Tags

, , , , ,

Ring, Marriage, Artist: Time Machine [Chapter 8]

Title : Ring, Marriage, Artist

Author : taemfairy

Main Cast : Kim Seona, Lee Taemin

Support Cast : Kim Jongin aka Kai

Other Cast

Length : Chapter

Genre : Romantic, Family, Marriage Life

Rating : PG-15

Disclaimer : This plot belong to me and the cast belong to them self

Previous Chapter : Unpredictable [Chapter 1] | New Life [Chapter 2] | Not Fair [Chapter 3] | What!? [Chapter 4] | Who [Chapter 5] | The Truth Is [Chapter 6] | Taemin’s Time

Musik terus berputar dan suaranya memenuhi ruangan itu dengan lembut. Penari di dalam ruang tersebut terus mengikuti irama lagu tersebut sampai memasuki bagian akhir dari lagu tersebut. Si pria menarik si wanita ke dalam pelukannya seakan berusaha mencari gerakan yang tepat untuk mengakhiri tarian mereka. Wanita itu, Kim Seona, masih enggan untuk membuka matanya seakan-akan ia akan kehilangan ioamjinasinya saat ia membuka kedua matanya. Berbeda dengan Taemin yang sudah membuka kedua matanya tetapi pandangannya terfokus pada Seona yang kini berada di pelukannya.

Suara tepuk tangan terdengar oleh mereka saat lagu yang mereka putar berhenti. Seona dan Taemin langsung mengalihkan pandangannya dan menemukan 2 orang berdiri di depan pintu sambil bertepuk tangan.

“Seharusnya mereka membiarkan kalian menjadi pasangan untuk konser nanti. Itu akan lebih mudah untuk kita bukan? Tinggal memutarkan lagu serta mencari kostum untuk kalian dan membiarkan kalian langsung tampil di atas panggung.” Seona segera melepas pelukan Taemin dan berjalan mundur beberapa langkah.

“Sejak kapan kalian di sana?” tanya Taemin tanpa memedulikan ucapan wanita tadi.

“Tidak cukup lama, tetapi cukup untuk melihat penampilan kalian berdua tadi.” kali ini giliran pria yang menjawab. Ia meletakkan tasnya di dekat pintu dan diikuti oleh Krystal.

“Kalau begitu ayo kita berlatih lagi.”

“Hyung, beri aku istirahat sebentar.” pinta Taemin pada pelatihnya, Shin Jaewon. Pelatih Shin hanya mengangguk sekilas sebagai jawaban. Taemin meraih botol minumnya dan meneguknya dengan cepat lalu memberikannya pada Seona yang kini sudah duduk di sebelahnya.

“Gomawo.” Sahutnya sambil meneguk minumannya.

“Kita harus lebih sering menari bersama, bukan begitu?” tutur Taemin seraya meluruskan kakinya ke depan. Seona melirik sekilas kearah Taemin dan mengedikkan bahunya.

“Apa kita harus membuat studio di apartemen kita nanti?”

“Kurasa itu ide yang cukup bagus.” sahut Seona seraya memikirkan studio dengan penuh kaca dan speakers yang besar ada di apartemen mereka, seulas senyuman langsung terbentuk di wajah manis Seona.

“Kita akan merundingkannya lagi nanti.” Pelatih Shin menggerakkan jarinya kearah Taemin, seperti menandakan waktu istirahatnya sudah selesai.

Seona melipat silang kedua kakinya dan menaruh botol Taemin yang sedari tadi di pegangnya. Seona terkekeh kecil saat melihat Taemin yang lupa pada posisinya dan terus di omeli oleh pelatih Shin. Music bertempo cepat mulai mengisi ruangan tersebut.

Pelatih Shin menempelkan punggungnya pada kaca sebagai sandaran, ia berdiri tepat di depan dua penariyang mulai menarikan tarian mereka. Kedua mata Seona menangkap semua yang di lihatnya, saat dimana Taemin menggenggam tangan Krystal. Saat dimana Taemin mendekatkan dirinya pada Krystal sehingga menyisakan beberapa senti saja. Saat dimana jari lentik Krystal menyentuh pundak Taemin dengan ringan. Saat dimana…

Argh. Seharusnya aku tidak duduk disini seperti orang bodoh. Mengapa aku menuruti Taemin saat ia memintaku untuk menemaninya?

