan meminum jusnya.

“Setelah ini kau mau kuantar pulang ke rumah?”

“Ehm mollayo. Yoona eonni mulai mengikuti masa trainee-nya di SM.”

“Kau mau tinggal di rumahku untuk beberapa hari? Aku tidak keberatan lagi pula rumahku sepi. Untuk masalah tetanggaku aku bisa mengatakan kalau kau adalah sepupuku.” Ucap Taemin tiba-tiba.

“Lagipula aku khawatir jika kau seorang diri di rumahmu dan tidak ada teman untuk berbicara.” Sambung Taemin sambil terus melahap omeletnya dengan santai.

“Aniyo Taemin-ah, aku tidak enak denganmu aku hanya akan menyusahkanmu. Lagipula jika aku tinggal di sini kau tidur dimana? Di sofa? Shireo!” Sungut Yoonri menatap Taemin yang masih asik dengan sarapannya yang tidak habis.

“Gwenchana, Yoonri aku lebih prihatin dengan kondisimu sekarang. Pokoknya kau harus menginap di sini untuk beberapa hari sampai suasana hatimu membaik arasseo?” Perintah Taemin sambil menunjuk Yoonri dengan pisau makannya.

“Aish neo jinjja!” Keluh Yoonri melihat tingkah keras kepala Taemin.

“Kalau begitu kita tidur di sofa dan kasur secara bergantian oke?” Paksa Yoonri tak mau kalah, ia merasa tidak enak dengan empunya rumah tersebut.

“Terserah kau saja. Ppali habiskan sarapanmu setelah itu aku mengantarmu ke rumah untuk mengambil bajumu lalu kita berjalan-jalan sebentar oke? Emmm ngomong-ngomong kau tidak mau menelfon Sulli?”

“Oke! Untuk masalah itu… Taemin-ah maukah kau menyimpan masalah ini dari Sulli dan juga masalah aku menginap di rumahmu?” Pinta Yoonri dengan penuh harap sambil menatap Taemin.

“Mwo? Waeyo?” Balas Taemin dan membalas tatapan Yoonri.

“Aku tidak mau mengungkitnya lagi.” Gumam Yoonri pelan dan melanjutkan sarapannya kembali.

“Oke, terserah kau saja yang penting kau tidak sedih lagi oke?” Ujar Taemin sambil tersenyum ramah pada Yoonri. Yoonri menatap Taemin sekilas sambil tersenyum dan mulai menghabiskan sarapan mereka.

Setelah mereka menghabiskan sarapan mereka, Yoonri membantu Taemin mencuci piring dan membersihkan meja. Lalu Yoonri beranjak ke kamar untuk mengganti baju milik Taemin dengan bajunya semalam.

Setelah selesai, ia segera mengambil tasnya yang Taemin letakan di meja belajarnya.
Yoonri mencari hpnya dan melihat hpnya yang tidak mendapat telfon atau sms sekalipun, lalu ia mencabut casing hp tersebut dan mengambil batrenya keluar setelah itu ia masukkan kembali ke dalam tasnya. Ia menatap ke depan dengan tatapan kosong. Hingga saat sebuah suara memanggilnya, ia berusaha tersenyum dan berjalan keluar.

Sesampainya di rumahnya, Yoonri segera mencari kertas dan pulpen untuk menulis pesan untuk bibi Jung yang selalu membersihkan rumah itu. Yoonri segera berlari ke atas mengambil tas yang tidak terlalu besar dan memasukkan beberapa pakaian yang ia butuhkan dan mengganti bajunya. Yoonri menutup tasnya dan mengedarkan padangannya ke seluruh kamarnya. Tatapannya terhenti pada satu bingkai foto di atas meja belajarnya, dimana foto itu terdapat seorang namja dan yeoja. Namja itu menrangkul yeoja itu dan mecubit pipi yeoja itu dan mereka berdua tersenyum lebar.

Yoonri menghampiri meja belajarnya dan mengambil bingkai yang itu, ia menatap bingkai itu dengan tatapan sendu dan kaca yang mulai berlinang di matanya. Ia menaruh bingkai itu kembali dan membalik bingkai itu hingga foto itu menghadap meja. Ia menahan butiran air di matanya, kemudian ia mengambil tasnya dan berjalan ke arah pintu.

