Tags

, , , , ,

Ring, Marriage, Artist: Taemin Time’s [Chapter 7]

Title : Ring, Marriage, Artist

Author : taemfairy

Main Cast : Kim Seona, Lee Taemin

Support Cast : Kim Jongin aka Kai

Length : Sequel

Genre : Romance, Marriage Life, Family

Rating : PG-15

Disclaimer : this plot is belong to mine~ ^^ while the cast belong to them self ^^

Previous Chapter : Unpredictable [Chapter 1] | New Life [Chapter 2] | Not Fair [Chapter 3] | What!? [Chapter 4] | Who [Chapter 5] | The Truth Is [Chapter 6]

“Kai? Seo? Ada apa dengan Seona?” tepat pada saat bel berbunyi, Taemin keluar dari apartemennya dan cukup kaget melihat Seona berada di gendongan Kai.

“Hyung, bsia bantu aku antarkan Seona kekamarnya terlebih dahulu?” pinta Kai. Taemin segera menyingkir dari pintu dan menunjukkan kamar mereka. Kai segera membaringkan Seona dan membantu Seona melepaskan sepatunya.

“Ada apa dengannya?” tanya Taemin masih heran dengan kejadiaan barusan.

“Seona kelelahan dan saat kami latihan ia jatuh pingsan, ia sudah bangun tapi saat perjalanan kesini ia tertidur dan aku tidak tega membangunkannya.” jawab Kai seraya menatap Seona yang kini menggeliat pelan di atas kasurnya yang nyaman.

Taemin mengangguk sekilas lalu mengalihkan tatapannya ke Kai yang kini terus menatap Seona. “Kau mau teh?” tawar Taemin seraya berjalan keluar dari kamarnya.

“Sepertinya tidak usah hyung, aku sudah mau pulang. Mungkin mereka sudah menungguku di bawah.” Kai tersadar dari lamunan singkatnya lalu mengikuti Taemin dan berjalan ke pintu apartemen tersebut.

“Oh, baiklah hati-hati di jalan.”

“Ne, gomawo hyung.”

“Aniyo, harusnya aku yang berterimakasih padamu karena sudah menggendong Seona ke sini.” aku Taemin seraya tersenyum tulus dan kekehan pelan.

“Gwaenchana, baiklah hyung. Annyeong.” sahut Kai seraya melabai kearah Taemin dan berjalan ke lift. Taemni membalas lambaian Kai dan terus menatap punggung itu sampai hilang di ujung koridor. Taemin segera masuk ke apartemennya saat tidak melihat sosok Kai lagi.

Taemin berjalan ke dapur dan meraih kotak obat dan segera kembali ke kamarnya. Ia menaruh kotak obat tersebut di nakas meja dan merebahkan dirinya ke kasurnya yang nyaman. Sebelumnya ia menyelimuti Seona dengan selimut tebal mereka. Taemin mengecek suhu badan Seona, setelah memastikan jika Seona tidak demam ia segera memposisikan tempatnya tepat di sebelah Seona. Ia meraih tangan kiri Seona dan menggenggamnya erat, setelah itu ia merapikan beberapa juntaian rambut Seona dan mengecup lembut kening Seona. Dan Taeminpun berusaha untuk menutup matanya.

***

Seorang yeoja mengerjapkan matanya beberapa kali berusaha menyesuaikan penglihatannya dengan chaya yang mengusik penglihatannya. Saat membuka matanya dengan sempurna ia merasakan kepalanya sangat sakit. Ia kembali menutup matanya dengan tangan kanannya, tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang nyaman di tangan kirinya. Yeoja itu berusaha mengangkat tangan kirinya dengan perlahan. Ia sedikti tersontak saat menyadari tangan Taemin menggenggamnya dan tepat pada saat itu ia langsung melihat ke kiri.

Wajah yeoja itu langsung berubah merah padam, wajah Taemin begitu dekat dengan wajahnya sekarang. Bahkan Seona bisa merasakan hembusan nafas Taemin yang hangat dan teratur di wajahnya. Seona terus meneliti wajah serta garis rahang Taemin. Kini Taemin mengerjapkan matanya beberapa kali dan sedikit merenggangkan tubuhnya tetapi tidak berubah arah sedikitpun. Taemin sendiri cukup terkejut saat menyadari wajah Seona yang hanya terpaut beberapa senti dari wajahnya. Taemin bisa merasakan dentuman jantungnya yang sudah berpacu cepat saat ia bangun. Dengan kesulitan Taemin menelan ludah yang menyangkut di tenggorokannya, wajah Seona yang masih merah di sertai dengan matanya yang terus menatap mata Taemin membuat Taemin sulit mengalihkan perhatiannya.

