Tags

, ,

Title: Jebal, Look at Me!
Author : Choi Yoonri
Main Cast : Im Yoonri (readers)
Support Cast: Lee Taemin, Choi Sulli
Length : Sequel
Genre : Friendship, Romance,
Rating : PG-15

Part 11

Sudah hampir 2 hari aku tinggal di rumah Taemin, kami sering memasak bersama atau lebih tepatnya hanya Taemin yang memasak untuk makan. Aku sudah meminta Taemin agar membiarkanku untuk tinggal di rumahku sendiri, tetapi ia selalu menolak. Ia selalu mengatakan dia akan membiarkanku pulang ke rumah jika aku sudah tidak terlihat melamun. Apa-apaan dia!?

Yah walaupun aku memang masih sering melamun jika melihat sesuatu yang memiliki hubungan dengan Minho o– ahh ani Minho-ssi. Sekarang aku harus sering menyebutnya Minho-ssi, sejak kejadian itu aku berusaha untuk melupakannya dan berpura-pura tidak mengenalnya.

Jika masalah pulang setelah usai sekolah, aku dan Taemin selalu pulang bersama. Sulli sempat heran mengapa aku sering pulang bersama Taemin, tetapi aku dan Taemin akan kompak mengatakan jika ia mengantarku pulang karena supir di rumahku sedang balik ke daerahnya. Alasan kuna memang tetapi Sulli selalu percaya, aku merasa bersalah dengannya karena sudah membohonginya. Mianhae Sulli-ah.

“YA! Yoonri-ah! Neo eodiga?” Seru seorang namja sambil terengah-engah begitu aku keluar dari ruang dance.

“Aku baru selesai latihan bersama yang lain, aku menunggu semuanya keluar terlebih dahulu lalu mengunci ruangan ini. Waeyo, Taemin-ah? Mengapa kau kecapean begitu?” Jawabku sambil mengunci pintu ruang dance tersebut yang sebelumnya telah ku cek tidak ada orang di dalamnya lagi.

“Aish, aku mencarimu dari tadi, mana handphonemu?” Handphone? Sepertinya aku sudah lama tidak memegang handphoneku.

“Aigo! Aku baru ingat aku mencabut batrenya beberapa hari yang lalu dan masih belum aku pasang kembali.” Pekikku begitu mengingat kejadian 2 hari yang lalu, saat aku mencabut batre itu.

“Dasar! Mana handphonemu sekarang?”

“Di rumahmu kajja kita pulang.” Ajakku sambil meraih lengan kirinya dan ia hanya bisa mengikutiku sambil tersenyum.

“Kau tidak ada jadwal latihan hari ini?” Tanyaku saat kami menyusuri koridor sekolah kami yang mulai sepi. Tentu saja sekarangkan sudah sekitar jam 6.

“Kami sudah selesai latihan kira-kira 1 setengah jam yang lalu. Lain kali jika kelas sudah usai kau jangan langsung pergi arasseo?”

“Ne, kan sekarang aku menjadi ketua club ini jadi aku yang bertanggungjawab untuk membuka ruangan itu. Jika telat sedikit mereka semua akan langsung kabur.” Ucapku membela diri dan mehrong padanya. Seketika ia tertawa dan mengacak rambutku pelan.

“Ya sudah nanti hanphonemu kau berikan padaku oke?” Sahutnya dan aku menjawabnya hanya dengan anggukan masih dengan posisi memeluk lengannya.

“Hari ini mau makan di luar atau masak lagi?” Tanyanya begitu kami sampai di tempat parkir motor.

“Di luar saja ya, sepertinya bahan makanan di rumah sudah mulai habis eottoke?” Jawabku sambil memakai helm yang diberikannya.

“Boleh juga, kajja.”

***

Author POV

Setelah selesai makan malam, mereka segera pulang ke apartemen Taemin. Taemin segera membersihkan tubuhnya terlebih dahulu, setelah selesai giliran Yoonri yang memakai kamar mandi itu. Taemin beranjak ke kamarnya dan mencari di mana handphone Yoonri.

