Tags

, ,

ANGEL

Title : ANGEL

Author : taemfairy

Main Cast : Choi Jinhae (OC), Kim Jongin aka Kai

Support Cast : Choi Minho, Oh Sehun, Krystal Jung, Soojin (OC)

Length : oneshot

Genre : Romance

Rating : PG-13

Disclamier : I own the plot this story is sudden inspiration.

“Kai-ssi, aku… maukah kau menjadi namjachinguku?” namja di depan yeoja berkuncir kuda itu mengerutkan keningnya sejenak.

“Ya.” Jawab namja itu singkat, yeoja di depannya dengan senyum merekah menundukkan kepalanya dan menyembunyikan seburat merah yang menyebar di pipinya.

***

Seorang yeoja dengan rambut panjang diurai dengan pita putih di sebelah kiri kepalanya, sedang duduk di salah satu kursi tepi ruang penuh kaca. Yeoja itu memegang pensilnya lalu mulai menggoreskan di atas buku sketsanya yang tinggal setengah.

Saat itu sekolah sedang istirahat panjang, yeoja tersebut terus menggoreskan pensilnya di bukunya sambil melihat kearah namja yang sedang asik menggerakkan tubuhnya sesuai dengan irama lagu yang di putar keras. Ia lebih suka menghabiskan waktunya di ruangan ini, tidak seperti oranglain yang lebih memilih untuk makan. Seketika namja itu menghentikkan gerakannya walaupun lagu tersebut belum berhenti. Lalu ia menghampiri tas yang ada di samping yeoja itu lalu meneguk air mineral yang di bawanya.

“Kau tidak istirahat?” tanya namja itu pada Jinhae–yeoja– yang duduk di kursi tersebut.

“Ani, sebagai yeojachingu yang baik aku harus menemanimu bukan?” jawab Jinhae dengan senyum di wajahnya. Kai hanya mengangguk sekilas lalu mematikkan lagu yang sempat diputarnya dan iapun mengambil tasnya seraya melangkah keluar dari ruangan tersebut.

“Kau mau kemana?”

“Kantin.” jawab namja itu cuek lalu meninggalkan yeoja itu. Jinhae segera mengambil tas serta peralatan gambarnya lalu mengikuti Kai sambil berlari.

“Jika kau lapar kenapa tidak bilang? Aku bisa membawakan makanan dari kantin ke ruang latihan.” seru Jinhae setelah berhasil menyamai langkah Kai dengan kesulitan.

“Kai! Di sini!” teriak salah satu teman Kai yang sedang duduk dengan beberapa orang lainnya di kantin. Kai mengangkat tangan kanannya lalu tersenyum dan bergabung bersama temannya.

“Aku balik ke kelas saja.” bisik Jinhae tanpa di tanya dan ia pun segera melesat keluar dari kantin tanpa berpamitan pada teman Kai. Jinhae memang tidak terlalu mengenal teman Kai, apalagi ia memang berbeda kelas dengan Kai walaupun satu tingkat.

“Kau masih bersama Jinhae? Padahal ia yeoja yang sangat cantik di sekolah kita.” Kai hanya terdiam menanggapi pertanyaan temannya itu sambil melihat punggung Jinhae yang mulai tidak terlihat.

“Kenapa kau tidak mengatakan yang sebenarnya saja?”

***

Jinhae menatap daun pohon di taman sekolahnya dengan memasang earphone di telinganya. Ia memejamkan matanya sejenak dan menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Seulas senyum mengembang di bibirnya. Angin musim semi terasa menyapu wajahnya serta beberapa helai rambutnya. Jinhae memang selalu suka dengan tempat ini, damai dan sejuk. Seakan semua di dunia ini tidak ada masalah sedikitpun.

“Jinhae-ya.”

Jinhae membuka matanya lalu mengerjapkan matanya beberapa kali saat melihat seorang namja yang berparas tampan dan tinggi di depannya. Jinhae tersenyum pada namja itu dengan tulus.