Dengan perlahan Taemin semakin memperkecil jarak wajahnya dengan Seona, sesekali Taemin mengalihkan pandangannya dari mata Seona ke bibir Seona yang sedikit pucat. Entah apa yang dilakukan Seona, ia mulai menutup kedua matanya secara perlahan seolah ketakutan melihat wajah Taemin yang begitu dekat. Seona tersontak pelan saat merasakan bibir yang hangat mulai menyentuh tempat di atas bibirnya sendiri. Tangan kiri Taemin beralih ke tengkuk Seona secara perlahan dan kedua mata Taeminpun mulai terpejam. Seona menahan nafasnya saat merasakan bibir Taemin mulai melumat pelan bibirnya. Dentuman keras jantung Seona membuatnya reflek mencengkram lengan Taemin dengan cukup keras.

Sesekali Seona mendesah pelan saat merasakan lidah Taemin dengan lincah bermain di dalam mulutnya. Seona hanya diam dan tidak membalas apa yang Taemin lakukan, ia hanya mencengkram lengan Taemin dengan kuat berusaha agar desahan yang keluar dari mulutnya tidak mengeras. Taemin sendiripun merasakan dentuman jantungnya yang seakan-akan mau keluar dari organ tubuhnya. Taemin melepas ciumannya saat menyadari ia sudah kesulitan bernafas. Ia menatap lekat mata Seona yang terbuka perlahan. Taemin terkekeh pelan dan mengucap sekilas bibir Seona dengan cepat Taemin kemudian merengkuh Seona kedalam pelukannya.

“Kau benar-benar membuatku khawatir kemarin. Apa yang kau lakukan dengan Kai?” tanya Taemin pelan masih enggan melepas Seona, ia bahkan mempererat pelukannya.

“Aku… aku tidak melakukan apapun hanya latihan dan bertemu saat mengisi acara.” jawab Seona sedikit terbata.

“Benarkah? Lalu mengapa saat sampai di sini kau berada di pelukan Kai?” Seona mengerutkan keningnya, seingatnya hanyalah saat ia berada di van dan memejamkan matanya.

“A..aniyo. Sepertinya aku ketiduran di dalam van saat pulang kesini dengan Kai. Ahh, apa jangan-jangan aku tertidur?” tanya Seona lebih ke dirinya sendiri dan itu Taemin tertawa pelan.

“Aku sudah tahu Seo, dari Kai. Lain kali kau harus memperhatikan kondisimu sendiri. Jangan membuatku cemas. Saat aku membuka pintu dan melihat Kai menggedongmu aku sedikit panik dan untungnya Kai menjelaskan padaku.”

“Mian.” Ucap Seona merasa bersalah.

“Sudahlah, cepat mandi setelah itu aku akan membantumu membuat sarapan, kau harus makan yang banyak hari ini. Dimana handphonemu aku akan meminta Hana noona untuk memberimu libut hari ini.”

“Arasseo, ada di tasku sepertinya. Gomawo oppa.” ujar Seona lembut. Taemin mengacak rambut Seona lalu melepas pelukannya membiarkan Seona segera membersihkan dirinya.

***

“Kau sedang apa?” tanya Taemin begitu melihat sosok Seona dengan pakaian rumah serta celemek melekat di tubuhnya di dapur.

“Tentu saja memasak.” ucap Seona tanpa berbalik melihat Taemin yang kini berjalan kearahnya.
“Apa yang harus kubantu?” Seona tersentak pelan saat menyadari sepasang tangan Taemin melingkar di perutnya. Ia bahkan bisa merasakan hembusan nafas Taemin di sekitar tengkuknya dan hal itu sukses membuat debaran jantungnya berdebar cepat kembali.

“A.. aniyo.” Jawab Seona sedikit terbata dan kembali berusaha memfokuskan pikirannya pada daging yang sedang di potongnya menjadi lembaran tipis.

