Tags

, , , , , ,

Ring, Marriage, Artist – Not Fair [Chapter 3]

Title : Ring, Marriage, Artist

Author : taemfairy

Main Cast : Kim Seona, Lee Taemin

Support Cast : Lee Jinki as Onew, Kim Jonghyun, Kim Kibum, Choi Minho, Lee Donghae

Other Cast : Victoria Song, Jung Krystal, Choi Sulli, Amber Liu, Park Luna

Length : Sequel

Genre : Romance, Marriage Life, Family, Humor,

Rating : PG-15

A.n : di cerita ini Taemin umur 21 dan Seona 20. Sebelumnya maaf kalo ada yg ga suka sama karakter cast di sini😀 thank you

Previous Chapter: Unpredictable [Chapter 1] | New Life [Chapter 2]

“Huahh! Melelahkan sekali! Aku lebih memilih untuk menyanyi berkali-kali dari pada menari!” seru Seona saat mereka sampai di dalam lift naik ke apartemen mereka.

“Tapi menurutku caramu menari sudah baik, kurasa kau bisa mengikuti Luna dan Hyoyeon noona ikut battle dance jika SM Town concert di adakan.”

“Jeongmalyo? Kurasa aku tidak sepandai mereka dalam hal menari.” mereka berjalan dengan cukup santai begitu pintu lift terbuka. Begitu mereka sampai di depan apartemen mereka, Taemin segera menekan beberapa kode apartemen mereka.

“Akhirnya kalian pulang!” “Mengapa baru sampai jam segini?” Dua wanita paruh baya segera menyambut Taemin dan Seona begitu pintu apartemen terbuka. Sedangkan dua pria lainnya sedang duduk dengan santai di ruang tengah apartemen tersebut.

“Eomma Appa? Eommonim Abeonim? Kenapa kalian bisa ada di sini? Sejak kapan kalian sudah di sini?” tanya Seona bertubi-tubi masih bingung dengan kedatangan mendadak orangtuanya dan orangtua Taemin. Sedangkan Taemin hanya bisa melongo begitu melihat keluarganya dan Seona datang dan berdiri.

“Tentu saja kami datang untuk menemui kalian Seo!” Ujar nyonya Kim-ibu Seona- dengan semangat menggebu-gebu dan menghampiri Seona dan Taemin yang masih mematung di depan pintu.

Taemin hanya mengangguk lalu melepas mantel dan sepatunya dan menaruh di gantungan dan rak sepatu  yang ada. Sedangkan Seona masih heran dengan orangtuanya, ia melepas mantelnya dengan pelan sambil memikirkan hal-hal aneh yang membuat mereka datang. Lamunan Seona membuyar begitu mendengar suara Taemin yang pamit untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu.

Tega sekali ia membiarkanku di interogasi sendirian oleh mereka. Keluh Seona sambil menghela nafasnya dengan berat. Nyonya Kim hanya tersenyum lalu membimbing Seona berkumpul bersama Tuan Kim, Tuan Lee dan Nyonya Lee. Sejenak mereka sedang asik membicarakan hal masing-masing yang membuat Seona terdiam bingung mengatakan apa.

“Jika di lihat dari cara kalian memperlakukan diri kalian masing-masing sepertinya belum terjadi apapun semalam bukan begitu Seo?” Tanya Tuan Lee dengan senyum kebapakan yang ada di mukanya.

“N..ne? Te..tentu saja tidak abeonim. Kami baru berkenalan kemarin mana mungkin kami melakukan hal yang tidak-tidak.” Jawab Seona terbata-bata krena pertanyaan aneh mertuanya itu.

“Tapi kalian sudah menikah Seo jadi wajar jika kalian sudah melakukannya.” ujar Tuan Kim tersenyum simpul.

“Benar Seo lagipula kami sudah ingin menimang cucu.” Sahut Nyonya Lee sambil tersenyum, sedangkan Nyonya Kim menyikut pelan Nyonya Lee seraya tertawa pelan. Seona menundukkan kepalanya pasrah dan bingung mengapa mereka sangat mudah menyerang Seona.

