Tags

,

Title : Ring, Marriage, Artist

Author : taemfairy

Main Cast : Kim Seona [OC], still hidden

Support Cast : Seona’s eomma, Seona’s appa, Park Hana

Length : Sequel

Genre : Romance, Marriage Life, Family, Humor,

Rating : PG-15

Seona POV

Musim dingin mulai tiba, aku paling suka dengan musim dingin. Maklum ketika aku masih kecil aku tidak pernah bertemu dengan yang namanya salju. Yap, dulu aku tinggal di negara tropis, lebih tepatnya di Indonesia. Aku memutuskan untuk ke tempat asalku Seoul–tempat tinggalku sekarang–karena keinginanku sendiri. Aku jembali ke Korea saat kelas 10.

Dari dulu aku selalu ingin berkuliah di luar negeri walaupun itu merupakan tempat kelahiranku. Dan entah kenapa Seoul menjadi pilihanku untuk menimba ilmu. Untungnya keinginanku ini di setujui oleh kedua orangtuaku. Sekarang aku berkuliah di Seoul University dan mengambil jurusan arts tentunya.

Aku tidak kesulitan belajar bahasa korea karena ayahku keturunan korea, sedangkan ibuku orang Indonesia. Kedua orangtuaku mengikutiku pindah ke Korea, aku menolak dan meminta mereka untuk tetap tinggal di Indonesia tetapi mereka selalu menjawab jika aku ini anak satu-satunya dan harus di jaga. Untungnya ketika pindah ke sini Appa sudah memiliki satu rumah jadi kami tidak perlu repot mencari-cari rumah lagi.

Aku membantu keluargaku bekerja part time di sini. Aku tidak mau menyusahkan mereka karena biaya hidup dan kuliahku di sini. Walaupun begitu mereka tetap saja memberikanku uang tiap bulan dan aku di paksa untuk menerimanya.

Tetapi sekarang aku sudah tidak bekerja part time lagi, apalagi sejak kejadian itu…

Flashback

Saat itu masih musim panas dan banyak orang yang berlalu lalang mencari baju yang mereka inginkan atau hanya untuk mencuci mata mereka. Ketika malam tiba banyak orang yang akan makan di restoran karena malas untuk memasak di rumah.

Aku sedang bekerja part time pada saat itu di sebuah restoran yang cukup ramai. Aku menyanyikan beberapa lagu jazz dan mellow di restoran yang bisa di bilang kawasan untuk masyarakat atas.

Sampai satu ketika aku melihat beberapa namja masuk ke restoran ini dn melihat ke arah panggung, tempatku bernyanyi sekarang dengan beberapa guitarist yang ada di samping kiri kananku. Aku berusaha mengabaikan tatapan mereka dan terus menghayati lagu yang kubawakan.

Dengan ekor mataku aku menyadari jika salah satu dari mereka menanyai seseorang yang merupakan manager restoran ini. Aku melirik sekilas ke arah beberapa namja yang tadi, mereka semua sedang melihat ke arahku dengan tatapan yang tak bisa kudeskripsikan kecuali satu orang. Ia sedang asik berkutat dengan buku menu tanpa berbicara sedikitpun sedikitpun dengan tampang coolnya.

Setelah selesai bernyanyi beberapa lagu, aku langsung turun ke panggung dan langsung di sambut oleh manager dan orang asing tadi.

“Seona-ssi, perkenalkan dia adalah salah satu manager perusahaan entertaiment tebesar di korea.” Ucap Manager yang aku lupa namanya, aku tidak pernah hafal dengan namanya karena kami jarang bertemu. Dengan sopan aku menjabat tangan orang asing itu ketika ia mengulurkan tangan kanannya.

“Perkenalkan Kim Seona-ssi, aku salah satu manager dari perusahaan entertaiment SM. Kau pasti tahu SM kan? Dan namjadeul yang kau lihat datang bersamaku tadi adalah member SHINee yang merupakan anak didikku. Kau bisa memanggilku Gyeongsik oppa atau oppa saja.” Jelasnya panjang lebar dan tersenyum ramah.

“Kim Seona.” ucapku singkat sambil tersenyum ramah, sebenarnya apa tujuannya berkenalan denganku?

“Emm, sebenarnya aku ingin memintamu untuk mengikuti audisi SM entertaiment. Jika aku lihat saat kau bernyayi kau sangat memiliki bakat yang luar biasa Seona-ssi. Dan aku yakin jika kau mengikuti audisi ini kau bisa lolos.” ujarnya to the point dengan sangat percaya diri.