“Oppa tumben sekali menjemputku.” sahut Jinhae sembari berdiri lalu membersihkan roknya dan memasukkan ipod ya ke dalam tas sekolahnya.

“Bukankah aku memang sering menjemputmu?”

“Seharusnya oppa menunggu di depan saja. Lihat banyak yeoja sekolahku terus melihat oppa! Lagipula memangnya oppa tidak kuliah hari ini?” cibir Jinhae seraya membawa kakinya ke gerbang sekolah yang sudah bubar beberapa belas menit yang lalu.

“Kebetulan dosen hari ini absen. Kau mengapa melamun sendirian? Kai mana?” tanya Choi Minho kakak kandung Jinhae bertubi-tubi sambil menggandeng tangan adik kesayangannya itu.

“Sepertinya aku telat keluar jadi mungkin dia pulang terlebih dahulu.” tutur Jinhae masih dengan senyum di wajahnya itu.

“Aku masih bingung mengapa kau masih bertahan dengannya. Kau cantik Jinhae-ya kau bisa mendapatkan namja yang lebih perhatian, tidak seperti Kai.” kata Minho cukup khawatir, merasa adiknya tidak mendapat perhatian sedikitpun dari namja bernama Kai itu.

“Aku menyukainya oppa.” balas Jinhae, kali ini tanpa senyuman. Ia bahkan menundukkan kepalanya seakan membenarkan perkataan Minho.

“Oppa bisa membantumu mencari namja yang lebih peduli padamu. Dan kupikir lambat laun kau pasti bisa melupakannya.”

“Oppa, aku sudah besar, aku tahu apa yang baik untuk diriku sendiri.” tutur Jinhae pelan. Benar ia sudah cukup senang hanya menjadi pacar Kai, namja yang sudah bertahun-tahun ia sukai. Walaupun ia merasa Kai tidak terlalu perhatian padanya, selama Kai berada di sampingnya ia sudah merasa sangat senang.

“Sudahlah aku tidak mau bertengkar, kajja.” Minho terpaksa mengalah lagi dengan adiknya itu, jika ia tetap bersikeras Jinhae bisa saja kabur dan tidak mau berbicara sama sekali dengan Minho.

***

Bunyi dentuman keras mengisi kekosongan ruang studio, hanya terdengar suara decitan sepatu yang menghiasi lagu tersebut. Kai, namja yang mengisi ruangan itu sendiri sedang melakukan salah satu hobinya atau mungkin salah satu yang mengisi hidupnya. Menari. Bagi kebanyakan orang itu hanya sebuah gerakan asal tetapi indah dan selalu tertarik untuk di pandang tetapi tidak untuk dilakukan. Berbeda dengan Kai yang sudah menganggap menari adalah salah satu organisme yang bekerja dalam tubuhnya.

Jinhae, yeoja yang selalu membawa satu tas yang berisi peralatan menggambarnya. Ia sangat menyukainya, seperti sekarang ini. Ia berdiri di mulut pintu yang hanya terbuka sedikit celahnya dan ia mengintip kedalam. Melihat Kai yang sangat focus pada tariannya dan selalu menciptakan gerakan-gerakan baru tanpa ia sadari.

Jinhae segera mengeluarkan buku sketsanya dari tas serta pensil yang selalu ada disaku seragamnya. Ia mulai menggoreskan pensil itu di atas bukunya dengan cepat dan sesekali melirik kearah Kai, namja yang selalu ia kagumi.

Jinhae tersontak saat menyadari seseorang berada tepat di depannya. Kai melihat ke buku sketsa yang ada di tangan Jinhae sambil tersenyum cukup lebar.

“Apakah itu aku?” tanya Kai sambil menunjuk buku sketsa itu dan dirinya bergantian. Jinhae masih terkaget dengan kehadiran tiba-tiba sosok yang sedang ia gambar, sontak ia hanya bisa mengangguk pelan dengan ekspresi datar dan bingung.