“Seona pendatang baru dalam dunia entertaiment dan masalah pernikahan ini hanya perusahaan dan keluarga saja yang tahu, bukan? Jika tiba-tiba Seona hamil, karirnya akan menghilang begitu saja. Itu sama saja ia menghapus semua usaha kerasnya bertahun-tahun ini.” Taemin keluar dari kamar mandi lengkap dengan baju tidur lengan panjang putih dan celana panjang tidur hitamnya. Ia langsung menghempaskan tubuhnya tepat di sebelah kanan Seona yang masih kosong.

“Itu bukan masalah besar Taemin. Kami bisa meminta perusahaan untuk membuat press conference agar mereka semua tahu jika kalian sudah menikah.” jawab Tuan Lee seakan menuntut mereka berdua untuk memiliki anak secepatnya.

“Tidak aboeji. Jika kita melakukan itu bukan hanya karir yang akan di permasalahkan tetapi kehidupan Seonapun bisa menjadi masalah, ia tidak akan tenang.” Tambah Taemin. Seona cukup atau mungkin sangat kagum mendengar pernyataan Taemin yang sangat bijak.

“Sudahlah untuk masalah itu kita bisa membicarakannya lain kali. Taemin-ah bukankah kau sedang kelelahan? Eomma menemukan satu obat yang cukup ampuh untuk menghilangkan rasa capek.” Seru Nyonya Lee, tanpa menunggu jawaban Taemin ia segera melesat ke dapur dan membuat minuman sejenis teh pada Taemin.

Awalnya Taemin cukup ragu untuk meminumnya karena biasanya nyonya Lee tidak pernah memberikan ataupun memberitahu soal obat semacam itu. Mungkin nyonya Lee baru menemukannya jadi Taemin tidak terlalu memikirkannya.

“Eommonim tidak menyediakannya untukku?” Tanya Seona polos seraya mengeluarkan puppy eyesnya.

“Aniyo Seona-ya, maafkan eommonim ya?” Sahut nyonya Lee dengan muka menyesal. Seona mengangguk sambil tersenyum tulus.

“Kau mau Seo? Ini untukmu saja.” Ucap Taemin seraya menyodorkan minumannya yang masih ada tiga per empatnya. Tanpa ragu Seona menerimanya dan meneguknya sampai habis mungkin karena ia merasa sangat lelah dan haus.

“Ya Taemin-ah mengapa kau memberikannya pada Seona itukan—”

“Seona-ya eomma membawakan sesuatu untuk kalian berdua! Kalian harus memakainya arasseo?” Potong nyonya Kim tiba-tiba, seperti menyembunyikan suatu rahasia dari Taemin dan Seona.

“Apa eomma?” Tanya Seona dengan semangat begitu mendengarkan kata dari nyonya Kim yang sepertinya sangat menarik. Nyonya Kim segera mengeluarkan barang yang di bawanya di sebuah tas plastik.

“Tarraaa… Baju tidur couple! Otteyo?” Seru nyona Kim dengan senang saat ia mengeluarkan piyama berwarna pink dan biru.

Di baju piyama tersebut terdapat seorang anak laki-laki di pojok kirinya, sedangkan piyama berwarna biru terdapat seorang anak perempuan di pojok kanan. Jika di gabungkan gambar tersebut seperti sepasang anak yang sedang berpegangan tangan.

“Huahh! Kyeoyo!!! Gomawo Eomma!” Pekik Seona senang seraya menarik kedua baju tersebut dan melihatnya dengan mata berbinar.

“Eomma tahu dari dulu kau selalu suka barang couple seperti ini. Taemin kau harus sering memberikan Seona barang seperti ini arachi?” Tukas nyonya Kim seraya mengelus puncak kepala Seona.

“Tentu eommonim.” Seru Taemin sambil tersenyum.

“Kalian harus memakainya malam ini!” Seru nyonya Lee seraya mengambil tasnya.

“Eung! Kalian sudah mau pulang? Kenapa tidak menginap saja?”