Ia menemukan handbag yang di pakai Yoonri saat berpergian, ia langsung merogoh tas tersebut dan mendapatkan apa yang ia cari. Ia memasang batre handphone itu kembali dan menyalakannya. Taemin tidak sengaja menyentuh layar inbox-nya, ia melihat nama ‘Minho oppa’ di inbox tersebut. Ia menyentuh nama itu dan percakapan antara pengguna handphone itu dengan orang yang di kirim pesanpun terlihat jelas. Taemin menggeleng-gelengkan kepalanya saat melihat empunya pengguna handphone itu mengirim pesan pada orang itu berkali-kali tanpa di balas. Kemudian ia menekan tombol delete di inbox tersebut dan keluar dari ruangan itu sambil membawa handphone itu.

“Igeo.” Ucapnya seraya memberikan handphone itu pada Yoonri dan menghempaskan tubuhnya di samping Yoonri yang sedang duduk di sofa sambil menonton TV.

“Gomawo.” Balas Yoonri sambil membuka handphone yang sudah lama tidak ia sentuh itu.

“Eng, ada yang aneh. Seingatku inboxku penuh—”

“Dengan mengirim pesan pada namja itu? Aku sudah membuang semua pesan itu.” Ucapnya dengan santai.

“Mwo!? Ya! Taemin-ah! Kenapa kau membuangnya?” Pekik Yoonri sambil mengubah posisinya ke arah Taemin.

“Aku hanya ingin kau tidak memikirkan dia lagi.” Ujar Taemin masih dengan ekspresi yang sama.

“Naega aniyo–KYAAAAAA!” Tiba-tiba keadaan di sekitar mereka menjadi gelap. Yoonri dengan cepat menarik lengan Taemin dan mencengkramnya dengan kuat.

“Gwenchanayo?” Ucap Taemin sambil memegang pundak Yoonri.
Yoonri tidak menjawab ia terus memegang lengan Taemin dengan kuat dan mulai menangis.

“Kau mainkan saja terus handphonemu arasseo? Aku akan mencari lilin mungkin listriknya padam sebentar.” Ujar Taemin hendak berdiri, dengan sigap Yoonri menarik lengan Taemin sehingga Taemin terus duduk.

“Shireoyo oppa jebal.” Isak Yoonri.

“Yoonri-ah, ini Taemin bukan Minho.” Gumam Taemin sambil mengelus puncak kepala Yoonri dengan lembut.

“Oppa jebal jangan tinggalkan aku.” Bisik Yoonri masih dalam keadaan menangis.

“Arasseo kajja kita cari lilin jadi kau bisa lebih baik dan tidak memanggil nama Minho.” Ajak Taemin sambil menarik Yoonri untuk berdiri dan berjalan mencari lilin.

Setelah menemukannya Taemin menaruh semua lilin itu dan menaruhnya di meja ruang TV dan menyalakan semua lilin itu. Taemin mendapati Yoonri masih mencengkram lengannya dengan kuat dan menutup matanya dengan erat.

“Yoonri kau sudah bisa membuka matamu sekarang.” Ucap Taemin sambil memegang tangan Yoonri. Yoonri mulai membuka matanya secara perlahan dan melihat beberapa lilin yang sudah berjejer di depannya.
“Eottoke? Minho oppa hebat kan?” Sindir Taemin mengingat kejadian tadi.

“Mwo? Minho oppa? Kau kenapa Taemin-ah?”

“Kau lupa tadi kau memanggil oppa?”

“Itu… Maafkan aku.”

“Ternyata aku benarkan? Kau masih belum bisa melupakannya? Sini.” Perintah Taemin menyuruh Yoonri duduk di sampingnya dan membuka salah satu lengannya. Yoonri menuruti Taemin dan Yoonri merasakan sebuah tangan melingkar di daerah pundaknya. Dan menyenderkan kepalanya di pundak pemilik tangan itu.

“Gwenchana, tenang saja kau harus mengingatnya terus.”

“Ne?”

“Mengingat Minho terus, bukankah biasanya jika kau di haruskan untuk mengingat sesuatu justru kau akan lebih mudah untuk lupa?”

“Benar juga, hehehe.” Kekeh Yoonri menanggapi perkataan Taemin.

“Taemin-ah…. Jeongmal gomawoyo.” Gumam Yoonri sambil memeluk Taemin.

“Ne, sekarang kau tidur saja.”