“Boleh aku lihat gambar yang lain?” kini Kai menunjuk buku sketsa Jinhae masih dengan senyumnya yang terus menempel. Jinhae mengangguk lagi dan memberikan bukunya dengan pelan.

Kai membuka buku sketsa itu dari halaman pertama, ia melihat sebuah bangku panjang serta pohon besar di belakang kursi itu. Taman sekolah mereka. Pada halaman kedua hanya gambar wajah sesosok namja yang terlihat dari samping. Jinhae menggambarnya dengan detail, sehingga gambar itu yang modelnya sedang tersenyum terlihat indah dan nyata. Lagi-lagi Kai mengumbarkan senyumnya kali ini lebih lebar.

“Apakah ini aku?” tanya Kai pelan sambil membuka halaman berikutnya dan ia mendapati wajah yang Jinhae gambar sama dengan sebelumnya, dan itu terjadi pada halaman-halaman selanjutnya.
Jinhae menundukkan kepalanya dalam-dalam seakan ketahuan mencuri, iapun mengangguk samar. Kedua tangan Jinhae memainkan pensil yang sedaritadi ia pegang.

“Kau sering melihatku menari ya?” Jinhae kembali mengangguk tanpa melihat wajah Kai.

“Apa kau hanya bisa mengangguk?” Jinhae terdiam sejenak dan tidak mengadahkan wajahnya. Dan…

“Kai-ssi, saranghae. Maukah kau menjadi pacarku?” sontak senyuman di wajah Kai menghilang, detik demi detik terlalui dan masih belum ada jawaban apapun. Jinhae yang merasa bodoh melirik sekilas kearah Kai dan dengan tangan kirinya ia memukul kepalanya berkali-kali.

“Maafkan aku tapi aku serius. Namaku Choi Jinhae murid 10-3. Aku sudah mengaggumi sejak lama, maksudku sejak aku melihatmu sedang menari saat bel istirahat.” tutur Jinhae dengan gelagapan.

“Maaf tapi aku baru mengenalmu. Kita menjadi teman dulu otte?” sahut Kai lembut sambil mengembalikan buku sketsa Jinhae seraya tersenyum ramah. Jinhae tersenyum lebar lalu menganggukkan kepalanya dengan semangat.

“Kim Jongin, mereka lebih sering memanggilku Kai. Murid 10-1. Senang berkenalan denganmu Jinhae-ssi.” Kai mengulurkan tangannya masih dengan senyum ramahnya, Jinahe menyambut tangan Kai dengan perasaan lega dan senang tentunya.

“Jinhae, Choi Jinhae. Penggemarmu.”

***

Jinhae merasakan ujung matanya mulai mengeluarkan air, ia menghapus airmatanya dengan kasar dan ia mengulas senyumnya. Ia menegakkan tubuhnya dari kasurnya setelah kembali menjelajah waktu dengan mimpinya yang berupa kenyataan itu. Ia masih ingat setelah kejadian itu, ia sering menyapa Kai dan pergi dengan Kai. Jinhae ingat dengan kejadian itu, ia bahkan sering menanyakan perasaan Kai padanya apakah sudah berubah atau tidak. Juga pernyataan cinta Jinhae yang selalu berakhir dengan kata maaf dari bibir Kai.

“Yeobosseyo?”

“Kai! Apa hari ini kau ingin pergi ke suatu tempat?” tanya Jinhae dengan wajah berseri.

“Maaf hari ini aku ada acara dengan keluargaku.” Jinhae terdiam sejenak dan warna wajahnya berubah

“Baiklah mungkin lain kali.”

“Hmmm.”

“Annyeong.” sambungan telfon terputus. Jinhae menghembuskan nafasnya perlahan.

“Krystal-ya, hari ini kita jalan-jalan otte?”