Tanpa disadari Seona mengepalkan kedua tangannya. Ia beranjak dari tempat dan melangkah dengan pelan kearah pintu. Seona mengangguk sekilas saat menyadari pelatih Shin melihat kearahnya.. Setelah berhasil keluar dengan cara mengendap, Seona menghelas nafas dengan kasar.

Seharusnya ia mengerti tuntutan Taemin dan Krystal sebagai sepasang penari. Lagipula bukankah ia juga melakukan hal yang sama dengan Kai? Kenapa ia harus kesal seperti tadi? Seona melihat ke lorong kanan kiri yang tampak sepi, ia memutuskan untuk berjalan sejenak. Setelah ia merasa cukup jauh dari studio tadi ia duduk di salah satu kursi panjang yang memang tersedia di setiap lorong gedung tersebut. Seona meremas ujung hoodienya lalu menghempuskan nafasnya sehingga menyentuh poninya sendiri.

“Seharusnya aku tinggal di apartemen saja.” Rutuk Seona lebih kepada dirinya sendiri sambil menundukkan kepalanya.

“Omo!” Seona sedikit terkejut saat melihat sebatang lollipop berwarna warni kini di hadapannya. Ia segera melihatpemilik tangan yang menyodorkannya permen kesukaannya itu.

“Jongin oppa!” pekik seona melihat Kai atau Jongin sedang berdiri di depannya sambil tersenyum manis, ia menggunakan jaket hitam serta dalaman putihnya serta celana traineenya.

“Sebenarnya aku merindukan panggilan itu darimu Seo.” ucap Kai seraya duduk di sebelah kanan Seona.

“Apa yang oppa lakukan disini?” tanya Seona sedikit antusias, mungkin karena palign tidak ia menemukan seseorang untuk berbicara.

“hanya kebetulan lewat disini.” jawab Jongin acuh, Seona memicingkan matanya melihat Jongin seperti berkata aku tidak percaya.

“Oh baiklah, aku serta member lain hanya latihan recording untuk album baru nanti. Hanya membagi lirik dan mencoba bagian masing-masing dan kebetulan aku sedang istirahat.” Seona mengangguk sekilas mendengar perkataan Jongin.

“Kau sendiri mengapa ada disini? Apa kau sudah membaik?”

“Aku menemai Taemin oppa berlatih, jika tahu aku akan diacuhkan lebih baik aku di rumah. Tentu saja sudah! Ngomong-ngomong terimakasih sudah mengantarku sampai di rumah kemarin.” ujar Seona seraya tersenyum manis, jongin mengangguk sekilas sambil mengacak poni Seona. Seona memberengutkan wajahnya kesal dan merapikan poninya kembali membuat jongin terkekeh dan ikut membantu Seona.

“Kau tidak mau permen ini?” tanya Jongin sambil menunjuk lollipop yang sedari tadi

“Eo ini untukku? Oppa masih mengingat permen ini?” Seona meraih lollipop yang disodorkan Jongin.

“Tentu saja itukan permen kesukaanmu. Kau ingat saat tiap kali kau marah atau sedih aku pasti akan selalu memberimu permen ini.” ucap Jongin dan memberikan senyum terbaiknya, sedangkan Seona menatap lekat pada lollipop yang dipegangnya.

Seorang yeoja berjalan di lorong sekolah, suara kakinya mengisi kekosongan lorong itu karena pada saat itu beberapa murid memang sudah pulang. Ia menghentakkan kakinya beberapa kali sambil bergumam seperti merutuk sesuatu. Ia mengertakkan pegangannya pada tali tas selempangnya sebagai pelampiasannya yang lain.

“Seona-ya!” panggil seorang namja dengan antusias. Ia bahkan meloncat ke depan Seona secara tiba-tiba, membuat Seona terhenti di tempatnya dan tidak terkejut sedikitpun.

“Wae?” sahut Seona galak.

“Ya! Kau ini kenapa? Aku hanya mengagetkanmu kenapa kau malah marah padaku?”

“Aku tidak marah padamu!” ujar Seona semakin menaikkan intonasinya.

“Aish, pasti terjadi sesuatu padamu. Kajja kita duduk di situ saja.”Jongin menuntun Seona agar duduk di salah satu kursi di taman milik sekolah mereka yang memang besar.

“Nah, sekarang katakana padaku apa yang membuatmu sekesal ini.” Jongin menatap wajah Seona yang masih kesal.

