Tags

, , , , , ,

Ring, Marriage, Artist: New Life [Chapter 2]

Title : Ring, Marriage, Artist

Author : taemfairy

Main Cast : Kim Seona, Lee Taemin

Support Cast : Lee Jinki as Onew, Kim Jonghyun, Kim Kibum as Key, Choi Minho, Seona’s eomma and appa, Taemin’s eomma and appa, Lee Taesun, Lee Taesun’s wife and aegy, Lee Donghae

Length : Sequel

Genre : Romance, Marriage Life, Family, Humor,

Rating : PG-15

Previous Chapter: Unpredictable [Chapter 1]

Seona POV

Aku berusaha memfokuskan padanganku pada 4 orang namja tadi, bukankah mereka shinee? Bukankah harusnya mereka berlima? Mengapa hanya ada 4 orang? Aku berusaha mengingat-ingat siapa saja member shinee. Ahhh jangan-jangan nampyeonku itu…

Tepat saat aku menemukan jawaban siapa nampyeonku. Appa membuyarkan lamunanku.

“Jaga Seona baik-baik.” Bisiknya sambil menyerahkan tanganku pada namja yang sekarang tepat di sebelah kananku.

“Ne abeonim.” Gumamnya sambil menerima tanganku. Mulutku ternganga melihat namja di sampingku ini, bahkan sapaan awal pendetapun pada para tamupun tidak kudengar.

“Apakah kau Lee Taemin bersedia menerima Kim Seona sebagai istrimu dalam suka duka, sehat maupun sakit, kaya maupun miskin?” Ucap pendeta di depan kami.

“Ne saya bersedia.” Apa!? Mengapa ia bisa mengatakan hal itu dengan mudah?

“Dan kau Kim Seona apakah kau bersedia menerima Lee Taemin sebagai suamimu dalam suka duka, sehat maupun sakit, kaya maupun miskin?” Tanya pendeta itu sekarang kepadaku.

“Aku… Aku..” Aigo eottokhe!?

Aku bisa merasakan tatapan namja di sebelahku terheran-heran melihatku. Ia menyenggolku pelan seperti memintaku untuk lebih cepat. Aku bisa mendengar bisikan orang-orang di belakang kami yang sedang berbisik-bisik. Aku melirik ke arah eomma dan appa dan mereka terlihat sangat cemas.

“A..ku bersedia.” Ucapku akhirnya dengan sedikit terbata. Setelah itu pendeta mengucapkan beberapa kata yang aku hiraukan. Pikiranku terlalu panik masih bingung dengan apa yang telah kulakukan.

“Sekarang mempelai pria di persilahkan mencium mempelai wanita.” Ucap pendeta yang sukses membuatku membulatkan mataku.

Aku merasakan kedua tangan seseorang meraih pinggangku untuk melihat ke arahnya. Aku melihat Taemin-ssi untuk pertama kalinya, biasanya aku hanya melihat mereka di TV atau beberapa majalah atau saat perform secara kebetulan melewati mereka tanpa bertegur sapa. Tatapan sangat sulit di deskripsikan dan aku merasakan wajahnya mulai mendekat dengan wajahku.

“Jwesonghamnida.” Gumamnya lalu menempelkan bibirnya tepat di bibirku. Maaf? Untuk apa? Atau sebenarnya ia merasakan apa yang kurasakan?

***

Setelah resepsi pernikahan itu kami berpindah ke satu tempat untuk merayakan pernikahan kami bersama beberapa kerabat. Kali ini tamu yang datang cukup banyak. Dan pembawa acara di sini juga meminta kami melakukan adegan ciuman seperti pernikahan yang wajar lainnya. Taemin melakukannya dan sama seperti pertama kali dia meminta maaf, tetapi kali ini ia memainkan bibirku sejenak dan itu sangat membuatku kaget.

Kami terus menyapa tamu sambil bergandengan tangan. Bukankah kadang berakting itu di perlukan di kehidupan nyata?

“Taemin-ah, chukkaeyo!” Seru salah seorang namja menghampiri kami di ikuti 3 namja di belakangnya. Mereka terlihat sangat menarik.

“Kau bahkan lebih cepat menikah dari pada kami semua! Kau tahu Onew hyung sempat cemburu denganmu apalagi kau mendapat istri yang sangat cantik.”