~ ~ ~

Jinhae serta Krystal memasuki salah satu pusat perbelanjaan yang cukup ramai. Hari minggu, hari yang di tunggu orang-orang dalam seminggu untuk menghabiskan waktunya dengan bersenang tanpa memikirkan apapun yang membuat stress. Setelah mengelilingi beberapa toko dan membeli beberapa barang, Jinhae dan Krystal memutuskan untuk mengistirahatkan kaki mereka dan memesan minuman di sebuha café.

Jinhae meniup bebeapa kali Americanonya sebelum menyesapnya pelan, sesekali ia berbincang dengan Krystal salah satu teman baiknya di sekolah yang kebetulan sekelas dengannya. Jinhae mengedarkan pandangannya ke sekitar café yang ramai pada jam itu. Matanya menyipit saat menemukan sosok yang ia kenal di luar café.

“Oh, bukankah itu Soojin? Anak 11-2 dulu ia sekilas dengan kita kau ingat?”

“Ne! Apa kita perlu memanggilnya?” tanya Krystal balik saat menemukan sosok yang dibicarakan Jinhae.

Baru saja Jinhae akan menyetujui perkataan Krystal, tetapi ia mengurungkan niatnya saat melihat seseorang yang berlari menghampiri Soojin. Sontak Jinhae berdiri dari kursinya membuat gelasnya terjatuh begitu saja.

Beberapa orang di café melihat Jinhae dengan tatapan bingung, bahkan beberapa orang yang berada di luar café yang mendengar suara itu melihat sekilas ke dalam café. Beberapa pecahan gelas mengenai kaki Jinhae, Krystal memekik pelan saat melihat pecahan gelas menggores kaki Jinahe dan mengeluarkan darah.

Jinhae tidak merasakan sakit itu sedikitpun, kata-kata Kai saat di telfon yang mengatakan ia sedang memiliki acara dengan keluarganya terus terngiang di kepalanya. Jinhae terus melihat kedua orang di luar café yang mulai menjauh. Krystal memekik keras saat melihat Jinhae tiba-tiba terduduk di kursi kembali.

”Jinhae-ya.” gumam Krystal pelan seakan suara sedikitpun bisa menyakiti Jinhae.

“Krystal-ya… aku mau pulang sendiri.”

“Tapi—“

“Gwaenchana aku bisa sendiri, annyeong.” ucap Jinahe pelan, Jinhae membawa barang belanjaannya serta tasnya meninggalkan café itu dengan langkah di seret.

Jinhae berjalan dengan tatapan kosong, ia tidak memedulikan tatapan orang yang melihatnya dengan heran. Jinhae hanya menginginkan pulang samapai di rumahnya secepat

BRUK

“Ahh… jwesonghamnida. Jwengsonghamnida. Gwaenchana?” tutur seseorang tidak sengaja menabrak jinhae sehingga Jinhae terjatuh. Orang itu membantu Jinhae mengambil barangnya yang terjatuh.

“Jinhae?” Jinhae mendongak melihat orang yang menabraknya sekaligus menolongnya. Tiba-tiba airmata yang dibendungnya daritadi terjatuh bebas begitu saja.

“Sehun-ah.” gumam Jinhae pelan.

“Ya, neo waeyo? Ya, kenapa kakimu berdarah?” Sehun membantu Jinhae duduk di salah satu kursi yang ada di pusat pembelanjaan tersebut.

“Kau tunggu di sini, aku beli antiseptik untuk kakimu dulu.” Jinhae hanya menurut dan menghapus airmatanya dengan punggung tangannya, tetapi airmatanya tetap mengalir. Sehun sudah bersimpupuh didepannya dengan sekantong plastik. Ia mengeluarkan isinya dan mulai mengobati kaki Jinhae dengan pelan. Sesekali ia bisa mendengar Jinhae meringis pelan.

“Gomawo Sehun-ah.” gumam Jinhae. Sehun pindah duduk di sebelah Jinhae dan melihat ekspresi Jinhae yang berbeda dari biasanya. Tidak ada raut ceria yang sering dilihatnya.