“Aku harus remedial matematika lagi, oppa.” teriak Seona kesal.

“Kau kan tahu aku paling benci mata pelajaran itu. Aku sudah belajar semalaman sampai tidak tidur dan membuatku harus memilikikantugn mata ini. Tetapi aku tetap mendapat nilai jelek.” rengek Seona sambil menunjukkan kantung matanya yang hitam.

“Kegagalan itu adalah keberhasilan yang tertunda Seo.” ujar Jongin berusaha bijak.

“Tapi aku selalu gagal!” pekik Seona samil menghentakkan kedua kakinya seperti anak kecil. Tepat saat Seona hendak membuka mulutnya kembali ia merasakan sesuatu mendarat di bibirnya. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali lalu mengambil benda yang ditempelkan kebibirnya oleh Jongin.

“Oppa selalu memperlakukanku seperti anak kecil.” rengek Seona berusaha menahan senyum saat melihat lollipop di tangannya sekarang.

“Aku tidak peduli kau memikirkan apa yang penting kau sudah tidak kesal lagi bukan? Lagipula kau memang terlihat seperti anak kecil.” sahut jongin seraya memleletkan lidahnya kearah Seona.

“Aku tidak seperti anak kecil, aku ini hanya seorang yeoja yang hendak bertumbuh. Lagipula oppa juga mengencani anak kecil ini kan?” balas Seona tidak mau kalah. Jongin tersenyum menanggapi perkataan Seona.

Seona tersenyum puas saat melihat Jongin tidak membalas perkataannya, Jongin yang merasa diperhatikkan kini menatap Seona yang masih tersenyum dan itu mampu membuat Jongin ikut tersenyum. Dengan cepat Jongin mendekatkan wajahnya kearah Seona dan mengecup bibir Seona.

“Itu yang tidak boleh dilupakan setelah aku member llipop itu bukan? Agar kau tidak semakin protes dan terus berceloteh sepanjang hari hanya untuk mengatakan hal yang sama.” Jongin masih tersenyum melihat Seona yang kini terdiam dan perlahan menundukkan wajahnya.

“Aku hanya membutuhkan lollipop ini.” protes Seona seraya mendorong bahu Jongin dan terkekeh pelan.

“Aku akan tetap melakukannya Seo dan lollipop itu akan kubawa bersama selamanya.” Kini Seona menatap mata Jongin dengan senyum manisnya. Jongin kembali mendekatkan tubuhnya keaqrah Seona dan meraih bibir itu kembali. Kali ini tangan kiri Jongin bergerak ke tengkuk Seona dan memperdalam ciuman mereka dan Seona mengikuti permainan Jongin sebelum akhirnya mereka memutuskan untuk pulang ke rumah mereka.

“Waeyo? Apa aku memberikan permen yang sudah basi?” tanya Jongin saat melihat Seona hanya menatap lolipopnya.

“Aniyo, aku hanya jadi teringat sesuatu.” aku Seona seraya mengalihkan pandangannya dari lollipop itu ke Jongin.

“Oppa, apa oppa selalu membawa lolipop ini kemana-mana.” tanya Seona sedikit ragu.

“Tentu! Kadang aku memberikannya pada member lain dan kadang aku memakannya sendiri.” sahut Jongin masih menatap Seona yang kini memainkan lollipopnya.

“Kau ini kenapa Seo? Kenapa kau terus melamun? Apa kau memikirkan sesuatu? Atau kau memiliki masalah dengan Taemin hyung?”

“A..aniyo.” jawab Seona sedikit terbata. “Aku hanya teringat saat kita bersama dulu.”

Jongin terkekeh pelan melihat tingkah Seona yang semakin asik memainkan lollipopnya dengan cara memutarnya.

“Apa kau masih ingat apa yang kulakukan setelah memberimu permen itu?” tanya Jongin seraya menggenggam tangan Seona denogan lembut.

“N…ne?” Seona mengerjapkan matanya beberapa kali, ia bahkan bisa merasakan degup jantungnya yang berdetak dengan cepat. Seketika kilatan kenangan dimana Jongin menciumnya dengan lembut saat mereka bersama terlewat begitu saja, seperti angin yang tiba-yiba meniup anak kecil rambutnya.