“Tidak Seo jika kami menginap di sini kami tidur dimana? Ini juga sudah cukup larut kalian harus tidur.” Jawab tuan Lee terkekeh pelan.

“Kami pergi dulu annyeong. Jaga diri kalian arasseo?” Sahut tuan Kim seraya merangkul nyonya Kim dan berjalan keluar apartemen itu dan di ikuti oleh tuan dan nyonya Lee.

Begitu mereka keluar Seona segera membersihkan dirinya sebelumnya ia mengambil piyama yang di beri oleh nyonya Kim dengan semangat. Sedangkan Taemin hanya terkekeh pelan melihat tingkah Seona, ia berjalan pelan menuju kamarnya dan menghempaskan tubuhnya ke kasur dan mulai mengotak-atik handphonenya.

Begitu keluar dari kamar mandi Seona langsung mematut dirinya di depan kaca sambil tersenyum lebar. Ia sangat menyukai barang couple! Ia memutar melihat ke arah Taemin yang tidak melihatnya sama sekali dan sedang asik dengan handphonenya.

“Oppa! Otteyo?” Tanya Seona masih dengan senyuman yang merekat di bibirnya itu. Taemin mendongak melihat Seona lalu tersenyum.

“Yeppeo!”

“Tentu! Eomma memang tahu yang paling aku mau! Dulu aku selalu memiliki barang couple yang banyak. Tetapi pasangannya selalu kuberikan pada sahabat perempuanku. Padahal aku ingin yang memakainya itu namja bukan yeoja. Ya! Oppa tidak pakai piyamanya!?” Pekik Seona begitu menyadari Taemin masih memakai baju lengan panjangnya dan celana hitamnya.

“Ne ne arasseo.” Ucap Taemin begitu saja. Ia langusng membuka bajunya dan memakai piyama miliknya tepat di posisinya tadi.

Tiba-tiba Seona merasa suasana di sekitarnya sangat panas. Refleks ia langsung mengibaskan tangannya di depan wajahnya berulang kali.

“Seo gwenchana?” Entah sejak kapan tiba-tiba Taemin berada tepat di samping Seona sambil memperhatikan Seona.

“Gw..gwenchana.”

“Jeongmal? Kenapa mukamu memerah? Apa kau sakit?” Taemin meletakkan telapak kanannya di kening Seona memastikan yeoja itu tidak sakit.

-DEG-

Tiba-tiba detak jantung Seona berkerja lebih cepat bahkan ia merasa udara di sekitarnya semakin panas. Seona langsung mengalihkan perhatiannya pada handphone yang berdering pendek. Taemin segera menarik tangannya kembali lalu meraih handphonennya di kasur.

From: Eomma

Mianhae Taemin-ah minuman yang seharusnya kau minum itu adalah obat perangsang. Harusnya kau yang menghabiskannya bukan Seona. Maafkan eomma Taemin-ah… Semoga malam kalian menyenangkan.

Glek. Taemin menelan gumpalan yang tersangkut di lehernya, ia menaruh handphonenya asal lalu ia melihat pelan ke arah Seona yang heran dan berjalan pelan ke arah Taemin.

“Waeyo oppa?” Tanya Seona. Muka Seona sudah kembali seperti semula tetapi tetap saja Taemin terus memikirkan apa yang baru di kirim oleh nyonya Lee.

“Emm Seo lebih baik aku tidur di sofa hari ini.”

“Ne? Waeyo? Aku tidak sakit oppa.”

“Bukan karena itu hanya saja karena ada satu hal aku tidak bisa tidur di sebelahmu.” Gumam Taemin.

“Shireoyo! Kenapa oppa mau tidur di luar? Atau jangan-jangan oppa baru menerima pesan dari yeoja jadi oppa mau tidur di luar dan meninggalkanku sendiri? Kenapa oppa begitu tega pa–” Taemin langsung merengkuh pipi Seona dan menatapnya dalam.

“Kau pikir aku setega itu padamu hah? Meninggalkanmu lalu tidur dengan yeoja lain? Itu tidak mungkin Seo.” Gumam Taemin dengan lembut lebih terdengar seperti bisikan.