“Jinjja? Hoahh daebak!” Seruku semangat. Kulihat ia mengeluarkan secarik kertas yang menyerupai poster atau brosur.

“Ini jika kau tertarik kau ikuti petunjuknya dan datang ke kantor kami pada sabtu ini. Aku sangat berharap kedatanganmu Seona-ssi.” Aku menerima lembaran itu dan melihat apa isinya.

“Hyung, kau masih lama?” Tanya seorang namja dengan rambut pirangnya dan tampang coolnya.

“Ani, kajja. Jangan lupa Seona-ssi. Itu kesempatan langka.” Ucapnya sambil merangkul namja pirang itu pergi.

“Kamsahamnida.” Ucapku sopan sambil membungkukkan badan. kulihat manager itu tersenyum sambil mengangkat tangan kanannya, sedangkan namja pirang itu hanya melihatku tanpa ekspresi apapun.

Flashback end

***

Benar apa yang di katakan manager Gyeongshik, aku lulus dalam audisi dengan cukup sulit. Banyak peserta yang memiliki bakat yang bagus. Masa traineeku pun kulalui selama 3 tahun dan aku mendapatkan beberapa teman semasa traineeku. Dan di adakan test untuk menguji trainee mana yang sudah siap untuk debut.

Awalnya aku akan debut dengan 2 orang lainnya. Tetapi entah kenapa aku malah debut seorang diri, dan perusahaan sendiri mengatakan padaku jika aku akan di saingkan dengan IU. IU!? Kalian tahukan betapa bagusnya suara IU itu!? Walaupun dia lebih tua satu tahun daripadaku dan merupakan seniorku dalam bidang musik, tetap saja aku kagum dengannya di usianya yang sangat muda ia sudah berhasil dalam karirnya.

Sekarang aku sudah mengeluarkan singel pertamaku dan sudah merilis satu album. Yah, aku sangat bersyukur aku mendapatkan pendukungku walaupun tidak sebanding dengan yang lain. Tetapi aku akan terus berusaha.

“Seona-ya, Appa dan Eommamu ingin bertemu denganmu hari ini.” Ujar managerku- Hana eonni- menghancurkan lamunanku. Padahal aku sedang melakukan salah satu rutinitasku, berdiri di depan balkon sambil menikmati udara di pagi hari.

“Ne? Kenapa tiba-tiba sekali?”

“Mollayo katanya ini penting sekali, jadi mau tidak mau semua jadwalmu aku ubah dan besok atau lusa kau akan sangat sibuk.”

“Ne eonni arasseo.” Ujarku sambil berjalan ke meja makan.

“Ya! Kau mandi dulu baru sarapan!” Serunya ketus sambil menarik kopi yang hendak kuminum.

Aku hanya bisa berdecak sebal dan berjalan dengan malas ke kamar untuk mandi. Setelah selesai aku memakai sweater abu-abu dan hotpants berwarna hijau. Kedinginan? Tidak terlalu jika di dalam ruangan jika di luar ruangan aku baru akan memakai pakaian tebalku. Lalu aku langsung menyambar roti yang sudah dan mengolesnya dengan selai stroberi kesukaanku.

“Setelah ini kau pergi sendiri oke?”

“Membawa mobil sendiri tanpa supir? Jeongmal?” Tanyaku antusias. Eonni tidak pernah mau aku membawa mobil seorang diri padahal aku sudah mahir.

“Andwae! Maksudku kau pergi dengan supir saja tanpa denganku. Kan kau akan bertemu dengan orangtuamu jadi aku tidak perlu ikut.” Jelasnya panjang lebar. Aku hanya bisa memajukan bibirku beberapa senti tanda tidak suka.

“Oh jika tiba-tiba orangtuamu memintamu menginap di rumah mereka kau turuti saja arasseo?” Tumben sekali Hana eonni mengatakan hal seperti ini. Kurasa ada yang tidak beres. Ah molla, bukankah itu bagus? Bisa berkumpul bersama keluargaku.

Setelah selesai aku segera memakai mantel dan boots berwarna krem dan keluar dari apartemen yang ku tinggal bersama Hana eonni. Semenjak menjadi artis aku di haruskan untuk tinggal di sebuah apartemen bersama managerku ini. Dan letak apartemen ini sudah di pilih oleh perusahaan.