Tanpa sadar Seona memejamkan matanya perlahan saat melihat Jongin mulai mendekatinya. Ia bisa merasakan kembali nafas hangat yang menerpa wajahnya seperti yang pernah ia rasakan saat ia menduduki masa SMA-nya bersama Jongin. Mungkin ia harus mengakui bahwa ia merindukan masa itu, saat dimana ia bersama Jongin.

Seona semakin mengeratkan genggamannya yang bertautan dengan tangan Jongin, saat bibir hangat dan lembut Jongin menempel dengan bibir mungilnya. Bahkan Seona menahan nafasnya saat Jongin melumat pelan bibirnya, tangan kiri Seona bergerak naik menyentuh kerah baju Kai dan menarik kerah itu seakan ingin memperdalam ciuman itu.

Begitu pula dengan tangan kanan Jngin yang bergerak ke tengkuk Seona dan mulai menggigit kecil bibir Seona. Ia bahkan tidak memedulikan suara degup jantungnya yang berdebarbegitu cepat seperti yang pernah ia rasakan beberapa tahun yang lalu. Jongin terus melumat bibir Seona dan membuat Seona mengikuti permainan Jongin dan ikut membalas lumatan bibir Jongin.

Jongin menjauhkan wajahnya dengan Seona saat ia merasa nafasnya habis, Jongin tersenyum samar dan melihat wajah Seona. Seona melirik sekilas melihat wajah Jongin yang masih tersenyum melihat kearahnya. Seona menurunkan tangan kirinya yang masih berpegangan pada kerah Jongin dengan cepat.

Seona bisa mendengar kekehan Jongin, membuat yeoja itu mendorong pelan lengan Jongin walaupun gerakan itu tidak membuat Jongin bergerak sedikitpun. Seona memberengutkan wajahnya tanda tak suka, tetapi Jngin malah mengecup sekilas bibir Seona kembali membuat wanita itu mau tidak mau ikut tertawa pelan. Dan tawa itulah yang sukses membuat Jongin tersenyum lebar.

“Kauharis tahu berapa besar aku merindukan senyuman itu Seo.” ujar Jongin, kini ia memainkan jari-jari Seona dengan lembut.

“Bukan hanya itu, aku juga merindukanmu yang selalu berada disisiku dimana kau menjadi milikku seorang. Aku tahu ini terdengar egois tapi jujur aku sedikit cemburu pada Taemin hyung.” lanjut Jongin saat memainkan cicin pernikahan Seona yang melingkar manis di jari manis tangan kirinya.

“Aku… Sebenarnya aku juga merindukan saat bersama oppa.” aku Seona seraya menatap Jongin.

“Walaupun aku tahu ini tidak mungkin, tapi Seona-ya aku ingin kita kembali merajut ikatan kita. Aku tidak peduli dengan statusmu sebagai istri Taemin hyung, kumohon kau maukan melakukan itu kembali?” Seona menggigit keras bibir bawahnya, kenangan yang pernah ia rajut dengan Taemin belakangan ini terus menghantuinya.

“Mianhae oppa. Aku–”

“Gwaenchana.” potong Jongin cepat. “Abaikan perkataanku tadi, sepertinya aku mulai melantur.” ucapnya seraya melepas genggamannya dan mengacak rambutnya dengan kasar. Sedangkan Seona menatap Jongin dengan tatapan meminta maaf.

“Seona-ya!” Seona menoleh ke belakang dan melihat seorang lelaki tengah menghampirinya dengan nafas tersengal.

“Taemin oppa!” seru Seona dan segera menghampiri Taemin yang terlihat kelelahan. “Oppa sudah selesai?”

“Aniyo, hyung memberiku istirahat sejenak dan aku segera mencarimu. Mengapa kau tidak memberitahuku dulu. Kau tahu aku sangat khawatir dan mencarimu kemana-mana dan kau juga tidak membawa handphonemu.” tutur Taemin sedikit kesal dan khawatir.

“Mianhae, aku lupa membawa handphoneku, lagula aku bosan jika hanya harus melihat kalian menari bersama.” sahut Seona seraya menekankan intonasinya pada akhir kata.

“Aish kau ini.” tangan Taemin terulur mengacak poni Seona membuat yeoja di hadapannya menjulurkan lidahnya.

“Oh, Jongin-ah! Kau pasti menemani Seonakan?” seru Taemin begitu menyadari keberadaan Jongin yang masih duduk di tempatnya.

“Hyung! Ne, tentu saja kebetulan aku dan member yang lain sedang recording.” sahut Jongin ramah, sedangkan Taemin mengangguk sekilas tanda mengerti.