“Kau sudah menulis pesan untuk bibi Jung?” Tanya Taemin begitu melihat Yoonri keluar dari pintu rumahnya. Untuk masalah bagaimana Yoonri bisa masuk ke rumahnya, rumah itu akan selalu memiliki satpam 24jam maklum rumah itu cukup besar walaupun di dalam rumah itu hanya ada dirinya,Yoona dan beberapa pembersih (part 1 for detail).

“Gwenchana?” Tanya Taemin lagi saat hanya mendapat jawaban berupa anggukan dari Yoonri.

“Ne, gwenchana hanya butuh sedikit jalan-jalan. Setelah ini kita kemana?” Sahut Yoonri sambil tersenyum.

“Ck, kau tidak perlu berbohong padaku pabo! Kajja nanti kau akan tahu.” Seru Taemin, ia langsung mengambil tas Yoonri dan menaruhnya di jok belakang mobilnya.

***

Siang yang cukup panas tidak membuat beberapa pejalan kaki berjalan-jalan di keramaian jalan Apgujong. Ada yang ramai karena bertemu dengan artis, beberapa menikmati pemandangan di sekitar Apgujong, ada juga yang berhenti untuk melihat beberapa menu di salah satu restoran di jalan tersebut.

“Ya! Yoonri-ah! Kau dari tadi melamun!” Pekik Taemin saat mengamati yeoja di sampingnya terus melamun dan tidak mengucapkan sepatah katapun. Yeoja di panggil Taemin terus berjalan dengan tatapan kosong tanpa menghiraukan teriakan Taemin yang berhenti di belakangnya.

“Ya! Im Yoonri!” Teriak Taemin sambil menggengam lengan Yoonri dan menariknya cukup kencang.

“Ne? Waeyo Taemin-ah?” Balas Yoonri dengan wajah datar.

“Aish neo! Aigo! Kau dari tadi terus mengabaikanku! Kau bahkan tidak berceloteh seperti biasa. Apakah sikap Minho hyung sampai membuatmu seperti ini, hah!?” Seru Taemin tajam pada Yoonri. Taemin mulai muak dengan sikap Yoonri yang terus melamun dan tiadk ceria seperti biasa.

“Ani, kajja kita pergi. Kopi?” Sahut Yoonri sambil berjalan mendahului Taemin.

“Ani, aku tahu yang lebih baik untukmu!” Balas Taemin lalu menarik Yoonri ke sebuah café yang menyediakan berbagai macam kopi, teh, kue dan makanan penutup lainnya.

Taemin menarik Yoonri untuk duduk di salah satu kursi dekat kaca besar yang menghadap keluar. Lalu ia berjalan ke arah kasir untuk memesan pesanan mereka, setelah membayar Taemin berjalan kea rah Yoonri dan mendapati Yoonri sedang melamun untuk kesekian kalinya lagi.

Taemin menghembuskan nafas panjang lalu menaruh pesanannya di depan Yoonri. Berbeda dengan sebelumnya Yoonri menyadari kedatangan Taemin dan melihat eskrim di depannya.

“Strawberry icecream Mrs Im favorite.” Ujar Taemin sambil menghempaskan tubuhnya ke kursi di depan Yoonri dan tersenyum.

“Gomawo Taemin-ah.” Balas Yoonri tersenyum sambil menatap eskrim strawberry di depannya yang mengingatkannya lagi apada seorang namja.
Taemin menyadari perubahan raut muka Yoonri tetapi kali ini ia membiarkannya dan memilih untuk tidak mengusik pikiran Yoonri.

“Yoonri-ah, maaf jika aku terlalu mau mengikuti urusanmu tapi kehidupan harus terus berjalan Yoonri-ah. Jika kau tidak bisa mendapatkan sesuatu mungkin kau bisa mendapatkan yang lebih baik.” Ucap Taemin sambil menatap yeoja di depannya dengan tatapan sayu.

Yoonri mendengar perkataan Taemin, seketika kaca di matanya yang sedari tadi ia tahan pecah kembali. Taemin langsung beranjak dari kursinya dan duduk secara perlahan di samping Yoonri dan merengkuh tubuh Yoonri ke dalam pelukannya berusaha menenangkan Yoonri.

“Mianhae Taemin-ah, mianhae jeongmal mianhae.” Tangis Yoonri semakin kencang ia menutup kedua matanya dan terus menangis di dalam pelukan Taemin.