Mata Seona berkeliaran mengamati wajah Taemin, entah keberanian dari mana. Seona medekatkan wajahnya dengan wajah Taemin, ia sedikit berjinjit untuk menyamakan tingginya dengan Taemin. Taemin sedikit menunduk entah untuk tujuan apa. Seona bisa merasakan hembusan nafas Taemin yang hangat mulai menyapu wajahnya.

Seona mulai memejamkan matanya dan menempelkan bibir mungilnya tepat di bibir Taemin. Awalnya ia hanya menempelinya tetapi lagi-lagi seperti kerasukan, ia mulai melumat bibir bagian bawah Taemin dengan pelan. Seakan tidak mau kalah Taemin melumat bibir bagian atas Seona. Tangan kiri Taemin melingkar di pinggang Seona sedangkan tangan kanannya meraih tengkuk Seona. Seona melingkarkan kedua tangannya di leher Taemin. Mereka terus melumat bibir satu dengan yang lain sampai Taemin menggigit pelan bibir bawah Seona sehingga bibir bawah Seona sedikit terbuka. Taemin tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia segera nenelusupkan lidahnya ke dalam mulut Seona dan menguasai rongga mulut Seona. Taemin terus memajukan langkahnya sampai kaki Seona mengenai ujung kasur dan terjatuh di atas kasur.

Taemin melepaskan ciumannya saat mulai kehabisan nafas. Tidak lama ia mulai menjilat telinga Seona dan turun ke leher Seon membuat yeoja itu mendesah pelan sambil menjambak rambut Taemin. Tangan kanan Seona turun ke leher Taemin dan membuka kancing piyama Taemin. Taemin terus melakukan aktifitasnya sambil ikut membuka kancing piyama Seona.

Seona berhasil membuka seluruh kancing piyama Taemin, ia mulai menelusuri tubuh Taemin dengan jari lentiknya. Saat membuka kancing ke empat Seona, Taemin berhenti melakukan aktifitasnya dan menjauhkan wajahnya dari Seona.

“Ini salah Seo. Mian seharusnya aku tidak melakukannya.” Gumam Taemin seraya mengancingkan kembali piyama Seona.

“Waeyo oppa? Oppa tidak mau melakukannya demi orangtua kita?”

“Bukan itu masalahnya Seo, minuman yang eomma berikan padaku itu adalah obat perangsang yang membuat kita melakukan hal tadi. Aku hanya ingin kita melakukan itu setelah kita saling menyukai bukan karena paksaan ataupun orangtua kita. Kau juga harus ingat dengan karirmu.” Taemin bangkit dari tubuh Seona dan mengancingkan piyamanya dengan cepat.

“Sebaiknya aku tidur di sofa saja. Kau tidurlah sekarang dan jangan mengatakan hal-hal yang aneh seperti tadi.” Taemin tidak menunggu jawaban Seona dan langsung melesat ke ruang tengah.

***

Seona POV

Matahari mulai mengganggu tidurku membuatku terbangun dari kejadian aneh. Tiba-tiba aku teringat dengan apa yang hampir aku dan Taemin oppa lakukan. Bagaimana bisa aku melakukan hal seberani itu pada Taemin oppa? Aku bahkan membuka piyamanya dan menciumnya terlebih dahulu. Ini semua karena obat itu! Lagipula untuk apa eommonim memberikan obat seperti itu!? Memalukan!

Aku terus berusaha mengabaikan kejadian semalam dan terus memikirkan apa yang harus aku perbuat di depan Taemin oppa nanti saat aku bertemu dengannya. Aku beranjak dari kasur dengan cukup pelan dan mencari Taemin oppa. Saat di ruang tengah aku menemukannya sedang tidur dengan posisi meringkuk dan sedikit gemetaran? Aku segera menghampirinya dan membangunkannya.

“Oppa gwenchana?” Tanyaku cukup panik. Apalagi kulihat Taemin oppa terlihat pucat.