“Benarkah? Padahal aku ingin sekali membantumu.” ujar Taemin semakin mempererat lingkaran tangannya pada Seona. Ia bahkan menopangkan dagunya di pundak Seona membuatnya bisa mencium wangi shampoo yang di pakai Seona.

“Emm.. Bagaimana jika oppa duduk saja? Kurasa itu lebih baik.” tukas Seona sambil terus memotong daging di depannya dan bermaksud mengusir Taemin. Mungkin agar namja itu tidak dapat mendengar detak jantung Seona yang berdebar dengan cepat.

“Ne~ arasseo.” Taemin segera duduk di tempat biasanya ia duduki saat makan, kemudian ia kembali memerhatikan Seona yang kini beralih memotong sayuran.

“Sebenarnya apa yang ingin kau masak?” tanya Taemin mulai penasaran.

“Galbi bibimbap, waeyo? Apa oppa sudah benar-benar lapar?” tanya Seona balik sekilas melihat kearah Taemin seraya terkekeh pelan.

“Tentu saja, kau pasti juga sudah lapar bukan? Lebih baik jika aku membantumu memasak nasi mungkin?”

“Ah, benar juga aku belum memasak nasi.” tukas Seona ia segera beralih hendak mengambil beras.”

“Biar aku saja yang memasak nasinya, jika kau tidak membiarkanku membantumu sedikitpun kita tidak akan makan Seo.” ujar Taemin seraya mengambil beberapa mangkuk beras dan mencucinya. Seona hanya melihat Taemin yang sedang mencuci beras kemudian kembali melanjutkan potongan sayurnya.

“Apa lagi yang perlu kubantu?” tanya Taemin kembali saat sudah mencolok ricecooker. Seona melihat sekilas kearah Taemin seraya tersenyum pelan.

“Mungkin oppa mau membantuku mengawasi sayur ini.” Seona menunjuk sayur yang sedang di rebus di hadapannya. Taemin tersenyum dan mengangguk sekilas. Setidaknya iabisa membantu walaupun sedikit bukan?

“Baiklah kalau begitu aku akan memanggang daging ini dulu.” ucap Seona lebih ke dirinya sendiri, Taemin hanya terkekeh pelan sambil mengaduk sayur di depannya dengan perlahan.

Seona bersenandung pelan saat ia memasukkan beberapa bumbu pada wajan yang sudah hangat. Ia masih ingat cara memasak saat Victoria mengajarinya beberapa resep yang salah satunya adalah galbi bibimbap.

“Neoui sesangeuro, benarkan?” tebak Taemin memecahkan keheningan yang sempat mereka buat. Seona melihat kearah Taemin kemudian menganggukkan kepalanya dengan semangat.
“Itu lagu yang bagus bukan? Aku suka mendengar lagu itu.”

“Benarkah? Sepertinya kau harus mendengar lagu shine, mereka group yang hebat dan lagu mereka sangat bagus menurutku.” tutur Taemin kemudian mulai menyanyikan salah satu lagunya, membuat Seona tertawa keras karena candaan Taemin.

“Honesty. Aku juga suka lagu itu.” sela Seona di tengah tawanya, Taemin ikut tertawa pelan dan kembali menyanyikan lagu itu.

“Atau mungkin hello, hello narumdaero yongkirul naesseoyo.”

“Geumanhae, aku tidak suka lagu itu.” aku Seona membuat Taemin mengeratkan keningnya. Bukankah lagu itu banyak di sukai oleh yeoja, karena makna lagu itu?

“Waeyo?” portes Taemin sedikit tidak terima.

“Kau pernah menyanyikan lagu itu dengan IU eonni dan itu membuatku sangat iri padanya! Apalagi kau menyanyikan lagu Juliette padanya!” seru Seona kesal. Ia bahkan membalikkan daging dengan kasar. Taemin terdiam sejenak kemudian tertawa dengan keras.

“Ya! Wae!” pekik Seona semakin kesal.

“Kau ingin aku menyanyikan lagu itu juga padamu?” tawar Taemin seraya mematikan api di rebusan sayurnya. Seona mengerjapkan matanya dengan cepat seraya melihat kearah Taemin yang mulai mendekatinya.