“Emm, jeongmal gomawo Taemin-ah.” Balas Yoonri mulai memejamkan matanya.

“Jaljayo Yoonri-ah.” Gumam Taemin sambil menempelkan bibrinya pelan puncak kepala Yoonri yang mulai tertidur.

***

Yoonri POV

“Huahhh akhirnya kita bebas dari masa SMA! Tidak terasa waktu begitu cepat ya’kan Sulli-ah?” Teriakku begitu ujian bubar dan kami di ijinkan keluar. Benar waktu setengah satu tahun itu sangat cepat berlalu, rasanya seperti baru mengijak rumput di sekolah ini beberapa hari yang lalu.

“Ne! Kita ke taman bermain hari ini otte?” Sahutnya cepat sambil berjalan keluar ke pemberhentian bus.

“Ne! Taemin-ah eottoke?”

“Wae?” Serunya tiba-tiba tepat di belakangku dan Sulli. Kebiasaan selalu muncul tiba-tiba!

“Kita mau ke taman bermain kau ikut?” Jawab Sulli sambil terus melangkahkan kakinya.

“Ne! Tapi kalian pergi naik apa?”

“Kita naik bus dan kaui pergi sendiri dengan motormu itu.” Balas Sulli seraya melihat apakah bus sudah datang atau belum.

“Ok, tapi aaku harus memilih calon ketua tim basket dulu. Setelah ini aku sudah di sini lagi bukan? Aku harus memilih ketua yang tepat untuk sekolah ini, kalian duluan saja oke? Annyeong!” Belum sempat kami membalas teriakkannya itu ia sudah melesat dengan cepat.

“Kajja Yoonri-ah.” Sulli menarik lenganku, oh ternyata busnya sudah di depanku mengapa aku tidak mendengar deru bus ini?

~-~-~

“Aish mengapa Taemin lama sekali sih!?” Aku sudah mendengar keluhan Sulli dengan nada dan kata-kata yang sama sebanyak 8kali! Aigo!
“Ya! Yoonri-ah mengapa kau menjadi lebih sering diam?” Usiknya lagi.

“Aku capek mendengar keluhanmu terus Sulli-ah, kajja kita main terlebih dahulu daripada nanti kau semakin rewel!” Balasku dengan nada ketus dan menarik tangannya cepat ke wahana apapun.

Kita sudah bermain sekitar 5 permainan kami terus menaiki wahana yang benar-benar menantang! Bukankah setelah ujian memang harus seperti ini? Jangan di tanya mengapa kami bisa bermain wahana dengan cepat, sekarang masih cukup pagi dan banyak sekolah yang masih mengadakan ujian jadi taman bermain masih sepi hanya ada beberapa orang. Berteriak sepuasnya tanpa khawatir orang-orang akan melihat kita! Oh iya aku sampai lupa dengan Taemin, mengapa ia belum datang juga?

“Ya! Taemin-ah!” Teriak Sulli membuyarkan lamunanku sejenak. Aku mengikuti arah pandang Sulli, aku melihat seorang namja menggunakan seragam, seperti kami sedang berlari.

“Mianhae aku telat, ternyata yang mengajukan diri menjadi ketua banyak dan hampir semuanya memiliki bakat basket dan kepemimpinan yang sangat baik!” Jelasnya dengan sekali tarikan nafas, aku heran apakah ia tidak kelelahan setelah berlari?

“Ya sudahlah mau bagaimana lagi. Kajja kita main yang lain– chakkaman!” Seru Sulli begitu mendengar bunyi telfon dari tasnya. Lalu ia memberi kode agar kami menunggu sebentar dan ia berjalan ke arah yang tidak terlalu jauh dari tempat kami berdiri.

“Kalian sudah bermain?” Tanyanya memecah keheningan di sekitar kami. Aku menolehkan kepalaku ke arahnya.

“Ne, sekitar 5 permainan.” Jawabku seadanya.

“Oh, mianhae aku telat.” Gumamnya dengan suara kecil.

“Ne, gwenchana.” Balasku dengan senyuman kecil.

“Yoonri-ah, Taemin-ah aku harus pergi sekarang. Oppa kecelakaan motor sekarang aku harus pergi ke rumah sakit!” Seru Sulli tiba-tiba dengan wajah panik dan pucatnya itu.