Taemin terus menenangkan Yoonri sambil menatap keluar jendela. Tiba-tiba matanya menangkap sesosok namja yang berjalan sederetan dengan café yang mereka tempati sekarang. Seketika rahang Taemin mengeras melihat namja itu seakan baik-baik saja bahkan tetap bahagia. Taemin semakin kesal saat menyadari bahwa namja itu tidak sendirian, Taemin melihat seorang yeoja berdiri di samping namja itu dan mereka sedang berbicara santai sambil beberapa kali tertawa.

“Kau tunggu di sini sebentar arasseo? Jangan pergi kemana-mana oke?” Ucap Taemin sambil melepas pelukannya dan memberikan Yoonri beberapa tissue. Yoonri mengangguk kecil dan menghapus airmatanya. Taemin mengusap puncak kepala Yoonri lalu beranjak dari tempat itu.

Taemin tidak melepaskan pandangannya dari namja itu sedikitpun, sampai-sampai ia sempat menabrak beberapa pejalan kaki saat itu. Ia tidak mengucapkan kata maaf sama sekali dan terus berjalan, kemarahannya memuncak dan membuatnya tidak mau mengatakan apapun sampai ia berdiri di depan namja itu.

“Taemin-ah! Apa kabar? Kau sedang bersama siapa disini?” Tanya namja itu antusias begitu melihat Taemin. Taemin tidak menjawab pertanyaan itu, malah ia menatap namja tersebut dengan tatapan tajam.

“Waeyo Taemin-ah? Gwenchanayo?” Tanya namja itu lagi ketika tidak mendapat jawaban dari Taemin.

BUGH

Tiba-tiba namja itu mendapat pukulan yang cukup keras di pipi kirinya hingga tersukur dan sempat menarik perhatian beberapa orang, tetapi pejalan kaki itu hanya melihat sejenak lalu membiarkan mereka. Namja itu langsung bangkit berdiri dan membersihkan darah segar yg mengalir di sudut bibir kirinya itu.

“YA! Kau ini kenapa!? Mengapa tiba-tiba memukulku hah!?” Teriak namja itu sambil menarik kerah Taemin dengan emosi yang meluap.

BUGH

Namja itu balas memukul Taemin tak kalah keras. Taemin sempat hampir tersungkur tetapi ia berhasil menyeimbangi tubuhnya.

“Tch! Kau tidak tau atau pura-pura tidak tahu Choi Minho?”

“MWOYA!?” Balas namja bernama Minho itu sambil mengambil ancang-ancang kembali untuk memukul Taemin.

“Taemin-ah!”

“Yoonri, kenapa kau ke sini? Bukankah aku menyuruhmu untuk tetap di situ?” Taemin menoleh ke arah yeoja yang memanggilnya tepat di belakangnya, membuat Minho yang siap memukul Taemin menghentikan aktifitasnya.

“Tadi aku sempat melihat beberapa orang mengamati sesuatu jadi ikut melihat… Ya! Kau kenapa? Kenapa berdarah seperti i–”

“Minho o…ppa?” Tepat saat itu juga Yoonri menyadari kehadiran 2 orang di belakang Taemin, Minho awalnya tertutup oleh badan Taemin sehingga Yoonri tidak melihatnya dari kejauhan.

“Sepertinya aku mengerti maksudmu Taemin. Pasti karena yeoja ini kan? Ya! Kau mengadu apa padanya? Huh! Dasar yeoja yang selalu mau ikut campur urusan orang?” Sahut Minho sinis sambil melihat Yoonri dan Taemin bergantian.

“PERHATIKAN UCAPANMU CHOI MINHO!” Teriak Taemin sambil menarik kerah Minho dengan kasar.

“Sudahlah Taemin-ah, lebih baik kita pulang.” Gumam Yoonri yang susah payah menahan tangisnya sambil menarik pelan ujung kaos Taemin. Tetapi Taemin tidak semudah itu menuruti perkataan Yoonri.

“Ya, Choi Minho! Kau lupa apa yang kau lakukan selama ini sebelum masuk dunia kuliahmu atau… Yeoja baru ini?” Balas Taemin sambil menghempaskan kerah Minho dengan kasar dan melirik yeoja di sebelah Minho yang sedari tadi melihat mereka.

“Eunseo tidak ada urusannya dengan masalahku dengan Yoonri.” Ucap Minho tak kalah sinis.

“Oh jadi ini Eunseo yang di katakan Yoonri?” Sindir Taemin sambil melirik tajam ke arah Eunseo.