“jebal gihoereul jwoyo nal boneun nun machi neol ango sipeoseo, andal nan naege jangnanchineun yeougata.” Taemin menyanyikan sepenggal dari lagu seraya menautkan tangan kanannya dengan tangan kanan Seona. Kemudian ia memutar Seona agar menghadap kearahnya dan mengajak Seona menyanyikan bagian selanjutnya.

“Hello, hello narumdaero yongkirul naesseoyo.” Taemin mulai menyanyikan satu bagian dari lagunya.

“Ya! Kau harus membantuku melanjutkan lagu ini.” tuntut Taemin saat melihat seona yang tengah menatapnya tidak melakukan apapun.

“Kenapa aku harus melakukannya? Kan oppa tahu kelanjutan dari lagu itu.” jawab Seona

“Oh ayolah, jangan merusak suasana Seo.” Seona berdecak pelan lalu melanjutkan

“Hello, hello jamsi yaeginhallaeyo
Hello, hello naega jom seotuljin mollado
Who knows eojjeom urin, jal dwiljido molla”

Taemin tersenyum setelah mereka menyanyikan bagian dari lagu secara bergantian. Seona ikut tersenyum dan segera menunduk kembali saat ia merasakan degup jantungnya kembali berdegup kencang. Taemin mengangkat dagu Seona dengan telunjuknya kemudian ia merengkuh pipi Seona dengan tangan kanannya dan menyapu permukaan bibir Seona dengan pelan.

Taemin membiarkan degup jantungnya yang terus berdetak dengan keras, ia akui ia sangat menyukai saat dimana jantungnya dapat berfungsi secara baik seperti sekarang. Taemin melepaskan kaitannya dengan bibir Seona, dengan cepat ia mematikan api yang berada di belakang Seona.

“Otte? Seharusnya kau mulai menyukai lagu itu sekarang, karena aku menyanyikannya hanya untukmu secara khusus.” sindir Taemin seraya mengangkat daging-daging itu di atas

“A… aku akan periksa nasinya dulu. Oppa mau nasi seberapa banyak?” ucap seona berusaha mengalihkan pembicaraan dan itu sontak membuat Taemin tertawa terbahak.

“Seperti biasa saja.” Ucap Taemin pada akhirnya sambil terkekeh pelan. Seona hanya mengangguk sekilas dan mulai melanjutkan acara memasaknya.

Kali ini Taemin lebih memilih untuk diam dan memainkan handphonenya di meja makan. Sekilas ia melirik kearah Seona yang sedang serius dengan masakannya. Taemin mengarahkan hanphonenya kearah Seona.

Cklik.

Seona langsung menoleh kearah Taemin yang kini tersenyum puas dengan hasil fotonya.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Seona sekilas sambil terus melanjutkan masakannya.

“Hanya iseng memfoto diri sendiri.” dusta Taemin berusaha poker face kemudian melihat ke fotonya kembali. Setidaknya sekarang ia mempunyai foto Seona sedang memasak pertama

Drrt. Drrt.

Taemin segera mengecek pesan yang baru di kirim dan seketika keinginannya untuk bersantai sehari saja hilang begitu saja. Ia menghela nafas dengan berat lalu meletakkan handphonenya begitu saja. Tepat pada saat itu Seona menaruh makanan di depan Taemin.

“Waeyo?”

“Tidak, hanya saja Key hyung menyuruhku ke dorm setelah ini. Padahal awalnya aku ingin bersantai di rumah dengannmu.” protes Taemin sambil menyuapkan makanannya ke mulut dengan gusar.

“Tidak apa-apa, aku bisa di rumah sendiri. Lagipula kondisiku sudah lebih baik.” ucap Seona sambil ikut memakan makanannya.

“Tidak, aku puny aide lebih baik. Bagaimana jika kau ikut aku pergi ke dorm?” usul Taemin sambil terus memakan makanannya.

“Mwo?”

“Oh, ayolah Seo. Kau harus berkunjung ke dorm kami sesekali.” Seona tampak berpikir sejenak, sebelum akhirnay ia menganggukkan kepalanya.

“Ngomong-ngomong, masakanmu enak sekali!” puji Taemin sambil tersenyum puas.