“Aku harus kembali ke studio, Seo kau mau ikut?” tutur Taemin.

“Oppa belum selesai?” tanya Seona dengan raut sedihnya. Taemin tersenyum dan menggeleng pelan.

“Kalau beitu aku ikut Jongin oppa dulu saja, setidaknya aku akan mempunyai teman daripada hanya melihat kalian menari.” sahut Seona seraya menoleh kearah Jongin.

“Baiklah, aku akan menghubungi Jongin saja jika aku sudah selesai. Jongin-ah, aku titip Seona ya.” ucap Taemin seraya menuk pelan pundak Jongin yang mengangguk.

“Annyeong.” sahut Taemin seraya mengecup kening Seona dan melambaikan tangannya.Seona dan Jongin ikut melambaikan tangannya walaupun Taemin sudah tidak terlihat oleh mereka.

“Bagaimana jika aku mengajakmu bertemu dengan member lain?” tanya Jongin seraya memasukkan kedua tangannya kedalam saku.

“Boleh!” Seona menganggu setuju. Ia sedikit terkesiap saat merasakan tangan besar dan hangat milik Jongin menautkan jari mereka.

“Seona-ya, aku tahu ini tidak masuk akal. Tapi untuk kali ini saja bolehkah kita menjadi sepasang kekasih walaupun hanya beberapa jam? Aku janji setelah Taemin hyung memintamu kembali ke studio aku akam menganggap tidak terjadi apapun. Maksudku aku akan membiakanmu memikirkan apa yang terbaik untukmu.” Seona tampak berpikir sejenak sebelum akhirnya sebuah senyuman melengkung di wajah Jongin dengan sempurna.

***

Dengan senyuman yang terus merekah di wajah Jongin dan Seona, mereka memasuki sebuah ruangan yang isa di bilang cukup besar. Ruangan itu di bagi dua dengan kaca yang besar. Ruangan itu lengkap dengan peralatan recording yang lengkap serta sofa di dekat pintu.

“Oh, kau sudah kembali? Annyeong Seona-ya.” seru Suho sang leader EXO-K dengan ramah. Ia duduk di sofa dengan santai bersama beberapa member lainnya.

“Annyeonghaseyo.” sqpa Seona ramah seraya membungkukkan badannya dengan sopan. Seona bisa melihat Kyungsoo serta Baekhyun yang sedang bernyanyi bersama di ruangan recording, sehingga mereka tidak menyadari keberadaan Seona dan Jongin.

“Apa kalian sedang recording untuk album baru?” tanya Seona seraya duduk di sofa bersama Jongin, bahkan sedari tadi Jongin tidak mau melepaskan genggamannya dari Seona.

“Tidak kami hanya sedang checksound dan mencocokkan suara dengan part masing-masing.” jawab Chanyeol yang kini memainkan botol minumnya dengan senyuman khasnya. Seona hanya mengangguk sekilas.

“Oh! Bukankah itu lollipop yang di ambil Jongin sebelum keluar dengan terburu-buru.” tukas Sehun ketika melihat lollipop yang sedari tadi di pegang Seona dengan tangannya yang lain.

“Ne?” sahut Seona sambil mengerjapkan matanya beberapa kali.

“Sudahlah Sehun-ah.” sela Jongin.

“Kau tidak tahu, saat ia keluar dan istirahat tiba-tiba ia masuk kembali dengan cepat. Ia bahkan membuka pintu dengan kasar dan membiat kegaduhan hanya mencari lollipop itu di tasnya.” ujarnya dengan nada mencibir Jongin.

“Jinjja?” tanya Seona takjub seraya mengerjapkan matanya beberapa kali.

“Geurom! Dia bahkan tersenyum puas saat menemukan permen itu.” sahut Chanyeol menunjuk permen yang di pegang Seona

“Aish! Ya! Kalian ini!” pekik Jongin kesal menunjuk Sehun dan Chanyeol bergantian, sedangkan yang di tnjuk hanya bisa tertawa puas.

“Lebih baik kita pergi dari sini, kajja.” ujar Jngin mulai kesal dan menarik Seona agar segera berdiri.

“Tapi aku belum menyapa Baekhyun oppa dam Kyungsoo oppa.” rengek Seona saat ia berhasil menahan Jongin sehingga Jngin melihat kearahnya.