“Gwenchana hanya kedinginan.” Jawabnya berusaha tersenyum agar terlihat sehat tapi percuma. Aku menaruh telapak tangan kananku ke kening oppa. Omo. Kenapa panas sekali?

“Oppa masuk ke kamar ya, sepertinya oppa sakit. Aku akan menelfon Key oppa untuk membuatkan bubur.”

Kulihat ia hanya menganggukkan kepalanya dan berjalan dengan pelan ke kamar. Sepertinya penyakitnya cukup parah.

“Yeoboseyo?”

“Ya, Taemin-ah kenapa kau masih belum kesini? Kami sudah menunggumu tahu!” Cerca Key oppa begitu ia mengangkat telfon. Apakah ia tidak menyadari jika yang berbicra itu yeoja? Ya, sekaang aku menelfon Key oppa menggunakan handphone Taemin oppa karena aku tidak tahu nomor telfon para member.

“Key oppa ini aku Seona.”

“Oh, Seo! Mana Taemin?” Ucapnya dengan nada cukup tinggi.

“Taemin oppa sakit. Oppa boleh aku minta bantuan untuk masakan bubur untuknya?”

“Mwo? Aish anak itu! Padahal besok kita harus ke Tokyo! Tentu! Tapi aku sedang latihan, bagaimana jika kau saja ang memasakkannya? Aku akan memberitahu caranya, bahan-bahannya sudah ada di kulkas. Otte?”

“Tapi oppa aku takut hasilnya tidak enak.” Ujarku ragu. Aku ingat bagaimana pengalamanku saat memasakan di bangku SMA, saat eomma mencobanya dia langsun berlari ke wastael dan membuang isinya.

“Pasti enak Seo! Apalagi jika oppa yang ajarkan! Jika tidak enak hanya Taemin yang memakannya bukan?” Sahut Key oppa sambil tertawa keras. Lalu kudengar ia meringis dan meneriakan nama Jonghyun oppa, sepertinya Jonghyun oppa memukul Key oppa karena berbicara seperti itu.

“Seona-ya jaga Taemin arachi? Besok kita akan pergi ke Jepang dan dia harus ikut.” Tuntut Jonghyun oppa setelah suksea merebut handphone Key oppa mungkin.

“Ne arasseo.”

“YA! Hyung, pikyeo (minggir)! Seo sekarang kau siapkan bahannya dan aku akan mengajarimu sekarang.” Aku tertawa kecil lalu segera beranjak ke dapur dan menyiapjan bahan-bahan di sebut Key oppa.

Untuk mempermudah memasak aku taruh handphone tersebut dan me-loudspeaker-nya. Aku segera mengikat asal rambutku dan mulai memasak. Setelah cukup pusing memasak untuk pertama kalinya. Akhirnya bubur yang sangat susah bagiku ini selesai. Setelah selesai aku langsung menaruhnya di semangkuk piring.

Aku mengambil segelas air putih dan mangkuk tersebut ke kanar dan kulihat Taemin oppa sedang berbaring dan sepertinya tertidur.

“Oppa ireona, kau harus makan terlebih dahulu lalu makan obat. Bukankah besok kau akan ke Jepang?” Aku duduk di tepi kasur sambil sedikit menggerak-gerakkan tubuhnya agar terbangun. Ia sedikit menggeliat lalu melihat ke arahku sambil mengerjapkan matanya beberapa kali.

“Siapa yang memasak?” Tanyanya sambil berusah duduk.

“Tentu saja aku! Tapi tenang saja Key oppa sudah membantuku. Tapi aku belum mencoba buburnya.” Aku meraih mangkuk itu dan menyuapkan sesendok dan meniupnya agar lebih cepat dingin.

Taemin oppa terlihat tidak ragu sama sekali saat aku menyodorkan sendok tersebut. Dengan kening berkerut dan kepanikan yang sangat tinggi aku terus melihat reaksi Taemin oppa.

“Kau ingin tahu rasanya seperti apa?” Tanyanya dan aku langsung menganggukkan kepalaku dengan semangat dengan sangat cemas. Kemudian tangan kirinya terangkat dan meraih puncak kepalaku dan mengacaknya pelan.