***

Taemin dan Seona berjalan beriringan ke dorm dengan langkah santai. Taemin menutup wajahnya dengan hoodie serta masker. Sedangkan Seona ia mengikat rambutnya dan menggunakan hoodie putih dan kacamata hitamnya serta masker. Walaupun masih di sekitar apartemen mereka tetap harus berwaspada bukan? Apalagi Taemin tidak membiarkan tanga Seona terlepas sedikitpun.

Ting tong.

“Nuguseyo?” teriak pemilik rumah dengan suara khasnya dan membuka pintu setelah mengintip melalui intercom terlebih dahulu. Taemin dan Seona segera masuk dan menutup pintu dengan cepat.

“Ya! Lee Taemin, kau kan tahu password dormmu sendiri. Kenapa kau malah memencet bel, huh?” runtuk Key kesal.

“Oh iya aku lupa.” kekeh Taemin seraya melepas maskernya.

“Annyeong Key oppa.” panggil Seona setelah melepas kacamata serta maskernya.

“Ne, annyeong. Ini pertama kalinya kau kesini bukan?”

“Ne.”

“Kalau begitu, Taemin-ah ajak Seona lihat dorm kita.” tukas Key.

“Aniyo, gwenchana oppa.”

“Kalau begitu kau hanya perlu melihat kamar Taemin, kajja.” sahut Key seakan ingin menunjukkan seberapa kotornya kamar Taemin dan segera menarik Seona dengan paksa.

“Ah, hyung! Andwaeyo!” teriak Taemin tidak mau kalah seraya menarik baju Key.

“Wae? Kamarmu itu sudah aku bersihkan! Jika kotorpun itu karena Jonghyun hyung!”

“Bukan itu! Tapi mana member lain? Jika ada di kamar, pasti Jonghyun hyung sedang topless!” ujar Taemin seraya menarik Seona berdiri di sampingnya kembali.

“Ah, kau benar juga. Ya sudah kalian duduk di sofa saja.”

“Hyung!”

“Mwo?” teriak Key mulai kesal karena Taemin terus meneriakinya.

“Kau menyuruhku kesini untuk apa?”

“Oh iya aku lupa. Hari ini kau ada schedule latihan bersama Krystal sebentar lagi, sebaiknya kau bersiap-siap.”

“Aish, arasseo.” ucap Taemin lesu, seraya bangkit dari kursinya dan mengambil beberapa baju yang di butuhkan.

Seona hanya melihat kearah Taemin yang beranjak pergi lalu melihat ke sekitar dorm. Ia menemukan banyak piala penghargaan sejak mereka debut sampai sekarang. Di dinding dekat piala-piala itu di pajang ada beberapa lembar foto polaroid yang di pajang dengan rapih. Ada saat mereka berada di depan menara eiffel, foto saat mereka sedang makan, bahkan saat photshoot. Seona juga menemukan satu rak di dekat tv tempat mereka menaruh beberapa buku, majalah serta komik. Walaupun namja tetapi dorm mereka cukup rapih tidak seperti bayangan Seona.

“Hyung! Pakai bajumu dulu sebelum keluar! Di luar ada Seona!” teriak Taemin kesekian kalinya dari dalam kamar.

“Arasseo!” teriak Jonghyun tidak mau kalah dean tepat pada saat itu pintu kamar sumber teriakan itupun terbuka.

“Huaa, Seona-ya!” pekik Jonghyun seraya berjalan cepat menghampiri Seona dan merentangkan tangannya lebar-lebar seakan-akan ingin memeluk Seona. Dengan cepat Taemin keluar dari kamar dan berdiri di depan Seona.

“Ya! Taemin-ah pikkyeo! Aku ingin memeluk dongsaeng tersayangku!” Jonghyun seraya mendorong-dorong Taemin yang berdiri di depan Seona membuat Seona tertawa.

“Shireoyo! Hyung! Seona milikku!” balas Taemin sengit dan ikut mendorong Jonghyun.

“Seona-ya, kajja kita ke kantor.” ujar Taemin setelah mengawasi Jonghyun yang pergi mengambil minumannya.

“Ne? Kenapa aku harus ikut?” protes Seona mulai merasa nyaman di dorm.

“Kau harus menemaniku.” rengek Taemin. Seona terkekeh pelan dan beranjak berdiri menuruti Taemin yang minta di temani. Entah sudah berapa kali hari ini Taemin tersenyum puas seraya menggenggam tangan Seona erat.

“Hyung aku pergi dulu.”