“Jonghyun hyung! Aku yakin kau akan menyusul kami.” Sahutnya sambil memeluk pinggangku seperti menyuruhku untuk lebih dekat dengannya.

“Seona ini member shinee, lebih tepatnya teman segroupku yang sudah ku anggap seperti saudara kandungku.” Lanjutnya sambil tersenyum. Ini pertama kalinya aku melihatnya cukup banyak bicara tidak seperti saat kami menemui tamu yang lain.

“Hai Seo aku Kibum kau panggil aku Key oppa saja. Aku membaca beberapa situs mengatakan kau setahun lebih muda dari Taemin.” Ucap namja paling kiri yang menurutku selera fashionnya sangat menarik.

“Minho imnida kau boleh memanggulku Minho oppa.” Lanjut namja yang paling kiri yang memanggil Taemin pertama kali.

“Aku Onew dan jangan ragu-ragu memanggilku oppa Seo.” Oh seingatku dia leader dari shinee bukan?

“Aku Jonghyun kau boleh memanggilku apapun bling-bling? Aku tidak keberatan. Yeobo? Aku juga tidak keberatan.” Ujar namja yang tadi sempat mengejek Onew oppa.

“Ya! Hyung! Kau cari sendiri yeojamu! Jangan mengganggu istri orang!” Seru Taemin sambil mendorong Jonghyun oppa dan membuatku tertawa kecil.

“Arasseo aku hanya bercanda ya kan Seo?”

“Ne oppa.” Jawabku sambil tersenyum.

Setelah menyapa member shinee kami hendak menyapa salah satu kerabat appa tetapi aku merasa seseorang memanggilku sehingga aku terhenti dan mencari siapa yang memanggilku.

“Seo! Seona-ya!” Ah itu dia yang memanggilku. Aku segera melepas gandenganku pada Taemin-ssi dan sedikit berlari mendekati orang itu.

“Donghae oppa!” Pekikku lalu berhamburan memeluknya.

“Aigo Seona-ya oppa ingin sekali memelukmu saat resepsi pernikahanmu tadi.” Serunya sambil memelukku.

Jangan heran jika aku dekat dengan Donghae oppa, sebenarnya aku cukup dekat dengan member super junior lainnya. Saat masa trainee-ku waktu ada sedikit masalah dan Donghae oppalah yang membantuku dan ia memperkenalkanku dengan member super junior lainnya. Jadi di antara semua artis SM aku paling dekat dengan suju oppadeul lalu senyeoshidae eonnideul.

“Donghae hyung kau kenal dengan Seo?” Ucap seseorang di belakangku saat aku sedang asik berpelukkan dengan oppaku ini. Dan seketika aku melepaskan pelukan kami.

“Taemin-ah! Tentu saja ceritanya cukup panjang. Ngomong-ngomong chukkae Taemin, Seo. Aku tidak menyangka kalian akan menikah.” Sahut oppa sambil tersenyum.

“Jangan membuat dia sedih Taemin-ah, kadang Seo akan suka ngambek walaupun itu hal kecil.” Seketika aku mecubit lengan oppa.

“Argh! Seo!” Serunya kesakitan sedangkan aku langsung mehrong ke arahnya.

“Seona.” Panggil seseorang tepat di belakang kami. Ternyata eomma dan ia di ikuti appa dan 2 orang yang tidak kukenal memanggil kami-aku dan Taemin-ke arah mereka.

“Oppa aku pergi dulu eomma memanggilku. Annyeong.” Seruku lalu beranjak pergi begitu saja tanpa memperdulikan Taemin.

“Aish Seo mengapa kau meninggalkan suamimu hah?” Eomma langsung memukul lenganku pelan ketika aku berada tepat di sampingnya. Dan pada saat itu juga Taemin berdiri di sampingku.

“Gwenchana eommonim.” Sahutnya santai sambil tersenyum. Sedangkan aku langsung memanyunkan bibirku tanda tak suka.

“Aigo kalian cocok sekali.” Ucap seorang wanita yang cukup berumur sepertinya hampir seumuran dengan eomma. Appa dan laki-laki di sebelahnya-yang menurutku adalah suami dari ahjumma tadi-tersenyum dengan ramah. Senyumnya seperti Taemin, ah jangan-jangan…

“Seo ini appa dan eommanya Taemin.” Jelas eomma menyadari raut wajahku yang heran melihat mereka.

“Taemin-ah!” Seru seorang namja-lagi- dan langsung merangkul Taemin. Hmm wajah mereka mirip.