“Mwo!?” Teriakku dan Taemin bersamaan. Kaget. Tentu saja!

“Aku pulang dengan bus saja, kalian bermain saja oke?” Ucapnya panik dan hendak pergi.

“Aku akan mengantarmu sekarang, naik kendaraan umum terlalu lama untuk menunggu! Kajja.”

“Gwenchana kau temani Yoonri saja.” Balas Sulli terburu-buru.

“Aku tidak apa-apa Sulli-ah kau lebih penting aku bisa pulang sendiri.” Ujarku pada akhirnya.

“Ani! Kau tunggu di sini setelah mengantar Sulli aku kembali kesini arasseo? Jangan pergi kemana-mana.” Jawab Taemin sambil menarik Sulli ke arah parkiran motor.Padahal aku belum menjawab apapun, Taemin kebiasaan belum di jawab ia langsung pergi dengan seenaknya.

Sudah hampir satu jam aku menunggu Taemin. Mengapa ia tidak membiarkanku pergi saja sih? Toh aku tahu jalan. Lagipula… Mengapa dari tadi aku tidak pergi saja kan aku bisa pergi diam-diam lalu memberitahu Taemin jika aku sudah pulang. Aku melihat sekeliling dengan pemikiran siapa tahu tiba-tiba Taemin datang. Tetapi aku menemukan sepasang namja dan yeoja sedang berjalan sambil tertawa senang, aku menggerakkan kepalaku ke kanan dan ke kiri secepat mungkin. Dan sepasang namja dan yeoja itu menghilang.

Author POV

“Yoonri-ah, mianhae apakah kau menunggu terlalu lama? Yoonri?” Seorang namja dengan rambut blondenya menggerak-gerakkan tangannya tepat di depan muka Yoonri.

“Yoonri?” Ujar namja itu lagi sambil menggerak-gerakan bahu yeoja tersebut.

“Taemin-ah… sepertinya aku akan mengambil kuliah di London.” Ucap yeoja itu tiba-tiba dengan padangan kosong ke depan.

“Ne? Wae? Kenapa tiba-tiba? Neo gwenchana?” Tanya Taemin bertubi-tubi sambil duduk di samping yeoja itu.

“Gwenchana, hanya saja tadi aku melihat bayangan aku dan Minho-ssi sedang berjalan sambil tertawa senang.”

“Mwo? Jadi hanya karena itu kau ingin pindah ke London? Come on Yoonri-ah jangan terus lihat ke belakang, hidup harus terus dan berjuang ke depan Yoonri. I’m always stay beside you, am I still useless for you?” Ujar Taemin dengan tatapan sendunya.

“Maka dari itu aku ingin mengambil kuliah di sana aku bisa mengembangkan perusahaan appa. Dan satu hal jangan pernah mengatakan hal seperti itu lagi Taem-ah arasseo?” Balas Yoonri sambil melihat Taemin.

“Tapi kau kan bisa mengambil jurusan dan masuk kuliah yang sama denganku atau Sulli. Perlukah kau sampai pergi ke London?” Tanya Taemin sambil sedikit menunduk.

“Appa memintaku untuk masuk ke universitas di London, aku akan meminta bantuan Jonghyun oppa untuk masuk ke sana.” Ucap Yoonri sambil berusaha tersenyum.

“Baiklah kalau itu keputusanmu tapi kau harus memberiku alamat dimana kau tinggal dan dimana tempat kuliahmu arasseo?”

“Ne? Untuk apa Taemin-ah? Kau akan mengunjungiku tiap hari?” Ledek Yoonri sambil sedikit tertawa.

“Tentu saja jika aku mempunyai banyak waktu dan libur kuliah aku pasti akan datang.” Jawabnya sambil mengelus puncak kepala Yonri dengan pelan.

“Jinjjayo? Yaksok?” Yoonri memberikan jari keliking kanannya pada Taemin. Taemin tersenyum dan mengaitkan jari kelikingnya dengan Yoonri.

“Yaksok!” Balasnya sambil tersenyum senang dan Yoonri ikut tersenyum.

“Jeongmal gomawo Taemin-ah, you always beside me when I need someone.” Gumam Yoonri sambil memeluk lengan kiri Taemin.