“Kenapa kau bisa terkena pecahan gelas seperti itu? Kau mau berbagi denganku?” Jinhae menunduk tidak mau melihat wajah Sehun, ia takut jika benteng yang sudah dibuat sedemikian rupa jatuh kembali.

Tetapi apa yang dipikirnya justru berkebalikkan dengan kenyataan, airmatanya justru terjun begitu saja dari matanya. Sehun yang tersontak pelan berinisiatif merengkuh tubuh mungil Jinhae ke dalam dekapannya.

Jinhae semakin menangis kencang, ia menyembunyikan wajahnya didalam dekapan Sehun. Ia benar-benar butuh seseorang sekarang dan kehadiran orang itu bukan seseorang yang ia cintai atau ia sayangi melainkan seorang teman yang jarang ia ajak bicara.

***

Bunyi dentuman keras terdengar seperti biasa di ruang studio saat istirahat berlangsung. Kali ini tidak ada bunyi decitan sepatu yang bergesekkan dengan lantai. Kai, kali ini ia tidak menari seperti biasa yang ia lakukan. Awalnya ia menari hanya saat 5 menit pertama setelah musik ia putar, tetapi setelah itu ia memilih untuk tiduran di lantai dengan terlentang melihat atap ruang studio itu.
Sesekali ia melihat kearah pintu mengecek kehadiran orang yang selalu menemaninya saat ia menari. Tetapi hasilnya nihil. Perlahan ia beranjak ke tape dan mematikan benda tersebut, ia mengambil botol minum yang dibawanya dan menarik kakinya untuk keluar dari ruangan tersebut. Ia melangkahkan kakinya ke kelas 11-6 yang terletak di ujung koridor lantai dua sekolah tersebut. Berbeda dengan kelasnya yang menghadap ke lapangan sekolah.

Ia bisa melihat beberapa murid yeoja yang berada di kelas tersebut mulai memekik pelan saat melihatnya di depan kelas mereka. Ia tersenyum sekilas pada mereka dan itu sudah membuat mereka berteriak tidak karuan. Kai berjalan ke salah satu kursi ketiga dari depan yang berada di dekat pintu kelas. Ia mengamati seorang yeoja yang sedang menelungkupkan kepalanya pada kedua tangannya. Kai menghela nafasnya pelan dan melipat kedua tangannya di depan dadanya.

“Kenapa tidak ke studio?” tanya Kai to the point. Jinhae tidak bergerak sedikitpun dari posisinya dan memilih untuk diam, ia tahu benar pemilik suara itu.

“Kupikir kau tidak masuk ke sekolah makanya kau tidak ke studio.” ucap Kai pelan, kali ini Jinhae mengangkat kepalanya. Kai cukup kaget saat melihat wajah Jinhae yang dibilang cukup berantakan, tidak seperti Jinhae yang selama ini ceria dan rapi.

Setelah pulang dari pusat perbelanjaan kemarin dan ditemani Sehun. Jinhae terus mengurung diri di kamar, Minho terus berusaha menyuruh jinahe setidaknya untuk memakan malamnya tapi Jinhae terus menolak hingga membuat Minho menyerah.

“Kau sakit?” Kai menggerakan tangan kanannya hendak menyentuh kening Jinhae dan mengecek suhu badan Jinhae, tetapi dengan cepat Jinhae menjauhkan wajahnya dari tangan Kai.

“Ada yang harus kubicarakan, setelah pulang sekolah aku menunggumu di taman sekolah.
Kumohon kali ini datanglah.” gumam Jinhae pelan dengan suaranya yang serak tapi masih bisa di dengar oleh Kai.

“Baiklah, kau sudah makan?”

“Tidak, aku tidak lapar. Aku lelah.”

“Kalau begitu kita ke uks saja.”