“Hyung! Kau datang!? Kupikir kau sudah melupakan adikmu ini.” Kata Taemin dengan semangat menggebu-gebu sambil memukul dada hyungnya itu beberapa kali. Ah wajar muka mereka mirip ternyata hyungnya Taemin.

“Tentu saja aku ingat! Aku bahkan membawa istri dan anakku.” Sahutnya sambil mengganti rangkulannya ke seorang yeoja-yang mungkin lebih tua beberapa tahun dariku-sedang menggendong anak mugnkin sekitar kurang dari 1 tahun.

“Huwaa! Kyeopta!” Seruku saat melihat aegy yang di gendong oleh yeoja itu.

“Kamsahamnida. Aku Taesun, hyungnya Taemin dan ini istriku Hyeri. Kau pasti Seona’kan?” Sahutnya sambil terus tersenyum.

“Ne bangapsumnida.” Ucapku sambil membungkukkan badan.

“Aigo tak perlu seperti itu jangan terlalu formal kan kita sudah satu keluarga sekarang. Oh iya dan jika Taemin berbuat jahat atau apapun laporkan padaku biar aku yang membalasnya. Tambah Taesun oppa dengan semangat dan mengacak rambut Taemin dengan cukup kasar dan terkekeh pelan.

Jakkaman tadi Taesun oppa bilang satu keluarga. Aku baru menyadari jika aku berdiri di tengah keluarga yang lengkap. Maksudku ada eomma, appa, kedua orangtua Taemin, saudaranya dan bahkan kakak iparnya serta keponakan Taemin. Dan bagaimana bisa aku menikmati lingkungan ini padahal beberapa menit yang lalu aku serasa ingin pergi dari ruangan ini!?

***

Pesta ini berakhir sangat larut, aku merasa kakiku akan putus jika berdiri lebih lama lagi. Ketika acara sudah selesai aku segera mengikuti eomma dan appa yang hendak pulang.

“Seo mengapa kau mengikuti kami?” Tanya eomma begitu menyadari aku sedang membuntuti mereka.

“Tentu saja pulang dengan kalian kalau tidak aku tinggal dimana lagi?” Tanyaku sambil berusaha melepaskan high heels yang super menyakitkan ini. Argh, high heels apaan ini mengapa sangat susah di lepas?

“Aigo kau ini lucu sekali Seona-ya tentu saja kau tinggal dengan suamimu di rumah baru kalian.” Seru appa sambil tertawa pelan.

“Seona-ya kajja kita pulang.” Sahut seseorang tepat di belakangku aku menengok ke arahnya.

INI PASTI BERCANDA!

“Annyeong kita pulang dulu, nikmati malam pertama kalian arasseo?” Pinta eomma sambil melambai-lambaikan tangannya dan pergi begitu saja.

“Tapi… Bajukan masih di rumah.” Gumamku sambil melihat ke arah eomma dan appa yang tidak melihatku dan terus melangkah pergi.

“Baju kita sudah ada di rumah. Oh iya rumah kita di dekat dorm shinee dan SM jadi tidak perlu jauh-jauh pergi ke sana. Dan apartemenmu sudah di kosongkan, managermu pindah ke dekat apartemen kita. Satu lantai dengan dorm shinee, sedangkan kita di lantai bawah.” Jelasnya panjang lebar, tetapi percuma karena yang kupikirkan sekarang adalah aku dan namja yang belum terlalu kukenal ini akan tinggal satu apartemen. Satu apartemen! Jangan sampai akan lebih parah dari ini.

Selama perjalanan kami habiskan dengan diam yang terdengar hanya deru mobil dan lagu yang di putar. Kami masih memakai gaun pengantin acara tadi dan sekarang kami menjadi tontonan di basement apartemen walaupun hanya ada beberapa orang itupun hanya sepasang kakek nenek yang mungkin tidak mengenal kami. Aku berusaha mengabaikan tatapan mereka dan terus berjalan menunggu lift terbuka.

“Memangnya kau tahu lantai berapa?” Tanya Taemin-ssi begitu kami memasuki lift yang kebetulan kosong.

“Ani kan kau tahu.” Jawabku seadanya. Ia berdecak pelan lalu memencet angka 5. Setibanya di lantai 5 aku membiarkannya memandu jalan karena aku sama sekali tidak tahu nomor berapa. Setelah ia menemukan kode kamar itu ia menekan beberapa password.