“Ne cheonma Yoonri-ah, kajja kita pulang. Emm, tapi sebelumnya kita makan dulu ya? Nae jinjja baegopa.”

***

Beberapa hari kemudian…

“Yeoboseyo? Sulli-ah?”

“Ne Yoonri waeyo?”

“Kau sedang apa?”

“Aku sedang membantu oppa membereskan bajunya hari ini oppa baru keluar dari rumah sakit. Waeyo?”

“Aniya, aku hanya ingin pamit hari ini aku akan pergi ke London untuk kuliah.

“MWO!?” Pekik Sulli tidak percaya dan seketika ia menghentikan gerakan tangannya merapikan baju oppanya itu. Tentu saja tiba-tiba temannya mengabarkan jika ia akan pergi ke suatu tempat yang jauh dari korea untuk menimba ilmu.

“Kau berangkat jam berapa? Kenapa kau baru memberitahuku? Kenapa tiba-tiba? Memangnya kau akan tinggal dengan siapa di sana? Yoonri-ah kau tega sekali meninggalkan sahabatmu ini!” Amuk Sulli tidak hentinya bertanya.

“Sekitar 45 menit lagi, aku sengaja baru memberitahu kalian hari ini. Aku tidak mau kalian datang dan mencegahku untuk pergi karena aku pasti tidak jadi berangkat jika kalian datang. Aku akan tinggal bersama Jonghyun oppa-sepupuku yang tinggal di sana.” Jelas Yoonri panjang lebar sambil memperbaiki letak kacamata hitam yang ia pakai.

“Kau tidak usah mencemaskanku arasseo? Kau jaga diri baik-baik oke? Annyeong.”

“Yeoboseyo? Yeoboseyo? Ya! Yoonri-ah!” Teriak Sulli begitu mendengar suara telfon terputus. Ia berusaha menelfon Yoonri kembali tetapi tidak di angkat sama sekali.

Di airport dengan diam Yoonri menitikkan airmatanya, masa di mana ia bersama kedua sahabatnya itu tiba-tiba teringat kembali olehnya. Ia tahu handphonenya memiliki panggilan berkali-kali tetapi ia abaikan begitu saja. Tiba-tiba ia ingat ia harus menelfon seseorang lagi sebelum ia pergi.

“Yoonri? Waeyo?”

“Taemin-ah, emmm hari ini aku akan pergi ke London sekitar 35menit lagi akan berangkat.” Gumam Yoonri berusaha menahan isak tangisnya.

“MWO!?” Reaksi Taemin sama dengan Sulli. Baru kemarin ia bersama Yoonri pergi mencari objek yang bagus untuk berfoto tetapi Yoonri bertindak seperti tidak akan terjadi apa-apa hari ini.

“Sekarang kau di Incheon airportkan? Jakkaman aku akan ke sana dengan cepat.” Yoonri bisa mendengar derap kaki Taemin yang seperti berlari dengan cepat dan seketika ia pun mendengar deru motor.

“Jebal Taemin jangan ke sini, aku tidak mau kedatangan kau ataupun Sulli membuatku batal ke London.” Yoonri mulai panik apalagi ia tahu pasti Taemin akan menyetir dengan kecepatan sangat tinggi, ia tidak mau terjadi apa-apa dengan Taemin.

“Justru karena itu aku ingin ke sana Yoonri.” Yoonri bisa mendengar perubahan suara Taemin yang berubah menjadi sangat tegas.

“Yeoboseyo!? Taemin-ah!? Ya!”

“Ahhh jinjja eottoke!?” Panik Yoonri sambil menggigit kuku lentiknya itu.

Yoonri terus berjalan modar-mandir sambil sesekali melirik handphone serta jam tangan di pergelangan kirinya. Ia tidak peduli dengan beberapa orang yang menatapnya dengan tatapan aneh.

“Yeoboseyo? Ya! Taemin-ah!” Yoonri langsung mengangkat handphonenya itu dengan tergesa-gesa.

“Neo eodi?” Tanya Taemin ketus, Yoonri tahu jika Taemin sedang berlari-lari.

“Aku sudah bilang padamu kau tidak usah datang Taemin-ah aku sudah berangkat.”

To Be Continue…