“Tidak terimakasih. Pergilah.” tolak Jinhae lembut dan ia kembali menelungkupkan wajahnya kembali berharap dengan begitu ia tidak perlu melihat wajah Kai lebih lama lagi. Kai terdiam sejenak dan akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke kelasnya.

~ ~ ~

Jinhae duduk di tempat kesukaannya, ia kembali merasakan angin yang menyapu wajahnya dengan lembut. Kali ini Jinhae tidak tersenyum seperti biasanya, terlalu banyak yang ada di pikirannya. Ia memikirkan sesuatu dan mengambil keputusan yang terbaik untuknya, ia harus menunjukkan pada kakaknya bahwa ia benar-benar tahu apa yang terbaik untuknya. Jinhae membuka matanya perlahan saat merasakan kehadiran seseorang yang duduk di sebelahnya sekarang.

“Sudah berapa lama kau tidak duduk disini Kai?” Jinhae kembali menutup matanya kali ini dengan senyuman tulus di wajahnya. Ia masih terlihat cantik walaupun garis lelahnya terlihat jelas.

“Entahlah, sudah cukup lama. Mungkin sejak kita berpacaran.” sahut Kai datar. “Apa yang ingin kau bicarakan?”

“Apa kau bahagia setelah berpacaran denganku?” Jinhae tidak menjawab pertanyaan Kai, ia malah berbalik bertanya.

“Apa yang kau—“

“Apa aku egois?” Kai terdiam.

“Apa aku terlalu memaksamu saat aku menyatakan perasaanku?”

“Apa kau terpaksa menerima perasaanku karena rasa kasihan?” airmata Jinhae turun kembali, ia membuka kedua matanya dan melihat Kai sambil tersenyum lalu ia berdiri di depan namja itu.

“Kau bebas Kai, maafkan aku yang terlalu egois sehingga tidak memikirkan perasaanmu, padahal kau menyukai Soojin benarkan?” Kai semakin terdiam, ia menatap Jinahe dengan rasa bersalah.

“Maafkan aku Jinhae.” Jinhae berusaha menahan tangisannya agar tidak semakin keras.

“Gwaenchana, aku pergi dulu. Aku benar-benar berharap kau akan tersenyum lagi Kai, seperti dulu sebelum kita berpacaran. Terimakasih untuk semuanya, gomawoyo.” Jinhae sedikti membungkukkan badannya dan melangkah menjauhi Kai yang masih terduduk di kursi taman itu.

Kai menatap punggung itu dengan perasaan bersalah, jika bisa ia benar-benar ingin mengulang hari jika satu hari sajapun tidak apa-apa,ia ingin agar ia bisa membahagiakan yeoja itu. Agar ia kembali tersenyum sebelum semua ini terjadi. Jinhae yang mulai berjalan jauh mulai sulit menahan tangisnya, ia membiarkan airmatanya mengalir deras.

“JINHAE!” Kai segera berlari menghampiri Jinhae saat tiba-tiba Jinhae kehilangan keseimbangannya.

***

Kai duduk di salah satu kursi, ia menarik kursi itu agar ia bisa lebih dekat dengan Jinhae yang sekarang terbaring di kasurnya. Awalnya Kai ingin membawa Jinhae pulang ke rumahnya, tetapi ia baru menyadari selama ini ia tidak pernah pulang bersama Jinhae, ia benar-benar tidak tahu dimana rumah Jinhae. Hingga akhirnya ia membawa Jinhae ke rumahnya sendiri. Ia mengambil kain yang sudah direndam air panas dan mengelap pelan wajah Jinhae yang terlihat lelah dengan pelan.

“Eungg..” Jinhae mengerjapkan matanya beberapa kali menyesuaikan matanya dengan sinar lampu di ruangan tersebut.

“Kai?”

“Kau di kamarku, tiba-tiba kau pingsan jadi aku membawamu kerumahku.” jelas Kai sambil membantu Jinhae bersandar di kasur. Kai menyodorkan segelas air yang pada Jinhae.