“Masshista! Kau yakin kau belum pernah memasak? Bagaimana bisa kau memasak sama enaknya dengan Key hyung?”

“Jeongmalyo? Padahal aku sangat takut jika tidak enak dan oppa tidak mau memakannya sehingga kelaparan karena tidak makan.” Ujarku senang sambil terus tersenyum lebar.

Kemudian Taemin oppa menunjuk mulutnya lagi memintaku untuk menyuapinya lagi. Seketika perasaan cemas yang sedari adi kurasakan hilang begitu saja dan kembali menyendokkan bubur itu, meniupnya pelan dan menyuapkannya pada Taemin oppa.

“Ngomong-ngomong kenapa oppa bisa sakit seperti ini? Memangnya oppa tidak menyalakan penghangat ruangan?” Tanyaku sambil menyuapkannya kembali.

“Aku sudah menyalakannya tapi tetap saja kedinginan.” Ujarnya dengan lemas.

“Kenapa oppa tidak ke dorm saja?”

“Awalnya aku ingin tidur di dorm, tapi saat mengingat nanti mereka akan menanyakan mengapa aku tidak tidur di sini. Mana mungkin aku menjawab karena aku takut padamu yang telah di beri obat aneh itu oleh eomma? Mereka akan menertawakanku!” Aku hanya bisa membulatkan mulutku.

“Mianhae oppa. Karena aku oppa jadi sakit.” Gumamku seraya memberikan segelas air setelah ia menghabiskan buburnya.

“Ini bukan salahmu. Ini salah eomma yang keinginannya terlalu aneh.” Rutuknya lalu kembali berbaring.

“Oppa belum minum obat jangan tidur dulu.” Sergahku segera menyodorkan pil kecil berwarna putih.

“Aish, shireoyo! Rasanya pahit!” Ucapnya lebih seperti merengek.

“Ppalli mokgo! Setelah itu oppa istirahat! Bukankah oppa akan pergi ke Jepang besok?”

“Memang tapi aku tidak mau makan obat! Setelah bangun pasti aku akan sembuh.” Ujarnya sambil menarik selimut dengan kasar lalu menutupnya sampai ke kepala.

“Ya, oppa! Jika oppa tidak mau makan obat ini aku akan menelfon Key oppa!” Ancamku seraya mengangkat handphonenya dan pura-pura beranjak dari kamar tersebut.

“Aish ne ne arasseo.” Serunya kesal sambil membuka selimutnya dengan kasar. Aku tertawa lalu meyodorkan obat dan air putih tadi yang belum habis.

“Oppa sampai kapan berada di Jepang?” Tanyaku ragu saat melihatnya sudah menelan obat itu.

“Emm sekitar seminggu dan mungkin lebih. Waeyo? Kau mau ikut?” Seminggu lebih? Padahal 5 hari lagi aku akan berulangtahun aku pikir tahun ini aku bisa merayakannya dengan orang lain tapi sepertinya tidak. Aku harus melewati ulangtahun ini dengan sendiri lagi.

“Ah aniyo. Aku ada jadwal di sini tidak bisa membiarkannya begitu saja bukan? Oppa sudah boleh tidur sekarang.” tukasku laku membawa mangkuk dan cangkir tadi.

“Ya! Seo kau tidak memberi ppoppo pada suamimu yang sedang sakit ini?”

“Ne? Shireoyo! Itu memalukkan oppa!” Tolakku mentah-mentah.

“Aku sedang sakit Seo.” Ucapnya setengah merengek sambil cemberut.

“Baiklah tapi hanya di pipi!” Seruku, ia hanya mengangguk sambil tersenyum bodoh.

Dengan cepat aku mencium pipinya lalu mengangkat mangkuk yang sebelumnya kutaruh kembali dan segera pergi dengan muka yang tiba-tiba terasa panas. Aku bisa mendengar suara kekehannya sebelum aku menutup pintu kamar. Benar-benar Taemin oppa mengambil kesempatan dalam kesempitan!

 

Tobecontinue