“Ya! Im Yoonri, sebenarnya apa saja yang sudah kau adukan hah?” Yoonri terus menunduk tidak melihat Minho sama sekali.

“Diamlah Choi Minho! Kau tahu Yoonri terus menangis! Ia selalu melamun! Dan ini semua karena kau!” Teriak Taemin dan menajamkan suaranya.

“Aku? Aku tidak melakukan apapun bodoh!”

“Tsk! Ternyata kau selama ini tidak peka ya?” Sindir Taemin sambil menoleh ke arah lain.

“Mwo? Aku hanya memintanya untuk tidak mengurusi masalahku! Dia terlalu menggangguku! Terus menanyakan hal-hal yang tidak penting dan terlalu mencemaskanku padahal kami tidak memiliki hubungan apapun!” Balas Minho kali ini dengan emosi yang mulai memuncak. Yoonri hanya terus terdiam di belakang Taemin, sedangkan yeoja bernama Eunseo hanya terus mengamati drama kecil di hadapannya sekarang.

“Justru karena itu! Kau tidak sadar dengan sikapnya hah!? Dia menyukaimu!”

“BUT I’M NOT!”

“Lalu mengapa kau terus meladeninya bahkan mengajaknya terus pergi bersama denganmu!? Kau memberikan harapan yang sangat besar padanya dan seketika harapan itu musnah karena tingkahmu itu!” Yoonri terus menunduk ia berusaha menutupi airmatanya yang mulai mengalir deras.

“Itu salahnya sendiri terlalu berharap padaku. Selama ini aku tidak pernah memberinya harapan apapun.” Ujar Minho dengan santainya.

“Sialan kau Choi Minho!”

BUGH

Taemin mulai memukul Minho lagi, Minho mulai membalas Taemin dan henti.

“HENTIKAN!!!” Teriak Yoonri seketika. Ia menghampiri kedua namja itu dan menarik Taemin menjauh dari Minho dan…

PLAK

Sebuah tamparan mendarat tepat di pipi kiri Minho. Luka yang ada di muka Minho semakin bertambah.

“Kau! Kenapa kau menamparku juga hah!?” Teriak Minho geram dengan tingkah Yoonri yang menamparnya.

“Itu karena kau memainkan perasaan orang sesukanya lalu meninggalkannya secara sembarangan! Kau pikir aku ini permen karet yang ketika sudah tidak manis di buang sembaranga!? Mana Minho oppa yang baik dan lemah mebut yang selalu kukenal!? MANA!!!???” Balas Yoonri tak kalah kencang dengan airmata yang mulai mengering secara perlahan.

Tangan Minho langsung menggapai udara hendak menampar yeoja di depannya. Yoonri langsung memejamkan matanya menerima tamparan itu.

PLAK

Yoonri membuka matanya secara perlahan, ia tidak merasakan perih sedikitpun tetapi ia yakin ia mendengar sebuah tamparan yang cukup keras di depannya. Matanya terbelalak ketika mendapati Taemin berdiri tepat di depannya. Beling-beling kaca di matanya mengalir lagi dengan deras.

“Sudahlah Minho-ya, kalian menarik perhatian terlalu banyak. Semua yang kau lakukan hanya akan memperkeruh masalah ini, kajja.” Eunseo yang sedari tadi diam mulai menarik lengan Minho untuk beranjak pergi dari tempat itu. Sebelumnya ia sempat membungkuk ke arah Taemin dan Yoonri mungkin sebagai permintaan maaf.

Yoonri dapat melihat dua orang itu yang mulai berjalan menjauh dari mereka di balik tubuh Taemin. Seketika ia merasa suasana di sekitarnya menjadi dingin, ia masih melihat kedua orang itu tetapi padangannya mulai kabur dan seketika ia terjatuh dan seluruh padangannya menjadi hitam.

***

Yoonri POV

Minho oppa menjadi baik kembali padaku ia bahkan sempat meminta maaf beberapa kali kepadaku karena waktu itu. Semuanya terasa seperti nyata, tetapi sayangnya kesadaranku membangunkanku dari mimpiku itu. Ketika sadar aku merasa kepalaku pusing kembali, seperti aku telah meminum alkhohol yang begitu banyak.
Aku mengamati ruangku sekarang, tampak hitam putih dengan beberapa ukiran artistik yang sangat elegan dan unik. Kamar Taemin.
Dan seketika aku mengingat kejadian sebelum aku berada di kamar ini. Aku segera berdiri dan mencari keberadaan Taemin. Aku menemukannya sedang duduk menonton TV, tidak lebih tepatnya TV itu hanya di biarkan menyala sepertinya ia tertidur. Ia melihat wajahnya yang di penuhi luka di kedua sudut bibirnya dan beberapa lebab berwarna biru di sekitar wajahnya. Apakah Minho oppa- ani Minho-ssi memukulnya separah itu?