“Besok akan aku ganti passwordnya jadi hanya kita berdua yang bisa masuk ke dalam. Kau jangan memberitahu siapapun arasseo?” Aku hanya mengangguk pelan dan memasuki apartemen tersebut.

Aku segera menghempaskan tubuhku ke sofa tanpa memperhatikan keadaan sekitar apartemen. Aku berusaha membuka high heels ini kembali tetapi mengapa sangat susah. Aku menghentak-hentakkan kakiku ke lantai hingga terdengar suaranya. Seketika aku mendengar tawa seseorang yang sedang memasukkan kedua tangannya ke saku dan berjalan ke arahku.

“Wae?” Tanyaku ketus.

“Kau tidak pernah memakai high heels ya? Jangan membukanya dengan kasar itu hanya akan membuat kakimu lencet.” Ucapnya sambil berjongkok di depanku dan membantuku membuka high heels ini.

“Bukan salahku, salahkan siapa yang merancang dan memilih sepatu itu! Aku tidak mencampuri urusan ini sedikitpun!” Sahutku kesal.

“Jinjja? Kalau begitu sama denganku.” Lanjutnya dan langsung berdiri setelah selesai membuka high heels terkutuk ini.

“Bajumu sudah di rapihkan oleh eommonim dan eomma, sepertinya mereka sudah memasukkannya ke dalam lemari. Kau mandi terlebih dahulu arasseo?” Ucapnya sambil menunjuk kamar dengan dagunya. Sedangkan aku hanya mengangguk kecil tanda mengerti.

Aku berjalan memasuki kamar baru ini dan membuka lemarinya. Omo! Hampir semua baju yang kutaruh di apartemen duluku sudah rapih di sini. Apa mungkin mereka melakukannya hanya dalam waktu hampir 24jam!? Aku segera mengecek baju-baju yang ada. Untung eomma tidak menaruh baju yang aneh-aneh. Aku segera mencari kamar mandi dan membersihkan diriku dari makeup yang sangat merepotkan ini.

“Seona-ya.” Panggil seseorang tepat setelah aku selesai mandi dan memakai baju tidur dengan lengkap tentunya.

“Ne?” Tanyaku sambil berjalan ke meja rias dan mulai menyisir rambutku yang basah dan mengeringkannya dengan hairdryer.

“Aku sudah mengecek seluruh isi apartemen sebenarnya apartemen ini memiliki 2 kamar tetapi satu kamar lagi di kunci.”

“Mwo!? Kau yang melakukan ini hah!?” Pekikku dan langsung berdiri menatapnya dengan geram.

“Aniyo! Untuk apa? Aku juga baru tau tentang apartemen ini saat pesta selesai. Eomma langsung memberitahuku password apartemen ini dan menyuruh kita tinggal di sini. Dan bukankah kau lebih muda dariku setahun? Lebih sopan sedikit Seo.” Jelasnya panjang lebar dan mulai kesal saat aku memanggilnya kau. Yah walaupun kedengarannya memang tidak sopan.

“Mianhae Taemin-ssi.” Ucapku lirih sambil duduk kembali.

“Siapa yang menyuruhmu memanggilku dengan embel-embel ssi? Panggil aku oppa!” Serunya sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya.

“Ne oppa.” Sahutku lesu dan menundukkan kepalaku.

“Gwenchana akan tidur di sofa luar saja.” Ujarnya sambil mengelus rambutku pelan.

…..

“Yeoboseyo?” Ia langsung mengangkat telfonnya yang ada di meja.

“Taemin-ah kau tidak boleh tidur di sofa arasseo? Eomma akan tahu jika kau tidur di sofa!” Teriak eommonim dari telfon hingga aku bisa mendengarnya dengan sangat jelas.

“N…ne eomma.” Balas Taemin oppa sedikit panik.

“Ya sudahlah nanti biar aku saja yang tidur di lantai.” Gumamnya setelah memutuskan sambungan telfon dan mengucapkan beberapa kata untuk eommonim.

“Andweyo!” Kita tidur bersama di kasur saja.” Seruku.

“Geunde…”

“Gwenchana, aku percaya pada oppa. Lagipula aku tidak tega membiarkan oppa tidur di lantai sedangkan ini sudah musim dingin. Aku tidak mau sakit hanya karena tidur di lantai. Sekarang oppa cepat mandi.” Ujarku sambil menunjuk kamar mandi.