Aku menaiki mobil mercy yang biasa aku pakai untuk menjalani schedule lainnya. Sepertinya Hana eonni sudah memberitahukan letak rumah kedua orangtuaku. Buktinya kami sampai dengan lancar dan ahjussi tidak menanyakan apapun padaku.

Pintu rumah langsung terbuka secara otomatis, begitu sampai di garasi aku segera turun dan membuka pintu dengan semangat. Melalui jendela aku melihat ahjussi keluar dari bagasi rumah, sepertinya Hana eonni akan pergi. Aku tidak mau mengurusi itu lagi, aku terlalu merindukan eomma dan appa.

“Eomma! Appa! Aku pulang!” Teriakku mengisi seluruh rumah yang cukup besar ini.

“Seona-ya! Aigo anak perempuan eomma tersayang!” Pekik eomma saat turun dari tangga dengan cepat. Aku langsung memeluk eomma dan mencium pipinya.

“Eomma bogoshipoyo!” Rengekku sambil terus memeluk eomma.

“Nado Seona-ya.” Ucap eomma sambil mengelus rambut panjangku yang kubiarkan terurai.

“Appa eodi?” Tanyaku sambil merenggangkan pelukan kami dan mencari appa.

“Appa? Sepertinya masih di ruang kerjanya.”

“Sepagi ini?” Appa memang memiliki ruang kerja sendiri di rumah.

“Sepertinya anak appa satu-satu sudah sampai di rumah.” Ujar appa yang hendak turun dari tangga sambil tersenyum khas seorang ayah.

“Appa!” Panggilku manja sambil memeluknya.

“Aigo, sepertinya Seona yang manja ini masih belum berubah walaupun sudah menjadi artis.” Ucapnya sambil menepuk-nepuk punggunku dengan pelan.

“Sebenarnya kalian memanggilku untuk apa?” Tanyaku to the point saat kami sudah duduk di ruang keluarga yang memiliki beberapa sofa yang panjang dan nyaman.

“Seona-ya appa memiliki seorang teman sejak kecil ia bermarga Lee–”

“Ahh Seona tahu pasti appa ingin menjodohkanku dengan anak dari Lee ahjussi benarkan?”

“Bukan Seona-ya dengarkan appa dulu nak.” Ucap eomma sambil melirik ke arahku karena aku memotong pembicaraan appa.

“Bukan begitu Seona-ya hanya saja kami sudah sangat dekat, kami ingin menjadi satu keluarga.” Lanjut appa.

“Apa bedanya appa ini sama saja dengan menjodohkanku. Lagipula pihak perusahaan pasti tidak setuju.” Benar pasti pihak perusahaanku tidak akan setuju mereka pasti akan lebih mementingkan karir artis mereka.

“Tidak Seona mereka setuju, appa dan teman appa hanya mengatakannya sekali dan mereka langsung setuju.” Ujar appa sambil menunjukkan senyum kemenangannya itu.

“MWO!? Mereka pasti becanda! Aku pasti bermimpi.” Elakku sambil mecubit lenganku sendiri. Aw sakit!

“Tidak Seona ini nyata dan pernikahanmu akan di adakan besok.” Lanjut eomma dengan mimik seriusnya.

“MWO!? Besok!!?? Ini gila! Shireoyo! Aku akan menelpon supirku untuk pulang.”

“Tidak Seona kau akan terus di rumah ini sampai hari pernikahanmu.” Tegas Appa. Ia menjentikkan jarinya dan 3 orang berpakaian formal dan berbadan besar berada tepat di belakangku.

“Appa aku tidak mau!” Rengekku kesal berharap appa membatalkan niatnya menjodohkanku. Appa tidak mengatakan apapun kalau begini hanya ada satu cara kabur!

“Kyaaa lepaskan aku!” Pekikku saat aku hendak berlari dan kedua orang di belakangku mengangkat lenganku hingga aku menggantung karena mereka lebih tinggi dariku.

“Kau harus mendengarkan kami Seona.” Ucap eomma lembut tapi tetap saja membiarkanku di angkat oleh kedua orang ini yang membawaku ke kamar.

Mereka langsung mengkunci pintu kamarku dan membiarkan sendiri di dalam kamarku ini. Aku berusaha mencari cara agar bisa kabur tapi percuma semua jendela sudah di kunci oleh appa. Menyebalkan!