“Ne? Kenapa cepat sekali? Kau bahkan belum meminum susu pisangmu ini.” ujar Key seraya mengangkat tinggi-tinggi sebotol susu kesukaan Taemin. Dengan cepat Taemin menghampiri Key yang ada di depan kulkas dan mengambilnya dengan cepat.

“Kau bahkan tidak membiarkanku memeluk Seona sekali saja.” sindir Jonghyun seakan meminta Taemin agar membiarkannya memeluk dongsaengnya.

“Shireoyo! Anneyong!” pamit Taemin seraya menarik Seona keluar dari dorm setelah memakai alat penyamaran serta kunci mobil yang ada.

“Annyeong.” seru Seona seraya tersenyum dan melambai pada Jonghyun dan Key yang ikut membalasnya.

***

Sesekali Seona membetulkan letak kacamata hitamnya serta ikatan rambutnya dengan risih. Setelah turun dari mobil yang sudah di parkirkan di basement SM oleh Taemin. Seona segera keluar dari mobil sambil terus menunduk, saat Taemin turun ia segera meraih tangan Seona menggenggamnya erat dan mengunci mobilnya. Taemin terlihat begitu santai padahal Seona terus menunduk takut di awasi oleh karyawan atau stalker mereka, Taemin dan Seona, sedang berpegangan tangan. Saat lift sudah terbuka Seona segera masuk dan menekan tombol tutup dengan cepat.

“Kau kenapa Seo?” tanya Taemin terkekeh pelan saat melihat tingkah Seona.

“Ya! Oppa kenapa tidak memakai masker?” pekik Seona saat baru menyadari Taemin tidak memakai penyamarannya. “Kalau tadi mereka lihat lalu menyebarlauskan foto kita bagaimana!?”

“Mereka tidak mungkin melakukannya Seo, jika ketahuanpun apa boleh buat. AKu sudah pernah bilang bukan? Lambat laun mereka pasti akan tahu.” jawab Taemin seraya memasukkan tangannya ke saku hoodienya.

“Aish, tapikan—“

“Sudahlah sampai kapan kau akan terus protes?” keluh Taemin sambil keluar dari lift dan masuk ke studio. Seona yang mengikuti Taemin hanya terdiam dengan kesal, ia segera melepas kacamata yang di pakainya dan memasukkannya asal ke dalam tasnya.

Taemin meletakkan tasnya di dekat tape dan memilih lagu untuk berlatih. Ia merenggangkan sedikit otot tubuhnya tepat saat itu ia menangkap sosok Seona yang sedang asik memainkan handphonenya. Taemin berdecak pelan lalu mengulurkan tangannya kearah Seona.

“Wae?” Taemin mengambil handphone Seona dengan kasar dan memasukkannya ke dalam tas Seona.

“Berhubung hyung dan Krystal belum sampai, kau harus menemaniku berlatih dulu.” ucapnya dan tetap mengulurkan tangannya.

“Ne? Tapikan aku tidak tahu bagian Krystal.” protes Seona.

“Aku akan menggunakan lagu lain.” Dengan ragu Seona meraih tangan Taemin. Taemin menariknya ke tengah ruang studio itu.

Mereka mulai berusaha mendapatkan ritme lagu dan bergerak sebebas mungkin. Lagu yang diputar saat itu merupakan lagu ballad, walaupun begitu mereka tidak mendengar suara pintu yang berdecit mungkin karena mereka terlalu terhanyut dengan lagu serta gerakan mereka.

Sepasang lelaki dan perempuan yang berdiri di depan pintu itu hanya menonton mereka sambil melipat kedua tangannya di depan dada dan tersenyum. Awalnya ia berniat mengabadikan moment itu, tetapi entah karena apa ia mengurungkan niat tersebut. Mungkin ia tidak mau berkedip sedikitpun dan menghilangkan moment dimana 2 orang penari hebat sedang menari dengan bebas tanpa memikirkan kesalahan yang mereka buat.

Mengapa mereka membiarkan kedua penari ini terpisah?

 

Tobecontinue

 

Tbc di saat yang tidak tepat dan aneh -_- maafkan saya semuanyaa~ thanks for reading ^^
Anyway aku mereka cerita ini makin aneh ._. aku menerima semua kritikkan kalian kok ^^ hehehe