“Nanti Suho hyung akan menyampaikannya, benarkan hyung?” pinta Jongin pada hyung tertuanya. Suho hanya mengangguk sekilas tanda setuju, setelah itu Jongin kembali menarik tangan Seona agar segera pergi dari ruangan itu.

“Annyeong!” ujar Seona cepat sambil melambaikan tangannya pada Sehun, Chanyeol, dan Suho.

***

Seona mengikuti langkah kaki Jngin yang lebar seraya menundukkan kepalanya, saat ia mulai menapakkan kakinya ke tempat yang lebih tinggi Seona menahan tangan Jongin yang terus menggenggamnya.

“Oppa mau membawaku kemana?” tanyaSeona pada akhirnya setelah ia mendongakkan kepalanya menatap Jongin.

“Ke atap.” jawab Jngin sedikit angkuh lalu melanjutkan kembali langkah kakinya yang sempat tertunda.

Seona merutuk pelan dalam hatinya saat mendengar jawaban Jongin. Mengapa tiba-tiba Jongin kesal padanya? Jika ia masih kesal pada Chanyeol dan Sehun tidak seharusnya ia melampiaskannya pada Seona bukan?

Rutukkan Seona sontak berhenti saat ia mendengar suara pintu terbuka dan merasakan hembusan angin yang menerpa lembut di wajahnya. Sontak apa yang iaikirkan sedaritadi menghilang begitu saja, tanpa sadar ia melepaskan genggaman tangan Jongin dan Seona merentangkan kedua tangannya dengan lebar.

Ia menutup kedua matanya dan menghirup udara sedalam-dalamnya. Seulas senyuman terukir di wajahnya, sudah berapa lama ia tidak merasakan hal seperti ini?

“Kau suka? Sepertinya sudah lama kau tidak merasakan udara bebas Seo.” suara Jongin mengusik ketentraman Seona. Bukannya marah, Seona justru menghadap Jngin sambil tersenyum lebar.

“Tentu saja! Seingatku–”

“Terakhir kali kulakukan ini saat aku berada di bangku SMA. Bukankah itu yang inggin kau katakan?” tebak Jngin seraya memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya.

“Bingo!” ujar Seona sambil menunjuk Jngin dengan salah satu jarinya dan tertawa senang.

Seona berjalan pelan untuk melihat pemandangan di bawah gedung yang cukup tinggi ini. Ia menggenggam erat pada penyangga itu sambil tersenyum. Jongin mengikuti Seona dan berdiri di samping wanita itu.

“Seharusnya oppa membiarkanku tetap di ruangan itu.” ujar Seona pelan tapa melihat kearah Jongin. berbeda dengan Jngin yang sekarang melihat kearah Seona seraya mengernyitkan alisnya.

“Aku sudah lama tidak berkumpul dengan mereka, aku merindukan mereka. Apalagi Kyungsoo oppa dan Sehun. Oppakan tahu dulu saat masih sekolah aku paling dekat dengan Sehun karena kami sekelas, tapi kau malah menyuruhku cepat pergi dari sana.” ucap Seona sedikit murung.

“Mian.”hanya itu yang bisa diucapakan Jongin pada saat itu sambil mengalihkan perhatiannya ke depan dimana banyak mobil dan pejalan kaki yang berlalu lalang di bawah gedung itu.

Seona terkekeh pelan dan mengangguk sekilas, setelah itu mereka terjebak dalam kesunyian entah memikirkan sesuatu atau hanya menikmati angin yang berhembus segar. Sesekali Jongin melirik kearah Seona yang terlihat begitu menikmati pemandangan.

“Apa yang ingin oppa tanyakan?” Jongin tersontak pelan, sepertinya Seona menyadari jika ia terus diperhatikan oleh Jongin sedaritadi. Jongin membalikkan badannya sehingga punggungnya bisa bersender pada tiang penyangga.

“Jika saja kau di suruh untuk memilih di antara aku dan Taemin hyung…” ia terhenti sejenak seakan memikirkan kepastian apakah ia harus menanyakan hal ini atau tidak. “Siapa yang akan kau pilih?” Jongin menyelesaikan kalimatnya dengan hembusan nafasnya yang berat.

“Mungkin aku akan mengganti pertanyaannya menjadi lebih mudah mungkin.” tukas Jongin saat tidak mendapat respon apapun dari Seona.

“Apa kau sudah menyukai Taemin hyung?”

Tobecontinue…