“Mian, aku jadi menyusahkanmu.” gumam Jinhae sambil menaruh gelas itu di meja.

“Seharusnya aku yang meminta maaf Jinhae.” Jinhae mengerutkan alisnya, tidak mengerti dengan apa yang di katakana Kai.

“Maafkan aku. Selama ini aku tidak pernah memerhatikanmu layaknya yeojachinguku, aku sadar aku mulai jarang tersenyum padamu. Maafkan aku.”

“Itu sudah bukan masalah Kai—“

“Tentang Soojin, sebenarnya dia—“

“Kumohon Kai jangan ungkit itu lagi!”

“Soojin adalah sepupuku Jinhae.” Jinhae tertegun mendengar perkataan Kai, ia mengerjapkan matanya beberapa kali tidak percaya. Kai mengatakan yang sebenarnya, saat itu keluargnya menyuruh mereka membeli keperluan untuk makan malam bersama.

“Maafkan aku yang selama ini tidak memperlakukanmu dengan baik. “

“Sudah cukup Kai, aku sudah rela melepasmu kumohon jangan membuatku semakin tertekan!” pekik Jinhae sambil menutup kedua telinganya.

“Aku juga tertekan Jinhae! Aku.. aku tidak pernah berpacaran sebelumnya, aku tidak tahu bagaikan harus bersikap saat di depan yeoja yang kusukai. Aku benar-benar bingung! Kumohon jangan bersikap seperti ini Jinhae.” Kai meraih kedua tangan Jinhae dengan pelan, ia menghapus sungai kecil yang mengalir di wajah Jinhae. Kai memajukan tubuhnya, ia meraih bibir Jinhae dan mengecupnya pelan.

“Saranghae.” Kai tidak melepas ikatan bibir mereka, ia melumat bibir Jinhae pelan. Untuk kesekian kalinya Jinhae menangis kembali dan kali ini ia menangis karena bahagia berbeda dengan sebelumnya.

“Kau merubah pemikiranmu bukan?” tanya Kai setelah ia melepas ciumannya. Jinhae terdiam sesaat.

“Kalau begitu biar aku yang kali ini menanyakannya. Jinhae-ssi, maukah kau menjadi yeojachinguku?” Kai merengkuh kedua tangan Jinhae dengan tangannya. “Jika kau menolak aku akan tetap memaksamu nyonya.”

Jinhae tertawa pelan dan menganggukkan kepalanya. Kai tersenyum puas lalu merengkuh Jinhae kedalam pelukannya.

~ ~ ~

Kadang ada sisi dimana diri kita akan sulit mengungkapkan sesuatu yang kita inginkan. Sedangkan orang disekitar kita yang tidak tahu apa yang kita pikirkan sering menganggap salah dengan pemikirannya sendiri. Karena ketakutan kita sendiri orang lain bisa mengsalah artikan maksud kita. Berusahalah untuk mengatakannya dengan cara apapun entah memlalui sikapatau perbuatan kita. Jika orang di sekitarmu masih tidak mengeri maka suatu saat mereka pasti akan mengerti.

END

Aaaakkkkkkhhhhhh aaaaaaa buahahahhaha ini ff apaan endingnya aneh ya? Aneh ya? Maafkan sayaa kkkk~ ide ceritanya ini sumpah tiba-tiba banget pas bangun tidur tiba-tiba ngongol ff sebelunya ampe terabaikan maafkan saya yeorobun *peluk satu”*
Untuk couple ini…. Akan ada versi lainnya maksudku aku menjadi couple ini salah satu couple tetap di hatiku ehh maksudnya wpku hehehe karenaa….. my biases is Kai!! Yuhuuuu… *hening* segitu aja dehh maaf kalo ff ini tidak sesuai dengan harapan kalian.
Aku akan focus ke ff chapter aku mohon saran kritik serta jempolnyaa makasi yeorobun ^^ annyeong~