Aku segera mencari obat merah di rumahnyayang terletak di sudut lemari dapurnya. Setelah mendapat apa yang aku butuhkan aku duduk di sebelahnya dan segera mengoles obat merah secara perlahan di beberapa lukanya. Sepertinya lukanya cukup sakit saat aku hanya menaruhnya sedikit di sudut bibir kirinya, ia langsung mengerjapkan matanya.

“Yoonri, kau sudah bangun? Neo gwenchana?”

“Kenapa kau malah mengkhawatirkanku? Seharusnya kau lebih memperhatikan dirimu sendiri, kau tidak lihat banyak memar–” Taemin langsung memotong pembicaraanku, ia langsung mengunci bibirku dengan bibirnya. Entah kenapa kali ini aku hanya bisa menatapnya dengan diam dan tanpa meronta sedikitpun, aku bahkan bingung dengan sikapku ini.

Ia mulai memainkan bibirku dengan pelan tetapi aku masih terdiam tidak melakukan apapun. Sampai di mana ia mulai menggigit bibir bawahku, sehingga bibirku bawahku sedikit terbuka ia langsung menelusupkan lidahnya ke dalam mulutku dan seperti memintaku untuk membalasnya.

Otakku seperti terhipnotis dengan tingkah Taemin yang tiba-tiba sepeti ini. Aku menutup mataku dan perlahan mulai tergoda untuk membalas ciumannya. Kami cukup lama memainkan bibir kami sampai saat ia melepaskan ciumannya aku baru tersadar dengan apa yang barusan kami lakukan.

“Mianhae, aku tahu seharusnya aku tidak melakukan itu. Aku terlalu mengkhawatirkanmu Yoonri-ah, aku–” Jelas Taemin tiba-tiba dan lagi-lagi aku hanya bisa terdiam. Aku meraih kapas dan obat merah itu kembali dan mengobati lukanya itu lagi.

“Gwenchana Taemin-ah, aku sendiri juga bingung mengapa… Aish sudahlah lupakan kejadian yang tadi.” Balasku dengan sangat segan. Hening. Jujur aku masih tidak mengerti dengan kejadian barusan.

“Seharusnya kau membiarkan Minho o- ani Minho-ssi menamparku, aku layak mendapatkan tamparan itu Taemin.” Ujarku berusaha memecahkan keheningan dan terus mengobati lukanya, sesekali ia meringis pelan saat aku mengobatinya.

“Ani tidak ada namja yang boleh memukul yeoja arachi? Seharusnya tadi aku memukulnya sekali lagi!” Jawabnya dengan penuh emosi, tetapi menurutku malah ia terlihat lucu.

“Taemin-ah neo kyeopta! Aku tidak pernah melihatmu marah sebelumnya. Hahaha.” Aku terus tertawa jika meilhat wajahnya sekarang ia terlihat seperti bukan Taemin yang selama ini kukenal.

“Jinjjayo? Aku senang melihatmu bisa tertawa lagi dan tidak murung, kalau begitu aku akan terus marah agar kau tertawa.”

“Mwo? Andwaeyo! Aku lebih suka melihat Taemin yang seperti biasa walaupun kadang terlihat menyebalkan.” Sindirku sambil tertawa.

“Aish neo jinjja!” Balasnya sambil ikut tertawa. Tiba-tiba tangan Taemin menyentuh puncak kepalaku dan mengacaknya dengan pelan.

“Jangan melamun ataupun memikirkan namja itu lagi arachi? Aku akan berusaha membantumu melupakannya. Dan jangan sekalipun membuatku cemas arachi?” Aku merasa suaranya menjadi lebih lembut dari biasanya dan tatapannya berubah padaku.

Taemin-ah, mengapa kau menjadi bersikap sangat baik padaku lebih dari biasa? Dan mengapa aku merasa tatapanmu dan cara bicaramu berubah?

To be continue…