Kulihat ia hanya mengangguk dan berjalan ke arah kamar mandi. Setelah selesai mengurus rambutku aku segera merapikan ranjang untuk tidur. Aku segera menghempaskan tubuhku ke ranjang dan menggeliat pelan. Tepat pada saat itu aku mendengar suara pintu dari arah kamar mandi. Dan…

“Kyaaaa! Oppa! Kenapa kau topless!?” Pekikku sambil langsung menutup kedua mataku dengan bantal.

“Wae? Aku sudah terbiasa tidur dengan topless Seo.” Balasnya ringan seperti tanpa berdosa.

“Ini musim dingin dan kau tidur dengan yeoja pakai bajumu!” Pekikku tidak berhenti dan tentunya menutup kedua mataku ini.

“Aish ne arasseo.” Ia mengalah dan mengambil bajunya.

Setelah memakai bajunya ia langsung menghempaskan tubuhnya di sebelahku dan merenggangkan tubuhnya. Lalu ia menarik selimut untuk menghadang dingin ke tubuh kami. Aku berusaha menutup mataku untuk tidur.

“Menurutku tidak apa bukan jika aku tidur dengan topless? Lagipula aku tidur dengan istriku sendiri bukan?” Ucapnya tiba-tiba. Aku mengintip dan ternyata ia sedang menaruh kedua tangannya bertumpu di belakang kepalanya melihat ke langit-langit kamar. Sedangkan aku dalam posisi miring melihatnya.

“Tapikan—”

“Ne arasseo kau hanya masih malu.” Potongnya tiba-tiba.

Dan setelah itu aku berusaha memejamkan mataku kembali. Aku sudah lama terus berusaha untuk tidur tetapi.. Aish! Kenapa tidak bisa! Biasanya aku akan selalu mencari eomma atau hana eonni untuk memeluk lengannya agar bisa tidur tapi sekarang!? Ah eottokhe!?

“Taemin oppa?” Gumamku pelan-pelan takut membangunkannya. Aku melirik ke arahnya dan ia sudah memejamkan matanya dan menghadap ke arahku.

“Padahal aku ingin bertanya apakah dia tahu tentang pernikahan ini atau tidak.” Ujarku pada diriku sendiri sambil mengerjapkan mata beberapa kali.

“Ani kau sendiri?” Tanyanya tiba-tiba dan membuka matanya perlahan.

“Kupikir kau sudah tidur, mianhae jika mengganggu tidurmu.” Gumamku.

“Gwenchana aku juga tidak bisa tidur. Kau sendiri?” Tanyanya lagi karena aku belum menjawab pertanyaannya.

“Aku baru tahu kemarin dan saat sampai di rumah eomma dan appa langsung mengatakan hal ini padaku. Awalnya aku sudah berusaha kabur tetapi aku di awasi oleh penjaga terus.”

“Orangtuaku lebih parah aku baru mengetahuinya di saat beberapa jam sebelum resepsi pernikahan. Aku tidak bisa menolak permintaan mereka, permintaan mereka adalah segalanya bagiku. Walaupun aku yang akan menderita aku tidak peduli.”

“Jadi maksud oppa menikah denganku akan membuat oppa menderita?” Rengekku sedikit kesal.

“Aniyo aish masa kau tidak mengerti?”

“Ani.” Jawabku ketus sambil memunggunginya.

“Ya! Seona-ya jangan seperti itu.” Pintanya sambil mengelus puncak kepalaku, tetapi aku hiraukan.

“Benar kata Donghae hyung, kau mudah ngambek hanya karena hal kecil.” Ledeknya.

“Aniyo!” Pekikku dan langsung membalik tubuhku melihat ke arahnya.

“Ne ne arasseo ayo cepat tidur.” Suruhnya sambil menepuk-nepuk puncak kepalaku. Aku menurut dan segera memejamkan mataku tapi…

“Oppa?”

“Emm?”

“Bolehkah aku memeluk lengan oppa? Jika aku tidak bisa tidur aku harus memeluk lengan eomma atau Hana eonni tapi karena mereka tidak ada…”

“Tentu saja.” Ucapnya sambil tersenyum. Aku segera memeluk lengan kirinya sambil tersenyum. Taemin oppa langsung mendekatkan tubuhnya ke arahku agar aku lebih mudah memeluk lengannya.

Tobecontinue