Aigo eottoke!?
***
Semalaman aku tidak tidur terlalu sibuk memikirkan apa yang telah di lakukan appa dan eomma. Aku juga berusaha mencari cara agar bisa kabur tapi ini semua percuma. Ahh mengapa Hana eonni tidak menjemputku!?

“Seona-ya, ayo kita sarapan.” Eomma masuk ke kamarku dan sebelumnya ia sudah mengetuk pintu terlebih dahulu.

“Aigo kau tidak tidur semalaman ya?” Pekik eomma mungkin karena melihat kantong mataku yang sangat hitam dan mukaku yang tak bisa di jelaskan mungkin sangat amat mengerikan.

“Ne.” Gumamku lesu.

“Gwenchana dengan makeup pasti mukamu akan terlihat lebih segar. Cepat mandi dan ganti bajumu, kita sarapan dan siap-siap untuk resepsi pernikahanmu ini.” Sahutnya dengan semangat.

Aku sengaja memperlambat semua aktifitasku berharap mereka akan membatalkannya. Tetapi tidak. Sekarang aku dan eomma sudah berada di salah satu tempat mungkin di salah satu ruangan yang ada di resepsi pernikahan ini. Aku sama sekali tidak tertarik untuk melihat atau memperhatikan apa yang mereka lakukan.

Setelah selesai dengan tataanku salah seorang dari mereka membawakan tube dress putih yang sangat indah, mereka membawakan itu padaku dan memintaku untuk mengganti pakaian. Tube dress ini memiliki ukiran bungan yang indah di bagian dada dan di bawah lutut sampai ke ekornya. Simple tetapi sangat menarik. Sepertinya eomma yang memilih gaun ini untukku.

Dan entah mengapa perasaanku yang awalnya kesal mulai surut ketika membayangkan bagaimana usaha orangtuaku memnyiapkan segala ini semua untukku. Yah sepertinya aku tidak tega jika membatalkan pernikahan ini, jika aku membatalkannya pasti akan membuat mereka sangat kecewa.

“Seona-ya, aigo anak eomma neomu yeppo.” Ucap eomma begitu membuka pintu dan melihatku yang sedang berdiri di depan kaca.

“Gomawo eomma.” Sahutku tulus.

“Eomma tidak menyangka anak eomma akan menikah di usia 20. Eomma tidak bisa membayangkan kau tinggal dengan suamimu nanti.” Gumamnya sepertinya eomma akan menangis.

“Eomma, aku tidak mau melihat eomma menangis.” Ucapku sambil memeluk eomma.

“Maafkan kami karena kau tidak bisa menikah dengan namja yang kau sukai Seona-ya. Dia sangat ramah dan baik Seona-ya. Yahh walaupun kami belum pernah bertemu dengannya.” Aku eomma. Jakkaman. Tidak pernah bertemu!?

“Maksud eomma tidak pernah bertemu?” Tanyaku ulang sambil melepas pelukan kami.

“Dia sibuk Seona dia juga artis sama sepertimu.”

“Tenang saja Seona-ya eomma yakin kau pasti akan mencintai namja ini.” Ucap eomma yakin.

Cinta? Aku bahkan tidak pernah berpikir untuk mencintai namja itu nanti.

“Kajja resepsinya sebentar lagi akan di mulai. Ah itu appa.” Ajak eomma. Appa masuk ke ruangan ini dan aku mulai memasukkan tanganku di sela lengan appa.

Saat memasuki ruangan resepsi. Aku mengedarkan padanganku banyak orang yang lumayan tidak aku kenal. Mungkin mereka beberapa kerabat calon nampyeonku. Nampyeon. Aku masih ragu akan melanjutkan pernikahanku ini.

Aku melihat ke depan dan melihat sesosok namja memakai pakaian serba putih sedang melihat ke arah altar. Aku penasaran dengan siapa nampyeonku itu. Aku berusaha mencari petunjuk dengan melihat ke arah para tamu. Aku melihat 4 orang namja berdiri di sebelah kiri sambil tersenyum lebar. Dan juga beberapa artis dari SM Entertaiment, seperti super junior oppadeul, sonyeshidae eonnideul dan f(x) eonnideul serta exo-k oppadeul.

Aku berusaha memfokuskan padanganku pada 4 orang namja tadi, bukankah mereka shinee? Bukankah harusnya mereka berlima? Mengapa hanya ada 4 orang? Aku berusaha mengingat-ingat siapa saja member shinee. Ahhh jangan-jangan nampyeonku itu…

Tobecontinue…